Senin, 10 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Hoax Berkeliaran Setiap Hari, Setop Jangan Sebarkan

Jum'at, 16 Nopember 2018 16:46:39 WIB
Reporter : Lucky Aditya Ramadhan
Hoax Berkeliaran Setiap Hari, Setop Jangan Sebarkan

Malang (beritajatim.com) - Aliansi Jurnalis Independen, Internews, dan Google News Initiative melatih sekitar 100 mahasiswa, pegiat media sosial, warganet, dan aktivis di Malang, untuk berlatih menangkal kabar bohong atau hoax.

Mereka mengikuti halfday basics workshop hoax busting and digital hygiene. Saat ini, hoax menyebar dan berkeliaran di media sosial setiap hari. Era banjir informasi, warganet harus cerdas memilih media dan memilah informasi.

"Polisi era sekarang tak harus gagah, tapi juga memiliki intelektualitas. Sehingga penting polisi untuk mengawasi dan penindakan hukum," kata Ketua program doktoral Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya Bambang D Prasetyo.

Bambang mengatakan, jika tahu informasi yang diterima hoax, setop jangan disebarkan. Sebab, hampir setiap hari setiap saat ada berita tak benar, melintas di lini masa.
"Bahkan warganet ikut mendistribusi berita yang tak benar atau hoax Bagaimana generasi kedepan jika setiap hari diasup setiap saat," ujar Bambang.

Peserta dilatih dua trainer tersertifikasi Google, akademikus Lilik Dwi Mardjianto dan jurnalis Inggried Dwi Wedhaswary. Inggried menyebutkan hoaks berseliweran karena tingkat literasi rendah. Indonesia menempati urutan ke 60 dari 61 Negara. Sedangkan pengguna media sosial menempati urutan kelima. "Kemampuan mengolah informasi rendah. Sehingga mudah menyebarkan hoaks. Tanpa melakukan cek ulang dan verifikasi," ucap Lilik.

Lilik  menjelaskan jika internet merupakan belantara. Jika tak memahami literasi digital sama dengan orang tersesat di belantara tak punya kompas. Netizen bisa ikut terlibat menyebarkan hoaks.

"Informasi miss informasi dan disinformasi. Disinformasi motifnya awal untuk sekedar lucu-lucuan, mencari sensai dan mencari keuntungan. Disinformasi sengaja menyebarkan hoaks karena ada maksud tertentu," papar Lilik.

Bahkan bekas Menteri Informatika dan Informasi Tifatul Sembiring pernah menyebarkan hoaks. Berupa foto korban pembantaian pengungsi Rohingya di Myanmar.

Padahal foto tersebut merupakan pembantaian muslim di Thailand Selatan oleh militer Thailand.  Korban merupakan demonstransi umat muslim Thailand. Sebanyak 78 umat Islam tewas.

Para peserta dilatih menelusuri berita dan mengecek kebenarannya. Selain itu juga menelusuri foto dan video menggunakan beragam tools. Peserta juga diingatkan pentingnya keamanan dan kebersihan digital. Agar tak mudah data pribadi diretas dan dipindai secara digital. (luc/kun)

Tag : hoax

Komentar

?>