Sorotan

Terima Kasih Prabowo – Sandi

Ribut Wijoto.

SAMPAI HARI INI, suasana sidang sengketa Pemilihan Presiden 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) berlangsung dalam suasana kondusif. Kondusivitas baik di dalam ruangan sidang maupun di sekitar gedung MK. Kita perlu mengucap terima kasih pada Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno atas terciptanya kondisi nyaman ini.

Beberapa hari menjelang sidang, Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto meminta pendukungnya untuk tidak berbondong-bondong mendatangi MK. Kata dia, jika masyarakat memang masih percaya pada Prabowo-Sandi maka tak perlu hadir ke gedung MK.

“Kami putuskan selesaikan semua melalui jalur hukum. Kami selalu pikirkan yang terbaik untuk rakyat,” kata Prabowo, Selasa (11/6).

Kompak. Cawapres Prabowo, yakni Sandiaga Uno, juga meminta para pendukung untuk tidak turun aksi selama proses sidang gugatan Pilpres 2019 di MK. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu menuturkan, ekonomi saat ini membutuhkan kepastian. Ia mengharapkan tidak ada dampak buruk akibat adanya aksi massa.

“Pastikan jangan sampai nanti ada dampak negatif terhadap ketidakpastian untuk sisi ekonomi,” kata Sandi.

Imbauan yang mujarab. Suasana di sekitaran gedung MK selama sidang gugatan gugatan Pilpres 2019 cukup kondusif. Tidak ada pengerahan massa secara besar-besaran. Kekhawatiran banyak pihak bahwa bakal terjadi ricuh antara pendemo dengan aparat kepolisian tidak terbukti.

Jalan di depan gedung MK, yaitu jalan Medan Merdeka Barat, memang sempat ditutup oleh separator dan pagar kawat berduri. Namun, oleh sebab situasi kondusif, akses lantas dibuka untuk dilalui kendaraan bermotor. Baik yang dari arah Patung Kuda menuju Harmoni maupun arah sebaliknya.

Ada memang demo dalam skala tidak terlalu besar. Misalnya aksi damai ribuan warga yang dikoordinir oleh Alumni 212. Dipandu oleh Sekjen Presidium Alumni 212 Hasri Harahap dari atas mobil komando utama, mereka melakukan doa dan zikir bersama sebelum mengawali orasi.

Juru bicara Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Novel Bamukmin menegaskan bahwa seluruh peserta aksi bukan merupakan pembantu partai politik. “Kita harus menjaga keadilan. Karena kita bukan jongos partai, kita bukan hamba partai, nggak ada urusan dengan partai. Kita tuntunan Allah, tak ada urusan dengan mereka [Parpol]. Karena keadilan harus kita perjuangkan,” kata Novel saat berorasi.

Di media sosial, ada banyak spekulasi tentang sikap Prabowo – Sandi yang memilih tidak mengerahkan massa selama proses sidang gugatan Pilpres 2019 di MK. Seperti biasa, netizen memang kerap nyinyir, sinis, dan kurang kendali dalam berkomentar.

Ada yang menduga, Prabowo tidak mengerahkan massa karena sudah yakin hakim MK tidak akan mengabulkan gugatan. Utamanya gugatan agar hakim MK mencoret keikutsertaan Joko Widodo (Jokowi) – Ma’ruf Amin dalam kontestasi Pilpres 2019. Apalagi, hasil rekapitulasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), selisih perolehan suara yang cukup besar. Jokowi – Ma’ruf memperoleh 85.607.362 suara dan Prabowo – Sandi hanya mendapatkan 68.650.239. ada selisih 16.957.123 suara.

Dugaan lain dari netizen adalah terkait dengan banyaknya tokoh-tokoh penting di sekitar Prabowo yang mendapat masalah hukum terkait dengan aksi massa yang ricuh di sekitar gedung KPU tanggal 21-22 Mei 2019. Beberapa tokoh penting tersebut bahkan terpaksa menginap di balik jeruji besi.

Merujuk pada pernyataan Prabowo dan Sandiaga Uno, dugaan-dugaan negatif dari netizen di media sosial tentu saja tidak benar. Dugaan yang sama sekali tanpa dasar. Hanya justru memanaskan situasi politik dan berpotensi memecah belah kerukunan bangsa.

Prabowo adalah seorang nasionalis. Berjiwa patriot. Bertahun-tahun hidupnya diabdikan sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tidak cuma sekali dia terlibat dalam medan pertempuran membela keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat ini pun, Prabowo adalah ketua umum partai berpaham nasionalis, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Berpijak dari latar kehidupan seperti itu, wajar jika Prabowo menyikapi proses sidang gugatan Pilpres 2019 di MK secara bijaksana. Prabowo melihat kepentingan yang lebih luas. Kepentingan bangsa. Jika Prabowo membiarkan pendukungnya menggelar aksi massa di sekitar gedung MK, kerusuhan sulit untuk dicegah. Nyawa manusia bisa melayang. Maka, Prabowo secara serius meminta pendukungnya agar tidak berdemo.

Prabowo tentu saja bukan menyerah. Gugatan telah dilayangkan, nama-nama tenar telah dipilih untuk menjadi tim kuasa hukum, dalil-dalil disiapkan, bertruk-truk alat bukti dikirim ke hadapan hakim MK. Prabowo yakin telah terjadi kecurangan pemilu yang sifatnya Terstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM).

Adapun Sandiaga Uno, walau tujuannya sama, menempuh jalur pandangan yang berbeda. Sebagai politisi yang berlatar belakang bisnis, Sandiaga Uno melihat sisi buruk aksi massa dari aspek ekonomi.

Bahwa, perekonomian Indonesia bisa terganggu bila stabilitas politik goyah. Sedangkan aksi massa, apalagi bila sampai terjadi kerusuhan, berdampak pada kerawanan stabilitas politik yang sekaligus mengganggu roda perekonomian nasional.

Atas pertimbangan dan sikap bijaksana Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, kita sebagai bangsa Indonesia, penting untuk mengucapkan terima kasih pada keduanya.

Di ruang pengadilan MK ada 9 hakim yang menguji alat bukti dan pengakuan saksi-saksi. Mereka hakim yang dikenal bijak dan berintegritas. Jadi, keputusan yang bakal mereka jatuhkan sangat bisa diharapkan sebagai keputusan yang paling adil. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar