Surabaya (beritajatim.com) – Anggota DPRD Surabaya Ais Shafiyah Asfar mendorong penguatan Kampung Pancasila agar diimplementasikan berbasis kebutuhan warga sekaligus memperkuat peran komunitas di tingkat RW. Menurut dia, pendekatan ini menjadi penting agar program tidak berhenti pada struktur, tetapi benar-benar menghadirkan solusi nyata di tengah masyarakat.
“Kampung Pancasila harus hidup sebagai sistem sosial, bukan sekadar program. Ukurannya bukan pada jumlah pendamping, tetapi pada seberapa jauh masalah warga bisa diselesaikan secara nyata,” ujar Ning Ais sapaan lekatnya, Senin (20/4/2026).
Ning Ais mengatakan program Kampung Pancasila dirancang sebagai wadah kolaboratif untuk menyelesaikan persoalan sosial mulai dari keamanan, kesejahteraan hingga perlindungan kelompok rentan. Pendekatan di tingkat RW dapat mempercepat respons sekaligus memperkuat koordinasi antarwarga.
“Yang perlu diperkuat adalah peran warganya. Pendamping seharusnya menjadi fasilitator, bukan aktor utama. Justru warga yang harus didorong menjadi subjek dalam menyelesaikan persoalannya sendiri,” tutur Ketua Harian DPP PKB ini.
Ning Ais menjelaskan setiap wilayah memiliki karakter dan tantangan yang berbeda. Karena itu, implementasi program harus disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat di masing-masing lingkungan.
“Pendekatan tidak bisa seragam. Harus berbasis data dan kebutuhan di lapangan agar solusi yang dihasilkan tepat sasaran,” ujar Anggota Komisi D DPRD Surabaya ini.
Selain itu, Ning Ais juga mendorong penguatan program melalui pemetaan masalah berbasis data serta integrasi lintas sektor. Langkah ini, kata dia, penting agar penanganan persoalan tidak berjalan parsial dan mampu memberikan hasil yang optimal.
“Program harus terintegrasi, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semua harus saling mendukung agar hasilnya maksimal bagi warga,” katanya.
Selain itu, Ning Ais menyebut pentingnya Kampung Pancasila dalam menjangkau isu-isu krusial seperti kemiskinan, anak putus sekolah, serta perlindungan perempuan dan anak. Program ini memiliki potensi besar jika dijalankan secara responsif terhadap kondisi sosial di lapangan.
“Jangan sampai ini hanya menjadi program simbolik. Harus ada ukuran yang jelas—apakah kemiskinan berkurang, apakah anak-anak lebih terlindungi, apakah solidaritas warga meningkat. Itu yang harus dilihat,” tegasnya.
Ning Ais juga berharap penguatan Kampung Pancasila dapat menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang tangguh dan inklusif. Peran aktif komunitas menjadi kunci dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
“Kalau komunitasnya kuat dan terlibat aktif, Kampung Pancasila bisa menjadi ruang solusi yang nyata bagi warga di tingkat paling bawah,” pungkasnya.[asg/aje]






