Blitar (beritajatim.com) – Blitar menjadi salah satu daerah produsen sambal pecel di Jawa Timur. Berbeda dengan Kediri dan Madiun, sambal pecel khas Blitar memiliki cita rasa tersendiri yakni gurih, manis, pedas dengan tekstur lembut.
Di Bumi Bung Karno, ada belasan warung sambal pecel yang telah melegenda. Salah satunya adalah warung Pecel Lambe Dower yang ada di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar.
Warung ini telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu di Bumi Penataran sejak lebih dari enam dekade silam. Berdiri sejak 1960, warung ini bukan hanya soal mengenyangkan perut, melainkan tentang sebuah konsistensi rasa yang diwariskan lintas generasi.
“Saya ini generasi keempat, dulu warung nasi pecel ini berada di rumah yang ada di Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar,” ungkap Jiono pada Senin (26/1/2026).
Sambal Pecel Dower khas Blitar adalah bumbu pecel tradisional dengan cita rasa sangat pedas, beraroma kencur kuat, dan bercita rasa manis-gurih. Bahan utamanya meliputi kacang tanah sangrai, cabai rawit melimpah, gula merah, kencur, daun jeruk, dan asam jawa. Pengolahan dilakukan dengan menggoreng/menyangrai bahan lalu menghaluskannya hingga berminyak.
Sambal Pecel Dower disajikan dengan sayuran dan kecambah rebus, tempe, tahu, dan peyek. Cita rasa khasnya terletak pada penggunaan kencur yang terasa kuat dan pedas maksimal dari cabai rawit.
“Kalau konsumen dari berbagai wilayah di Jawa Timur, rata-rata perhari ada 800 porsi yang kami jual,” bebernya.
Di tengah badai inflasi, Lambe Dower tetap berpijak di bumi. Dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp11 ribu saja, seporsi nasi pecel hangat sudah tersaji lengkap dengan rempeyek udang yang renyah dan tidak pelit bumbu.
Konsistensi rasa yang tetap dijaga oleh warung Lambe Dower membuat para pelanggan tetap datang. Apalagi rasa sambal pecel di warung ini sangat khas dan tak bisa dijumpai di Madiun dan Kediri.
“Pedasnya beda. Bukan cuma pedas di lidah, tapi nendang sampai ke tenggorokan, tapi anehnya bikin ketagihan,” ujar Tremal, pelanggan.
Warung Pecel Lambe Dower menjadi pilihan utama warga untuk sarapan. Tempat makan kuliner legendaris ini sudah buka sejak pukul 07.00 WIB.
“Ini adalah tentang menghargai warisan. Sejak 1960, rasa kacangnya tidak berubah, pedasnya tetap jujur,” tegasnya. [owi/beq]







