Malang (beritajatim.com) – Kawasan Sudimoro di Kota Malang, yang dulunya menjadi magnet nongkrong anak muda dan pusat deretan kafe hits, kini mulai kehilangan pesonanya. Ruko-ruko yang dulu selalu penuh pengunjung, terutama saat malam dan akhir pekan, kini tampak melompong, sebagian bahkan telah tutup permanen.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan: Apa yang salah dengan Sudimoro? Dari penelusuran beritajatim.com, sepinya kawasan Sudimoro bukan disebabkan faktor tunggal, melainkan kombinasi perubahan tren dan dinamika perkotaan yang berlangsung cepat.
Tren industri kedai kopi di Malang terus berkembang. Kini, kafe-kafe baru dengan konsep segar dan fasilitas lengkap menjamur di berbagai titik, terutama di kawasan strategis seperti Jalan Soekarno-Hatta (Soehat), Jalan Jakarta, hingga kawasan sekitar kampus.
“Kalau kami yang kuliahnya di UM (Universitas Negeri Malang), ya milihnya ngopi yang dekat-dekat aja. Kalau pun ke Soehat sekarang ada Calf atau Fore yang lebih kekinian. Ke Sudimoro jalannya sempit dan sering macet,” ujar Rina, salah satu mahasiswa UM, kepada beritajatim.com, Rabu (14/5/2025).
Beberapa tahun lalu, Sudimoro sempat menjadi ikon tongkrongan anak muda di Malang. Barisan coffee shop dengan pemandangan sawah terbuka dan lampu-lampu temaram menjadi daya tarik tersendiri. Suasananya tenang, cocok untuk mengerjakan tugas, nongkrong santai, hingga menikmati konser akustik malam hari.
Namun kini, pemandangan itu perlahan sirna. Banyak tenant di deretan ruko yang tutup, bahkan pada akhir pekan. Aktivitas malam yang dulu menjadi andalan, kini tak lagi mampu menarik minat pengunjung seperti dulu.

Meski demikian, Sudimoro belum sepenuhnya mati. Beberapa titik seperti Boomi Carnival dan Prestone masih sesekali menggelar event musik atau konser mini yang mendatangkan keramaian. Namun ironisnya, ketika ramai, Sudimoro justru menjadi titik kemacetan parah yang menyurutkan minat banyak orang untuk datang.
“Kalau ada konser, ya pasti ramai. Tapi ya itu, parkir susah, jalan macet, jadi malas juga kalau cuma mau nongkrong biasa,” kata Reza, warga sekitar, saat ditemui.
Melihat kondisi ini, Sudimoro membutuhkan sentuhan baru agar tak benar-benar tenggelam dalam kenangan. Inovasi dari pemilik usaha dan kolaborasi dengan komunitas lokal bisa menjadi kunci untuk menghidupkan kembali atmosfer kreatif yang pernah melekat di kawasan ini.
Apakah Sudimoro bisa bangkit lagi? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, tanpa pembaruan konsep dan dukungan infrastruktur yang memadai, kawasan ini berisiko kehilangan identitasnya sebagai salah satu pusat tongkrongan ikonik di Malang. [dan/beq]






