Ngawi (beritajatim.com) — Minyak goreng bersubsidi merek Minyakita mulai langka di pasar tradisional wilayah Ngawi, Jawa Timur. Selain sulit ditemukan, harga jual di tingkat pedagang juga melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Pantauan pada Senin (20/4/2026) pagi, ketersediaan Minyakita di sejumlah pasar tradisional terpantau menipis bahkan nyaris tidak ada. Kelangkaan ini disebut telah terjadi selama sekitar dua bulan terakhir.
Kalaupun tersedia, harga Minyakita dijual hingga Rp22.000 per liter, melampaui HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Para pedagang mengaku kelangkaan terjadi akibat tersendatnya pasokan dari distributor. Mereka telah berupaya mencari stok ke sejumlah distributor, namun barang tetap sulit diperoleh.
“Minyakita sulit didapat sudah dua bulan terakhir. Kalaupun ada harganya naik sampai Rp22 ribu, gula juga naik,” ujar Hana, salah satu pedagang.
Kondisi serupa terjadi pada minyak goreng kemasan non-subsidi. Harganya ikut mengalami kenaikan menjadi sekitar Rp22.000 per 800 mililiter, dari sebelumnya Rp18.000.
“Yang langka semua minyak goreng kemasan, termasuk Minyakita,” kata pedagang lainnya, Bagus Widiantoro.
Tak hanya minyak kemasan, harga minyak goreng curah juga mengalami lonjakan menjadi Rp23.000 per liter dari sebelumnya Rp18.000.
Selain itu, kenaikan harga turut terjadi pada gula pasir. Di pasar tradisional, komoditas tersebut kini dijual Rp18.500 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp16.000 per kilogram.
Sementara itu, harga sejumlah komoditas sayuran relatif stabil dan tidak mengalami kenaikan signifikan. [fiq/but]






