Bondowoso (beritajatim.com) – Sebuah rumah tua peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1927 di kawasan Jampit, Kecamatan Sempol, Bondowoso, kini menjadi penginapan unik bernama Guest House Jampit.
Bangunan bergaya Eropa ini menjadi salah satu tempat favorit wisatawan asing yang ingin menikmati suasana kolonial sambil berlibur ke Kawah Ijen via Bondowoso.
Guest House Jampit merupakan satu dari tiga penginapan bersejarah milik PTPN XII, selain Arabica Homestay dan Cattimor di Blawan.
Meski lebih muda dibanding Cattimor yang dibangun tahun 1887, rumah ini tetap menyimpan pesona tersendiri.
Arsitektur klasik lengkap dengan taman bunga, pohon besar, dan perapian dalam rumah menjadi daya tarik utamanya.
“Di Guest House itu kan ada perapian di dalam rumah. Jadi nuansa Eropanya masih lestari di sana,” kata Yuni Handayani, Kabid Pariwisata Disparbudpora Bondowoso, Senin (19/5/2025).
Ia menjelaskan, bangunan peninggalan kolonial itu kini dikelola oleh PTPN XII dan sangat cocok untuk menginap secara rombongan.
Tidak seperti Arabica Homestay dan Cattimor yang lebih cocok untuk individu atau keluarga kecil, Guest House Jampit menawarkan pengalaman berbeda.
“Dengan adanya Guest House ini, setidaknya menambah alternatif penginapan bagi wisatawan yang akan ke Kawah Ijen via Bondowoso,” imbuhnya.
Rizki, warga Kelurahan Sekarputih, Kecamatan Tegalampel, mengaku sudah dua kali berkunjung ke sana bersama keluarganya.
“Suasananya asri. Tapi saya gak pernah menginap di sana. Cuma menikmati tamannya,” ujarnya.
Meskipun hanya memiliki dua musim, suhu di wilayah Jampit yang berada di dataran tinggi kerap kali sangat dingin, terutama malam hari.
Keberadaan perapian pun menjadi pelengkap sempurna bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana seperti di Eropa.
Guest House Jampit bukan sekadar tempat bermalam, melainkan juga destinasi sejarah yang menyimpan jejak kolonial Belanda di tengah keindahan alam Bondowoso. (awi/ian)






