Magetan (beritajatim.com) – Keluhan wisatawan terkait dugaan praktik getok harga di kawasan wisata Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, kembali mencuat di media sosial. Kali ini, unggahan berupa foto nota pembayaran warung kopi dengan nilai yang dinilai tidak wajar memicu sorotan dan perdebatan warganet.
Unggahan tersebut dibagikan akun bernama Agus Suyono, yang menuliskan pengalaman pribadinya saat singgah di salah satu warung kopi di kawasan wisata Telaga Sarangan. Dalam keterangannya, Agus menyebut tetap membayar pesanan, namun mengaku kapok dan menilai harga yang dipatok jauh di atas kewajaran.
“Wkwkwkwkwk tetep tak bayar bu, tapi sok tak baleni lagi nak pas ke Tlogo Sarangan tp dewekan wae ora gowo pasukan…,” tulis Agus dalam unggahannya, yang juga menyertakan nomor telepon pribadinya.
Dalam unggahan tersebut, Agus turut melampirkan foto nota pembelian dengan total pembayaran mencapai Rp586.000. Berdasarkan rincian di nota, pesanan yang dibeli antara lain minuman jahe susu, kopi instan, mi instan, bakso, hingga teh panas, dengan jumlah sebagian besar lebih dari satu gelas.
Berikut rincian yang tertulis dalam nota pembelian:
- Jahe susu (11 gelas) – Rp220.000
- Jahe – Rp15.000
- Good Day coklat (11 gelas) – Rp165.000
- Pop Mie – Rp15.000
- Bakso – Rp25.000
- Le Mineral – Rp10.000
- Es kopi mix – Rp20.000
- Kopi hitam pahit (2 gelas) – Rp20.000
- Pop Mie (tambahan) – Rp15.000
- Jeruk anget – Rp15.000
- Teh panas (3 gelas) – Rp36.000
Kopi – Rp13.000
Unggahan tersebut langsung menuai beragam komentar warganet. Sebagian menilai harga tidak sebanding dengan menu yang disajikan, sementara lainnya mengingatkan wisatawan agar selalu menanyakan harga sebelum memesan, terutama di kawasan wisata.
Menanggapi viralnya unggahan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan, Joko Trihono, menyatakan pihaknya menghargai kritik dan masukan dari masyarakat.
“Secara prinsip, kami mengucapkan terima kasih atas kritikan dari warganet. Ini menjadi bahan evaluasi bersama,” ujar Joko Trihono.
Ia menegaskan, Disbudpar Magetan selama ini telah berulang kali mengimbau para pedagang di kawasan wisata Telaga Sarangan agar memberikan pelayanan yang baik, termasuk menerapkan harga yang wajar dan mencantumkan daftar harga secara jelas.
“Kami sudah menghimbau pedagang untuk melayani wisatawan dengan harga wajar dan memasang daftar harga. Ini penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” jelasnya.
Joko juga meminta wisatawan untuk menjadi konsumen yang bijak. Menurutnya, kasus warung yang viral akibat dugaan getok harga seharusnya menjadi pembelajaran bersama.
“Sudah ada beberapa warung yang viral karena persoalan harga. Harusnya itu menjadi sanksi sosial. Wisatawan bisa memilih untuk tidak datang lagi ke tempat tersebut,” tegasnya.
Ia mengakui, kasus serupa bukan kali pertama terjadi di kawasan Telaga Sarangan. Karena itu, edukasi kepada pedagang dan wisatawan akan terus dilakukan demi menjaga citra pariwisata Magetan.
“Kami kembali mengimbau wisatawan agar tidak ragu menanyakan harga sebelum memesan, supaya tidak terjadi persoalan di kemudian hari,” pungkasnya. [fiq/beq]






