Madinah (beritajatim.com)– Pemerintah menyiapkan sebanyak 6.000 armada bus dari 15 perusahaan transportasi untuk mengangkut jemaah haji Indonesia pada musim haji 2026 di Madinah. Layanan antar kota perhajian ini mulai beroperasi secara masif saat kedatangan kloter pertama pada Selasa, 22 April 2026, dengan menggunakan bus tipe besar berkapasitas maksimal 42 orang per rombongan.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi menyatakan pembatasan jumlah penumpang ini dilakukan guna menjamin kenyamanan serta ketepatan waktu perjalanan dari Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA) menuju hotel penginapan di Madinah.
Kepala Seksi Transportasi Daerah Kerja Madinah, Achmad Muslichuddin Tamdjiz, mengungkapkan bahwa mayoritas bus yang digunakan merupakan tipe Coach dengan kapasitas asli antara 45 hingga 51 kursi. Namun, demi standarisasi layanan jemaah Indonesia, jumlah pengisi bus tidak akan dipaksakan sesuai kapasitas maksimal.
“Ini kan layanan AKAP, antar kota perhajian. Tipe busnya Coach, tipe bus besar dengan kapasitas mulai dari 45 sampai ada yang 51. Akan tetapi kita membatasi (jumlah penumpang-Red), rombongan kita dimaksimalkan tidak lebih dari 42 orang setiap bus atau dalam setiap rombongan,” kata pria yang akrab disapa Muslih tersebut.
Alur Koordinasi Bandara-Hotel
Menjelang penyambutan kloter perdana, tim transportasi telah menyiapkan dokumen administratif seperti form kedatangan yang mencatat jumlah jemaah, asal embarkasi, hingga jumlah bus yang dikerahkan. Muslih memastikan setiap petugas transportasi bertanggung jawab penuh atas catatan tersebut untuk memitigasi kesalahan data di lapangan.
Mengingat jarak tempuh dari Bandara AMAA ke hotel di pusat kota Madinah hanya memakan waktu sekitar satu jam, koordinasi komunikasi menjadi kunci kelancaran operasional. Tim transportasi menerapkan pola komunikasi cepat guna memastikan kesiapan di hotel sebelum jemaah tiba.
“Karena kita akan ada komunikasi tektok dengan pihak bandara, terutama transportasi bandara. Ketika jemaah tersebut sudah didorong, diberangkatkan dari bandara, diinformasikan ke kami di hotel Madinah, tentu kita akan mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan,” jelas Muslih.
Antisipasi Jemaah Tertinggal
Salah satu perhatian utama dalam operasional tahun ini adalah penanganan jemaah yang tertinggal, baik di kamar hotel maupun di lokasi tertentu saat proses perpindahan. Muslih menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor, khususnya dengan seksi akomodasi, telah diperkuat untuk menangani situasi darurat tersebut.
Pemerintah juga telah menyiagakan armada cadangan di luar bus utama rombongan. Kendaraan ini berfungsi sebagai unit reaksi cepat untuk menjemput jemaah yang tercecer agar tetap dapat bergabung dengan rombongannya.
“Jika ada jamaah yang ketinggalan kita akan siapkan kendaraan di luar bus, entah kendaraan operasional daker atau minibus Coaster yang biasa digunakan teman-teman petugas (haji),” tutur Muslih.
Dengan kesiapan 6.000 armada dan sistem mitigasi yang terstruktur, layanan transportasi haji 2026 diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi jemaah asal berbagai embarkasi, termasuk jemaah dari wilayah Jawa Timur yang kerap mendominasi jumlah kuota nasional. [ian/aje]






