Kediri (beritajatim.com) – Langkah strategis diambil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri dalam memperluas cakrawala karier pemuda daerah ke kancah global.
Bertempat di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG) pada Rabu (22/4/2026), Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Mohamad Solikin, memimpin seremoni pelepasan 96 peserta Pelatihan Daerah (Pelatda) Magang Jepang Tahap I Angkatan 388.
Puluhan peserta yang telah melewati seleksi ketat ini dipersiapkan untuk melaju ke tahapan Pelatihan Nasional (Pelatnas) di Bekasi sebelum akhirnya diberangkatkan menuju Negeri Sakura melalui kerja sama dengan International Manpower (IM) Japan.
Solikin menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan peluang emas bagi para pemuda untuk mengasah kompetensi teknis sekaligus membawa misi diplomasi budaya dan etos kerja.
Mengenai jadwal keberangkatan menuju pusat pelatihan kementerian, Mohamad Solikin memberikan gambaran mengenai prosedur teknis yang akan dilalui para peserta di Jawa Barat.
“Tahapan berikutnya akan pelatnas nanti. Mereka nanti harus masuk pelatnas, waktunya akan menunggu nanti dari kementerian. Nanti dari IM tadi sudah siap, Puslatnya di Bekasi,” jelasnya.
Selain kesiapan teknis, Sekda Kediri tersebut menitikberatkan pentingnya menjaga integritas selama berada di luar negeri, mengingat rekam jejak pekerja migran Indonesia yang sudah dikenal sangat positif di Jepang.
“Yang disampaikan oleh Sensei tadi, bahwa Indonesia memiliki reputasi yang sangat baik ketika kita bekerja di Jepang. Ini adalah modal yang sangat besar, kepercayaan sangat tinggi dan itu harus kita pertahankan bersama-sama,” ujarnya.
Dalam era digitalisasi saat ini, Solikin juga mewanti-wanti para peserta untuk lebih bijak dalam bersikap, terutama saat menghadapi kendala di lingkungan kerja agar tidak terjadi konflik yang merugikan karier maupun citra daerah.
“Ini harus disiapkan sejak awal, siap mental, siap fisik, kemudian juga kesiapan bahasa, termasuk dalam hal menjaga diri, terutama penggunaan media sosial. Jangan-jangan nanti di tempat kerja mereka ada masalah, langsung di-blow up ke media sosial, enggak dikomunikasikan ke atasannya, ke tim kerjanya atau ke perusahaan, ini bisa jadi masalah baru,” terangnya.
Lebih jauh, Pemkab Kediri melihat program magang ini sebagai instrumen efektif dalam menekan angka pengangguran lokal. Berdasarkan data terbaru, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Kediri berhasil ditekan hingga ke angka 4,71 persen, sebuah penurunan signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang berada di kisaran 5,4 persen.
Orientasi program ini tidak hanya berhenti pada penyerapan tenaga kerja, melainkan juga pada pembentukan karakter kewirausahaan agar setelah kontrak berakhir, mereka mampu berkontribusi membangun ekonomi di tanah air.
“Manfaatkanlah program ini sebagai kesempatan emas. Bukan sekadar pekerjaan, tapi wadah untuk meningkatkan keterampilan teknis dan kemampuan bahasa, serta yang nantinya akan menjadi modal berharga bagi masa depan kalian,” tandas Solikin.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kediri Ibnu Imad, menambahkan bahwa dari 104 pendaftar awal yang mengikuti rekrutmen sejak September, hanya 96 orang yang berhasil lolos setelah melalui evaluasi dan pelatihan intensif selama 70 hari.
“Awalnya 104 peserta, setelah melalui beberapa tahapan evaluasi, tersisa 96 peserta yang hari ini dilepas” katanya.
Hingga saat ini, proses pencocokan dengan perusahaan-perusahaan di Jepang terus berjalan secara dinamis mengikuti standar kesehatan dan kebutuhan pemberi kerja.
“Karena tahapannya gini, tahap 1, 2, 3 dibada MCU, setelah itu wawancara dengan perusahaan. Kalau perusahaan sudah cocok, maka dia langsung bisa menandatangani kontrak dan itu jumlahnya total sampai saat ini 41,” jelas Ibnu Imad.
Sektor pekerjaan yang dituju pun kini semakin variatif, mencakup konstruksi, infrastruktur, hingga sektor pertanian yang mulai dibuka tahun ini. Perwakilan International Manpower Japan, Kumagai Sensei, mencatat bahwa saat ini terdapat sekitar 6.800 peserta asal Indonesia yang aktif bekerja di Jepang.
“Peserta dari Indonesia memiliki reputasi yang sangat baik dibandingkan negara lain. Kunci utamanya adalah kedisiplinan dan etos kerja,” trangnya.
Motivasi tinggi juga terpancar dari para peserta, salah satunya Ramli Kurniawan asal Ponorogo yang memandang program ini sebagai pintu gerbang kesejahteraan dan pengalaman hidup yang tak ternilai.
“Selain pengalaman, gaji di Jepang juga lebih menjanjikan. Memang biaya hidup di sana lebih tinggi, tapi itu tergantung bagaimana kita mengelola penghasilan,” ungkapnya.
Rangkaian program magang yang berlangsung antara 3 hingga 5 tahun ini diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang lebih kompetitif dan memiliki daya saing global. [ADV PKP/nm]






