Surabaya (beritajatim.com) – Semua orang bisa merasakan Jatuh cinta, namun dalam bentuk dan frekuensi yang berbeda-beda.
Terkadang ada pertanyaan yang terlintas di benak kita, ketika melihat beberapa orang yang dengan mudahnya jatuh cinta.
Mengapa seseorang mudah jatuh cinta?
Mereka yang mempertanyakan hal itu, biasanya tidak memahami alasan perasaan dan emosi yang meluap setiap kali ‘doi’ muncul di depan mata.
Sedangkan sebagian orang menganggap bahwa seseorang yang terlalu mudah jatuh cinta, secara emosional belum dewasa dan bahkan sampai batas tertentu tidak bertanggung jawab.
Hal ini berlaku pada kasus seseorang yang bergonta-ganti pasangan. Mereka membuang cinta lama mereka untuk mencari yang lain demi bisa merasakan dorongan dopamin yang baru.
7 Alasan Mengapa Seseorang Mudah Jatuh Cinta
Menurut artikel yang ditulis oleh Arthur Aron, seorang psikolog sosial dan motivator di New York University (USA). Seseorang yang jatuh cinta akan muncul ketertarikan, intensitas emosi yang meningkat dan ekspektasi yang diperbarui.
Bisa dibilang saat kita jatuh cinta, hidup tidak hanya terlihat berbeda, tapi kita juga terlihat istimewa. Akibatnya, kita menutupi diri dalam kepositifan effervescent. Perasaan inilah yang membuat ketagihan bagi orang yang sedang jatuh cinta.
Berikut alasan mengapa orang mudah jatuh cinta:
1. Kecenderungan terlalu menganggap semua hal istimewa (mengidealkan)
Terkadang, seseorang mudah jatuh cinta karena terlalu mengidealkan dan mengistimewakan sesuatu. Misalnya mendramatisir perilaku, perkataan, hingga tampilan seseorang, sehingga menganggapnya memiliki nilai yang positif.
Sigmund Freud berkata bahwa, ketika seseorang jatuh cinta, ia akan mengharapkan orang tersebut sesuai dengan standard diri sendiri. Dengan kata lain, mereka yang sedang jatuh cinta memproyeksikan apa yang paling mereka kagumi dan inginkan kepada orang yang dicintai.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tips”]
2. Takut akan komitmen
Ketika seseorang takut dengan komitmen, maka ia tidak benar-benar jatuh cinta dengan siapa pun.
Oleh karena itu, perasaan yang dimiliki juga dengan mudah berpindah dari orang satu ke orang lainnya. Mereka melakukan itu tanpa terpikirkan tanggung jawab untuk jenjang hubungan yang lebih serius.
3. Takut kesepian
Seseorang yang mudah jatuh cinta bisa menjadi tanda ketakutan yang mendalam akan kesepian. Masyarakat kita sebagian besar beranggapan bahwa tidak memiliki pasangan adalah hal yang negatif. Akibatnya, banyak yang takut sendirian, sehingga mudah membuka hati untuk siapa saja.
4. Harga diri rendah: Mencari seseorang untuk mengisi kekosongan
Jika harga diri seseorang rendah, maka ia akan mati-matian mencari sesuatu atau seseorang untuk menutupi kekurangan dan rasa tidak aman pada diri sendiri.
Padahal tanpa disadari, ia hanya merasa tertarik pada siapa pun yang memperlakukannya dengan baik. Misalnya memuji, memberikan rasa hormat, melindungi dan lainnya.
5. Langsung bergairah (kecanduan jatuh cinta)
Sebagian orang ada yang kecanduan jatuh cinta, tapi bukan cinta yang sebenarnya. Mereka salah mengartikan kecanduan dopamin, neurotransmitter yang muncul pada fase pertama ketertarikan dengan jatuh cinta.
[berita-terkait number=”5″ tag=”hubungan”]
6. Terlalu bergantung kepada orang lain
Seseorang yang terlalu bergantung kepada orang lain biasanya mengalami ketakutan akan kesepian.
Rasa ketakutan dan kesepian ini membuat ia merasa tertarik pada siapa saja yang, pada waktu tertentu, menunjukkan ketertarikan kepadanya. Sehingga menyebabkan gonta-ganti pasangan setiap kali ada yang memberikan perhatian.
7. Tidak belajar dari pengalaman masa lalu
Beberapa orang tidak belajar dari kesalahan mereka. Nyatanya, betapapun menyakitkan pengalaman masa lalu, kebanyakan orang mengulanginya lagi. Tilmann Klein dan Dr Markus Ullsperger dari Institut Max Planck di Leipzig, (Jerman) telah melakukan penelitian dalam hal ini.
Mereka mengklaim bahwa alasan mengapa beberapa orang tidak belajar dari kegagalan atau kesalahan mereka bisa jadi berasal dari genetik dan diatur oleh mutasi A1. Perubahan ini mengurangi jumlah reseptor D2 di otak. Ini adalah status di mana dopamin ditemukan. Artinya, orang tidak lagi memiliki minat atau motivasi untuk belajar dari kegagalan mereka di masa lalu. Akibatnya, mereka mengulanginya terus menerus.
Penting untuk mengetahui apa yang mengatur perilaku saat sedang jatuh cinta. Mengetahui penyebab yang mendorong seseorang merasa senang hampir terus-menerus terhadap orang-orang tertentu dapat membantu dalam mengendalikan perilakunya. (Kai/ian)






