Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) memperluas jangkauan pelatihan dan sertifikasi kompetensi. Melalui UPT Pengembangan Teknis dan Keterampilan Kejuruan (PTKK), program vokasi ini kini menyasar para guru Sekolah Luar Biasa (SLB).
Sebanyak 45 guru SLB Negeri mengikuti sertifikasi bidang tata busana, tata boga, dan kecantikan. Selain itu, 15 guru SMK mendalami teknik pendingin dan tata udara. Agenda ini berlangsung pada 15-22 April 2026.
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai menilai fasilitas UPT PTKK harus dioptimalkan. Menurutnya, sarana dan peralatan yang tersedia sudah sangat modern untuk mendukung pengembangan kemampuan praktik para tenaga pendidik di Jatim.
Aries menginginkan pusat pengembangan ini tidak terbatas bagi siswa SMK saja. Ia mendorong guru SLB yang berlatar belakang akademik untuk memperkuat kemampuan teknisnya demi kemandirian siswa berkebutuhan khusus.
“Fasilitas di UPT PTKK ini sangat lengkap dan canggih. Kami ingin ini menjadi pusat pengembangan kompetensi bagi guru, termasuk guru SLB,” tuturnya dikutip Rabu (22/4/2025).
Pelibatan guru SLB dianggap penting agar mereka mampu membekali siswa dengan keterampilan kerja. Langkah ini diharapkan mampu menghubungkan guru dengan ekosistem vokasi yang mumpuni di lingkungan pendidikan daerah.
“Kami ingin menghubungkan guru SLB dengan ekosistem vokasi di PTKK, sehingga mereka bisa mendampingi siswa hingga siap kerja atau berwirausaha,” tambah Aries.
Ia juga menginstruksikan UPT PTKK menjalin kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Sinergi ini akan mendukung Program Terapan Ekonomi Guru (PROTEG) bagi para guru honorer di Jatim.
“Nantinya orang akan melihat manfaat UPT PTKK yang memiliki kolaborasi dalam pengembangan ilmu dan kompetensi vokasi bagi dunia pendidikan,” katanya.
Guru SLBN Sumbang Bojonegoro Nugroho merasa pelatihan ini sangat membantu kapasitas pengajarnya. Selama tujuh hari, ia mendalami keterampilan pembuatan roti dan kue atau pastry and bakery di Surabaya.
“Ini pengalaman pertama kami mengikuti pelatihan. Banyak ilmu yang bisa langsung dipraktikkan ke siswa, terutama di bidang pastry dan bakery,” ungkap Nugroho.
Nugroho mengakui keterbatasan sarana praktik di sekolah sering menjadi kendala utama pembelajaran. Namun, ilmu baru ini akan dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa berkebutuhan khusus.
“Ilmu yang kami dapatkan di sini akan kami modifikasi dan implementasikan ke siswa. Mereka punya kesempatan dan daya saing yang sama,” pungkasnya. [ipl/but]






