Senin, 20 Nopember 2017

Aplikasi Game Ciptaan Mahasiswa Untag Bantu Proses belajar Anak Dyslexia

Senin, 11 September 2017 10:51:24 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Aplikasi Game Ciptaan Mahasiswa Untag Bantu Proses belajar Anak Dyslexia

Surabaya (beritajatim.com) - Mahasiswa Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya berhasil mengembangkan permainan sebagai media terapi anak disleksia berbasis Android.

Dimas Bagus Gita Permana penciptaan alat yang diberi nama "Dyslexia Game" menjelaskan penderita disleksia itu cenderung susah untuk membaca, menulis dan membedakan huruf sehingga dirinya terinspirasi untuk membantu anak dalam belajar.

"Dalam aplikasi ini, terdapat dua kategori yaitu latih dan soal. Dalam kategori latih, terdapat tiga sub kategori yang dibagi dalam level kesulitan yang berbeda. Sedangkan pada soal, memuat 15 jenis latihan yang berbeda, semuanya fungsinya untuk membantu anak-anak untuk bisa membaca dan menulis," ujarnya di kampus setempat di Surabaya, Senin (11/9/2017).

Dimas mengatakan aplikasi yang berbasis android ini ia tujukan untuk anak disleksia usia 7 hingga 12 tahun. Dia juga telah melakukan tes kepada 10 siswa SD Cita Hati Bunda, Sidoarjo sebelum aplikasi ini diluncurkan. 

"Dari 10 anak yang dites membaca 60 kata, biasanya mereka melakukan kesalahan sebanyak 25 kata, tapi setelah bermain game, ada penurunan kesalahan menjadi 20 kata," kata mahasiswa semester 8 ini.

Ia mengungkapkan dalam proses pembuatan aplikasi ini dirinya dibantu oleh dosen pembimbing tugas akhir dan juga psikolog agar memperlancar dan segera bisa digunakan.

"Untuk pengerjaan membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan setengah termasuk juga melakukan beberapa riset. Setelah itu konsultasi ke psikolog untuk menentukan visual yang ditampilkan dalam aplikasi termasuk pemilihan warna dan desain juga tidak sembarangan agar anak-anak tidak bosan, saya memilih warna-warna cerah," ungkapnya.

Ia berharap tujuan dalam membuat aplikasi ini karena anak-anak disleksia bisa dikurangi. Dia juga merasa pembuatan aplikasi ini tidak terlampau susah dan akan berguna bagi banyak orang.

"Sebenarnya aplikasi serupa juga sempat ada tapi bagi anak-anak usia 3-6 tahun yang duduk di Taman Kanak-kanak," tuturnya.

Sementara itu, kesulitan dalam pembuatan aplikasi ini hanya dalam melakukan riset karena mahasiswa mahasiswa teknik semester VIII informatika Untag ini saat menghadapi anak disleksia yang akan dites, karena suasana hati mereka cenderung berbeda dan berubah-ubah.

"Selain itu hanya pendampingan orang tua atau guru langkah penting dari proses penyembuhan anak penderita disleksia, begitu juga saat memainkan aplikasi ini. Aplikasi ini juga disempurnakan dengan Kurikulum dari Asosiasi Disleksia Indonesia," tandasnya. (ito/ted)

Tag : aplikasi game

Komentar

?>