Blitar (beritajatim.com) – Sebanyak 41 ribu warga Kabupaten Blitar tercatat mengalami obesitas di 2023 ini. Jumlah penderita obesitas tersebut naik sekitar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pola hidup yang tidak teratur menjadi penyebab tingginya jumlah penderita obesitas. Banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi makanan tidak sehat serta junk food membuat masyarakat Bumi Penataran banyak yang mengalami kegemukan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, ada sekitar 214.678 orang yang tercatat dalam data screening di aplikasi sehat (ASIK). Dari jumlah tersebut, sebanyak 41.653 orang atau sekitar 24,7 persen dinyatakan obesitas.
“Itu jumlah data dari Januari sampai Juni tahun ini. Bisa saja berubah, karena akan terus di-update datanya,” kata Subko Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Blitar, Hyndra Satria, Kamis (28/7/2023).
Hyndra menyebutkan jumlah penderita obesitas memang mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. Yakni sekitar 5 persen. Jumlah penderita obesitas hingga saat ini terbilang cukup banyak dalam satu semester.
BACA JUGA:
Jadi Bacaleg, 3 Anggota DPRD Kabupaten Blitar Pindah Partai
Obesitas dapat diketahui dengan lebih mudah. Yaitu dengan cara mengukur lingkar perut, di atas 90 cm untuk laki-laki dan 80 cm untuk perempuan.
Kata Hyndra, usia penderita obesitas bervariasi. Namun, usia produktif yakni 15 tahun hingga 35 tahun paling banyak mendominasi penderita obesitas di Kabupaten Blitar.
“Penyebabnya ada beberapa faktor, termasuk genetik (keturunan) dan juga gaya hidup dari masing-masing individu. Gaya atau pola hidup yang tidak teratur ini yang berpengaruh,” jelasnya.
BACA JUGA:
3 Purnawirawan TNI-Polri Akan Ikut Ramaikan Pileg Kabupaten Blitar
Pola hidup sehat yang jarang dilakukan menjadi salah satu penyebab obesitas paling banyak. Tingginya konsumsi makanan cepat saji (fast food), namun tidak diimbangi dengan olahraga yang cukup.
Selain itu minimnya kesadaran diri untuk mengontrol kondisi kesehatan di Fasilitas Kesehatan. Padahal layanan untuk konsultasi kesehatan termasuk gizi dan penanganan obesitas disediakan secara gratis.
“Jelas tetap kami monitoring, dibantu dengan ahli gizi di setiap Puskesmas maupun rumah sakit. Obesitas itu bisa cegah dengan kesadaran diri, konsisten merubah pola hidup dengan lebih sehat,” pungkasnya. [owi/beq]






