Pasuruan (beritajatim.com) – Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, baru-baru ini menggelar simulasi bencana banjir. Simulasi ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana banjir yang kerap terjadi di wilayah tersebut.
Sebagaimana diketahui, Kecamatan Winongan merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Pasuruan yang rawan banjir, terutama saat musim hujan tiba. Beberapa desa yang sering terdampak banjir antara lain Desa Bandaran, Desa Winongan Lor, Desa Winongan Kidul, dan Desa Prodo.
Dalam simulasi tersebut, ratusan warga terlibat dalam proses evakuasi. Warga yang dianggap rentan, seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas, menjadi prioritas utama dalam evakuasi. Relawan dari berbagai desa bekerja sama dengan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan untuk memastikan kelancaran proses evakuasi.
Selain evakuasi, simulasi juga mencakup pendirian dapur umum dan posko kesehatan. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, seperti makanan dan perawatan medis.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah menginisiasi pembentukan Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) di Kecamatan Winongan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah desa dalam menghadapi dan mengatasi bencana.
“Dengan adanya Kencana, diharapkan masyarakat lebih siap menghadapi bencana dan dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Pasuruan, Yudha Triwidya Sasongko.
Simulasi bencana ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat. Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Prasinta Dewi, mengapresiasi upaya pemerintah daerah dan masyarakat dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Simulasi seperti ini sangat penting untuk membangun budaya sadar bencana di masyarakat,” kata Prasinta Dewi.
Catherine Meehan, First Secretary for Humanitarian di Kedutaan Besar Australia di Indonesia, berharap simulasi ini benar-benar diterapkan ketika terjadi bencana. ”Saya melihat simulasi ini ada kepedulian yang sudah terbangun di tengah masyarakat,” katanya. (ada/ian)






