Ponorogo (beritajatim.com) – Serapan Dana Desa (DD) tahap awal di Ponorogo dikebut agar tuntas sebelum pergantian bulan. Hingga pertengahan Maret, dari total 281 desa penerima DD, masih ada 13 desa yang belum merampungkan pencairan tahap pertama. Penyebab utama keterlambatan ini disinyalir karena kendala administrasi.
Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Ponorogo, Anik Purwani, menegaskan bahwa pihaknya terus mendorong percepatan agar anggaran segera terserap. Sebab, anggaran DD ini ditransfer langsung dari kementerian.
“DD ini ditransfer langsung dari kementerian. Jadi kami hanya bisa mendorong saja agar cepat dituntaskan administrasinya agar tersalurkan,” kata Anik, Jumat (21/3/2025).
Ia menargetkan sebelum bulan Maret ini habis, semua desa sudah menyelesaikan pencairan. Jika berkaca pada pencairan tahap awal tahun lalu, pada bulan Februari sudah selesai semua. Namun, ternyata tahun ini, masih ada yang tertunda hingga bulan Maret ini.
“Target kami sebelum bulan berganti, semua desa sudah menyelesaikan pencairan. Tahun lalu, Februari sudah rampung, tetapi tahun ini masih ada yang tertunda,” ujarnya.
Menurut Anik, keterlambatan serapan DD berisiko menghambat berbagai program desa, mulai dari pembangunan infrastruktur, Bantuan Langsung Tunai (BLT), hingga program ketahanan pangan dan pengentasan stunting. “Semakin cepat kas desa terisi, semakin lancar pula program yang telah direncanakan,” tambahnya.
Pada tahap awal ini, desa mandiri menerima alokasi 60 persen DD, sementara desa non-mandiri mendapat 40 persen. Sisa anggaran baru bisa dicairkan pada tahap kedua, yang dijadwalkan mulai Juni, dengan syarat realisasi program telah mencapai lebih dari 60 persen.
Meski kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat berlaku di berbagai sektor, DD tetap aman dengan alokasi Rp 261,6 miliar untuk Ponorogo tahun ini. DPMD berharap tidak ada pemotongan anggaran hingga akhir tahun agar manfaatnya bisa terus dirasakan oleh masyarakat desa. “Semoga sampai akhir tahun nanti tidak ada pemotongan dari Pemerintah Pusat,” pungkas Anik. (end/kun)






