Sorotan

Catatan Perjalanan dari Taiwan (4)

Toucheng Leisure Farm

Kami tidak tahu nama pohon-pohon itu. Kami hanya melihat jajaran rimbunnya mengurung seluruh bukit. Melapisi hamparan lembah. Kami hanya memandang dan merasa hanyut karenanya.

Entahlah. Apakah memang pohon butuh nama? Siapa yang berhak menamai?

Kami melihat garis-garis sinar matahari jatuh menerpa pepohonan. Senja. Pertemuan garis-garis sinar matahari dan hijau pepohonan melontarkan kami ke batas antara bumi dan langit.

Kami menyaksikan itu dari balkon Toucheng Leisure Farm. Sebuah hotel di daerah Taucheng kabupaten Yilan, negeri Taiwan, pada Jumat petang (26/7/2019).

Balkon yang menghadap bukit dan lenbah. Menghadap langit. Menghadap pada batas antara ada dan tiada. Nglangut, kontemplatif, dan mengingatkan pada kebesaran ciptaan Ilahi.

Memang, pepohonan dan langit senja senantiasa membawa suasana sublim. Merangsang pikiran terlontar ke tempat-tempat terjauh, tempat-tempat imajiner.

Bagi kami, tempat ini mungkin bukan sekadar hotel. Tempat ini didesain untuk memuliakan alam. Merawat kehidupan alamiah. Natural. Sehingga pengunjung, mau tidak mau, ingin tidak ingin, larut dalam suasana kebathinan yang jernih.

“Kami memilih lokasi ini setelah melakukan riset yang cukup mendalam. Membangun tempatnya tidak murah. Operasionalnya juga mahal. Hanya kecintaan pada alam, tanaman, dan binatang yang membuat kami bisa bertahan,” tutur Mama Zou, pemilik Toucheng Leisure Farm.

Dengan mempekerjakan sekitar 100 orang, Toucheng Leisure Farm memiliki kebun cabai, terong, seledri, bawang pre, jagung, sawi, dan sebagainya. Termasuk petak-petak sawah yang ditanami padi.

Koleksi ternaknya tidak kalah lengkap. Ada angsa, ayam, kambing, burung, kerbau, dan lainnya. Ada pula kolam-kolam ikan.

Ketika kami datang, kami langsung diajak keliling sawah, kebun, dan beberapa wahana permainan. Keliling di bawah pepohonan rindang.

Kami diterangkan tentang cara bercocok tanam, cara merawat tumbuhan, cara memelihara ternak. Kami berkeliling di lokasi yang kadang datar, kadang naik, kadang turun. Keringat menetes di tubuh kami.

Kami diajak mencoba menanam benih padi di sawah. Diajak memetik cabe. Lalu kami diajak singgah di tempat semacam pendopo. Tempat di mana tersusun beberapa perlengkapan memasak. Ternyata kami diajari membikin martabak telur.

Martabak yang istimewa. Sebab telurnya diambil langsung dari peternakan, sayurnya dipetik langsung dari kebun, dan yang utama (setelah diberi contoh) akhirnya kami bisa membikin martabak dengan tangan kami sendiri. Kami masak sendiri lalu dimakan ramai-ramai.

Selesai berkeliling, kami baru menyadari, tempat ini bukanlah sebatas sawah, sebatas peternakan, sebatas hotel, dan sebatas hutan. Tempat ini memadukan kesemuanya. Memadukan dengan penataan yang rapi dan alamiah. Sehingga benar-benar membuat kami lebih menyatu dengan alam.

Memuliakan alam. Memuliakan sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Berbeda dengan hutan atau kebun di pedesaan, tempat ini sangat bersih. Hampir-hampir tidak ada daun-daun tua yang jatuh berserakan. Sampai-sampai kami sempat berpikir, jangan-jangan, daun di tempat ini tidak akan pernah tua. Daun-daun yang selalu muda, selalu hijau, senantiasa segar.

Kami lantas diantar naik ke kamar tempat kami akan bermalam.Berbeda dengan situasi sebelumnya, di dalam kamar, peralatan serba modern. Fasilitas hotel kelas atas.

Sejenak beristirahat, kami menuju balkon. Kami mendapati pepohonan yang dilumuri cahaya matahari. Senja. Dan, kami pun terlempar ke suasana kontemplasi. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar