Sidoarjo (beritajatim.com) – Yayasan Bakti Lentera Kasih (YBLK) sukses menggelar Workshop Home Care: Teknik Fisioterapi untuk Lansia pada Sabtu pagi (24/5/2025) di Sekretariat GKJW Jemaat Sidoarjo, Jalan Kombes Pol M Duryat No. 66.
Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya para pendamping lansia, tentang teknik dasar fisioterapi rumahan untuk perawatan jangka panjang.
Workshop ini mendapat antusiasme tinggi dari warga, terutama karena materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan lansia, yang kerap mengalami berbagai gangguan muskuloskeletal seperti Osteoarthritis (OA), Rheumatoid Arthritis (RA), Osteoporosis, Low Back Pain (LBP), hingga gangguan saraf akibat Cerebrovascular Accident (CVA) atau stroke.
“Kami ingin masyarakat lebih memahami bahwa perawatan lansia tidak harus selalu bergantung pada rumah sakit. Dengan teknik fisioterapi rumahan yang tepat, kualitas hidup lansia bisa ditingkatkan secara signifikan,” ujar Vado Yudiantara A. MD FT, fisioterapis dan narasumber utama dalam workshop tersebut.
Pentingnya Fisioterapi untuk Lansia
Dalam pemaparannya, Vado menjelaskan bahwa banyak lansia mengalami penurunan mobilitas dan nyeri kronis akibat kerusakan sendi atau kepadatan tulang yang menurun. Ia mencontohkan Osteoarthritis (OA) sebagai salah satu penyakit yang paling sering dijumpai.
“OA biasanya ditandai dengan nyeri saat sendi digerakkan, pembengkakan, hingga suara gesekan saat bergerak. Ini bisa diatasi dengan latihan gerak ringan yang teratur di rumah,” jelasnya.
Selain OA, Vado juga menyinggung Rheumatoid Arthritis, penyakit autoimun yang menyerang sendi dan menimbulkan peradangan kronis, serta Osteoporosis yang menyebabkan tulang menjadi rapuh.
“Fisioterapi yang dilakukan secara rutin dapat membantu mencegah risiko patah tulang dan menjaga postur tubuh tetap stabil,” tambahnya.
Penyakit yang Dapat Ditangani dengan Fisioterapi Rumahan
Beberapa kondisi medis yang dibahas dalam workshop antara lain: Osteoarthritis (OA): Nyeri sendi, pembengkakan, dan keterbatasan gerak.
Rheumatoid Arthritis (RA): Peradangan sendi kronis akibat gangguan autoimun.
Osteoporosis: Penurunan kepadatan tulang yang meningkatkan risiko patah.
Low Back Pain (LBP): Nyeri di punggung bawah yang mengganggu aktivitas harian.
Cerebrovascular Accident (CVA): Gangguan saraf akibat stroke yang menyebabkan kelumpuhan sebagian tubuh.

Incontinentia urine: berarti ketidakmampuan untuk mengontrol buang air kecil atau dengan kata lain, pengeluaran urine yang tidak terkendali. Kondisi ini umum terjadi pada lansia, baik pria maupun wanita
“Teknik-teknik yang kami ajarkan mudah diterapkan di rumah, termasuk untuk pasien pasca-stroke. Tujuannya adalah memulihkan fungsi gerak dan menjaga semangat hidup para lansia,” pungkas Vado.
Komitmen Yayasan untuk Kesehatan Lansia
Yayasan Bakti Lentera Kasih berkomitmen untuk terus menyelenggarakan edukasi serupa agar perawatan lansia dapat dilakukan dengan lebih mandiri di rumah.
Kegiatan seperti ini diharapkan dapat memperluas kesadaran masyarakat tentang pentingnya perawatan non-medis untuk mendukung proses penuaan yang sehat dan bermartabat. (ted)






