Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menerima laporan adanya kasus stunting saat reses di kawasan Gubeng Masjid, Surabaya. Temuan ini menjadi ironi dan perhatian karena lokasi tersebut berada di pusat kota dan hanya berjarak beberapa kilometer dari Balai Kota Surabaya.
“Di sini kami mendapatkan banyak aspirasi, khususnya tentang butuhnya peningkatan kualitas pelayanan jaminan kesehatan pada masyarakat kita,” ujar Cahyo usai reses, Sabtu (14/2/2026).
Berdasarkan data yang disampaikan Kader Surabaya Hebat (KSH), di wilayah tersebut terdapat tiga anak masuk kategori stunting. Selain itu, delapan anak lainnya tercatat dalam kondisi prastunting serta ada ibu hamil yang berpotensi mengalami risiko kesehatan.
“Di pusat kota Surabaya masih ditemukan tiga anak stunting dan delapan prastunting. Ini tentu menjadi keprihatinan kami,” kata Ketua DPC Gerindra Surabaya.
Cahyo menyebut kondisi tersebut perlu segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret dari pemerintah kota. Dia berharap Dinas Kesehatan bersama pihak terkait meningkatkan monitoring dan evaluasi secara berkala.
“Kami berharap Pemkot Surabaya melalui Dinas Kesehatan terus meningkatkan monitoring dan evaluasi kondisi riil di lapangan,” tutur dia.
Dia juga meminta penguatan koordinasi antara KSH, ketua RW, ketua RT, kelurahan, hingga Puskesmas. Menurutnya, pemantauan detail dan pendampingan langsung menjadi kunci dalam menekan angka stunting.
“Harus betul-betul dikawal, koordinasi dengan KSH, RW, RT, kelurahan, dan Puskesmas agar kondisi masyarakat terpantau secara konkret,” tegasnya.
Cahyo mengakui persoalan kesehatan tidak hanya terjadi di wilayah pinggiran. Dia menilai pusat kota pun membutuhkan perhatian serius dalam layanan kesehatan dasar.
“Untuk mencari permasalahan kesehatan tidak harus di pelosok. Di pusat kota pun ada masyarakat yang berharap pelayanan kesehatan lebih baik dan kualitas hidup yang lebih terjamin,” ujarnya.
Cahyo menambahkan perlu kolaborasi seluruh pihak untuk menghapus stunting di Surabaya. Dia mendorong kerja sama pemerintah, tokoh masyarakat, media, serta berbagai unsur dalam skema pentahelix.
“Gotong royong semua pihak harus digalakkan agar stunting benar-benar hilang dari Kota Surabaya. Apalagi ada data yang menyebut hampir zero stunting, tapi di sini masih ditemukan kasus. Ini perlu kita sinkronkan kembali,” katanya.
Dia menegaskan pemerintah kota perlu melakukan langkah cepat dan terukur. Dengan kemampuan fiskal dan potensi ekonomi yang dimiliki Surabaya, dia berharap kasus stunting dapat ditekan hingga tuntas.
“Kami meminta pemerintah kota segera melakukan tindakan konkret dan akseleratif agar stunting benar-benar hilang dari Surabaya,” pungkasnya.[asg/aje]






