Jakarta (beritajatim.com) – Sebanyak 160 Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini berada di Yordania meminta pemerintah segera mengambil langkah evakuasi. Mereka mengaku mengalami tekanan psikologis akibat situasi keamanan yang tidak menentu di kawasan tersebut.
Salah satu peserta tur ziarah, Dwie Winarsih, mengungkapkan bahwa kondisi di Yordania saat ini cukup mengganggu, terutama bagi rombongan yang didominasi lanjut usia.
“Salam, saat ini di Yordania hanya dilintasi rudal dan airspace yang cukup mengganggu psikologis kami. Apalagi peserta grup kami banyak orang tua dan sudah membutuhkan obat tertentu di keseharian mereka,” ujar Dwie, Rabu (4/3/2026).
Minta Evakuasi Preventif Sebelum Ada Korban
Dwie menjelaskan, dirinya telah dihubungi pihak KBRI Amman, termasuk seorang pejabat bernama Nur Ibrahim. Namun, menurutnya, KBRI belum dapat melakukan evakuasi tanpa instruksi langsung dari pemerintah pusat.
“Kemarin saya ditelepon KBRI Amman dengan Pak Nur Ibrahim. Disampaikan bahwa KBRI tidak berkapasitas melakukan evakuasi terhadap kami. Dibutuhkan perintah pemerintah pusat mengeluarkan instruksi evakuasi, baru KBRI bisa lakukan pengaturan dan itu juga tidak bisa cepat,” katanya.
Ia berharap pemerintah mengambil langkah preventif, bukan menunggu hingga kondisi memburuk atau jatuh korban.
“Saya tidak begitu paham pertimbangan pemerintah apakah evakuasi bersifat preventif atau reaktif. Tapi kami berharap langkah preventif yang dilakukan. Evakuasi kami selagi bisa dan belum jatuh korban,” tegasnya.
Suara Dentuman dan Sirene Ambulans
Menurut Dwie, situasi keamanan turut memengaruhi kondisi mental para peserta tur. Ia mengaku setiap pagi mendengar suara dentuman yang diiringi sirene ambulans.
“Kondisi bangun pagi kami dengar suara dentuman diiringi dengan sirine ambulans. Sepertinya kalau lebih lama lagi akan sangat berpengaruh ke psikologis kami semua,” ungkapnya.
Ia juga mengkhawatirkan kemungkinan eskalasi serangan, terutama mengingat pengalaman sebelumnya.
“Kami khawatir seperti Sabtu lalu, di hari Sabat bagi umat Yahudi, serangan-serangan dilancarkan. Jika terjadi lagi, pastinya akan lebih parah dari sebelumnya,” ujarnya.
160 WNI Masih Berkomunikasi
Dwie menyebutkan, total WNI yang masih berada di Yordania dan berkomunikasi dalam kelompoknya berjumlah sekitar 160 orang. Mereka merupakan peserta tur ziarah Holyland sejak 20 Februari 2026 bersama agen perjalanan Renata Tour.
“Kami sedang tur ziarah Holyland sejak 20 Februari dengan Renata Tour. Kami peserta,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak tur telah mengupayakan kepulangan, namun kondisi penerbangan belum memungkinkan. Maskapai yang digunakan rombongan tersebut adalah Emirates.
“Tour mengusahakan kepulangan kami, tapi situasi tidak memungkinkan. Warga negara lain sudah dijemput oleh pesawat negaranya. Kami berharap pemerintah Indonesia bisa evakuasi kami sebelum situasi lebih buruk dan jatuh korban,” katanya.
Terkendala Biaya dan Tanggung Jawab di Tanah Air
Meski KBRI menilai situasi di Yordania masih aman, Dwie menilai persoalan mereka tidak semata soal keamanan. Ia menegaskan, sebagian besar dari mereka bukan warga yang menetap di Yordania sehingga semakin lama bertahan akan menambah beban biaya dan tanggung jawab di Indonesia.
“KBRI Amman sangat yakin situasi di Yordania masih aman. Namun itu bukan satu-satunya masalah kami. Kami bukan WNI yang tinggal di Yordania. Makin lama di sini tentu membutuhkan biaya untuk kehidupan sehari-hari. Ada keluarga yang khawatir di tanah air dan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kami,” ujarnya.
Ia mengaku kesulitan menjelaskan urgensi kondisi tersebut kepada pemerintah.
“Kami tidak tahu lagi bagaimana memberikan penjelasan atas kebutuhan kami yang kami rasa mendesak, namun di mata pemerintah urgensi itu belum ada,” tuturnya.
Dwie bersama rombongan berharap dukungan media agar pemerintah segera mengambil langkah evakuasi sebelum situasi semakin memburuk.
“Jadi kami mohon bantuan teman-teman media untuk menyuarakan agar pemerintah mengambil langkah preventif dan melakukan evakuasi terhadap kami sebelum kami jadi korban,” pungkasnya. (ted)






