Sorotan

Catatan Perjalanan dari Taiwan (6)

Taroko, Taroko, Taroko..

Alam adalah guru, kami adalah murid. Taroko. Alam Taroko mengajari kami tentang harmoni, keniscayaan, tentang sejarah, tentang ratusan orang yang meninggal, kemegahan ciptaan Tuhan, tentang tradisi, tentang budaya populer.

Kamis siang (25/7/2019), kami berhenti sejenak di pintu gerbang, Arch of Taroko, kabupaten Hualien, negeri Taiwan. Turun dari bus. Meninggalkan kendaraan nyaman yang telah mengantar kami menjelajahi berbagai pelosok negeri Taiwan. Kami bersiap untuk berjalan kaki. Menjalani prosesi sebagai murid dari alam Taroko.

Pada pintu gerbang ini termaktub tulisan berbahasa Mandarin, bunyinya ‘Pintu Masuk dari Timur ke Barat’. Secara polos, artinya awal tempat dibangunnya jalan dari timur ke barat. Namun dalam perspektif sejarah, pintu gerbang itu menguak riwayat panjang peradaban Taroko.

Dua ratus tahun silam, Taroko adalah wilayah tersembunyi. Terasing. Alienasi. Tidak ada jalan menuju Taroko. Mereka tidak bisa didatangi dan mendatangi peradaban lain. Tidak ada akses jalan. Hanya ada jurang, tebing curam, dan lembah. Selebihnya semak belukar dan pohon-pohon. Ketika itu, jika lapar, warga Taroko hanya makan dari tumbuhan dan hewan yang ada di alam sekitar. Mereka tidak berharap menu lain dari daerah-daerah yang jauh. Sebab tidak ada jalan, terkurung.

Pintu gerbang ini menandai pembangunan jalan yang melintasi Taroko. Membuka peradaban Taroko untuk bersua dengan peradaban lain di Taiwan. Dan saat ini, kami berdiri di muka pintu gerbang, bersiap menyusuri jalan panjang tersebut. Belajar dari Taroko yang telah membuka diri.

Sebelum melangkahkan kaki, kami lihat sisi kanan. Jurang yang curam. Kami bayangkan, terpeleset sedikit saja, tubuh kami akan tergulung-gulung jatuh. Maka, kami pun memantapkan niat. Berserah diri pada Sang Pencipta. Bahwa, alat pengamanan terbaik adalah ridha dari-Nya.

Kami teringat dengan surat Alfatihah, ayat 5: “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”.

Kami pun mulai berjalan. Melangkah di jalan yang tepat antara lereng dan jurang. Bisa dikata, kami berjalan di bibir jurang.

Dan di bibir jurang Taroko ini, kami semua adalah murid. Di bibir jurang tidak ada perbedaan ras, tidak ada perbedaan bahasa, tidak ada perbedaan status, tidak ada kaya atau miskin, tidak ada ambisi duniawi. Jurang Taroko menjadi guru abadi. Mengajarkan kami tentang rendah hati.

Udara demikian lembab dan basah. Langkah kaki kian pasrah. Langkah kaki mulai ringan. Pegal dan penat setahap demi setahap mencair berganti perasaan nyaman. Kemegahan alam menguasai rasa dan pikir kami. Bebas merdeka. Kami terbebas dari rutinitas keseharian dan hal ihwal duniawi.

Yang kami temui bukan lagi satu jurang. Tetapi ngarai. Pertemuan dua jurang yang dalam dan tebing yang curam. Di bawahnya, mengalir sungai Liwu. Sungai kecoklatan, perbaduan antara bening air dan hitam pasir.

Tebing curam Taroko yang kokoh. Disusun dari batu-batuan marmer. Batuan yang mengajarkan kami tentang ketabahan. Terekam dalam benak kami, asal mula terjadinya marmer di Taroko. Proses pembentukan yang melintasi waktu 250 juta tahun. Jauh sebelum ada peradaban Taiwan.

Ratusan juta tahun lalu, marmer yang kini berada di hadapan kami hanyalah berupa sedimen berkapur di lautan. Lantas menjadi batu kapur. Batu-batu yang mengendap, ditempa oleh tekanan dan panas bumi. Jadilah marmer.

Sekitar 70 juta tahun kemudian, tumpukan marmer berubah membentuk gunung. Dan 8 juta tahun lalu, sebuah peristiwa besar terjadi. Lempeng laut Fillipina bertabrakan dengan lempeng laut Benua Eurosia. Gunung marmer naik kian menjulang.

Gunung Marmer yang keras. Marmer yang selama berjuta-juta tahun basah kuyup oleh hujan. Lama-kelamaan, kerasnya batu marmer pun terkikis. Terbentuklah sungai Liwu. Terbentuklah jurang-jurang curam Taroko.

Kami tenggelam oleh riwayat asal mula batu marmer itu. Kami bayangkan ketabahan waktu ratusan juta tahun. Ketabahan tetes air hujan membelah marmer. Dan di bawah kami, sungai Liwu mengalir tetap deras.

Kami lanjutkan kaki melangkah. Kami hirup udara Taroko secara kuat-kuat untuk kembali pada kesadaran diri. Lebat hijau daun dan kokoh batang pohon mengajari kami agar yakin bahwa hidup hanya patut disyukuri. Bukan untuk dibikin gundah.

Berhenti sejenak, kami pegang pagar pembatas antara jalan dan jurang. Kami pandangi satu per satu pohon terdekat. Hanya memandang, tanpa berbicara. Daun-daun pohon tampak bergoyang diterpa angin. Meliuk-liuk. Sedang kami hanya diam. Tatapan kami bergerak ke pohon-pohon terjauh. Tidak tampak ada terpaan angin. Pohon-pohon terjauh seakan diam. Sama seperti kami.

Pegunungan Taroko sangat kaya akan jenis pohon, juga tumbuhan. Jika tidak salah, kecuali di tanah berpasir dan di pantai, hampir seluruh tumbuhan di negeri Taiwan, ada di Taroko. Itu karena Taroko terdiri dari berbagai zona iklim. Sejauh mata memandang, nama beberapa tumbuhan masih bisa dikenali. Semisal bambu, cemara, pinus, oak.

Selebihnya, entah. Toh meski tidak kenal, tumbuh-tumbuhan Taroko seperti telah intim di mata kami. Perasaan kami telah menyatu dengan alam. Bahkan, bahasa verbal mungkin tidak lagi bisa memaparkannya, menerjemahkannya.

Tetapi kami tidak ingin terlena. Perjalanan kami lanjutkan. Jalan di bibir jurang ini masih panjang. Sebagai murid, kami percaya bahwa masih banyak pelajaran di depan sana.

Gerimis tipis turun. Kami terus melangkah. Kami lihat gua-gua menganga di tebing marmer yang keras. Menurut catatan, di gua itulah, burung walet bersarang.

Berbeda dengan burung walet peternak yang hendak diambil sarang liurnya, di Taroko, burung walet dibiarkan liar. Terbang bebas bersama alam. Bebas mengepakkan sayap tanpa khawatir sarangnya dicuri manusia. Tanpa khawatir adanya tangan-tangan yang secara serakah menjarah kekayaan alam untuk kepentingan ekonomi. Taroko melindungi dan merawat alam beserta dengan sepenuh isinya. Termasuk walet.

Taroko dikelola dengan berlandaskan Undang-Undang Taman Nasional Taiwan (disahkan pada tahun l972). Bahwa, Taroko dimaksudkan untuk melindungi pemandangan alam, peninggalan bersejarah, dan margasatwa. Taroko mengemban misi pelestarian sumber daya alam dan untuk memfasilitasi penelitian ilmiah. Termasuk pula kampanye pendidikan lingkungan.

Tetapi, di tengah perjalanan, ketika memasuki terowongan, perasaan kami tiba-tiba diterpa kepedihan. Kami terhisap oleh riwayat masa silam. Riwayat pembuatan terowongan Taroko, pembuatan jalan panjang di pegunungan Taroko. Pembuatan jalan, jembatan, terowongan yang bermandikan cucur keringat dan mengorbankan nyawa manusia.

Lebih dari 100 tahun lalu, Taiwan merupakan wilayah jajahan Kekaisaran Jepang. Ketika itu, Taroko masih jadi daerah terpencil. Tidak ada akses jalan. Jepang lantas mempekerjakan warga sekitar untuk membangun jalan. Membabat pohon-pohon, meratakan tanah, mengepras tebing-tebing marmer. Terpesona oleh keindahan dan kekayaan alam Taroko, tanggal 12 Desember 1937, Jepang menjadikannya sebagai taman nasional. Nama awal pun berbahasa Jepang, yakni Tsugitaka Taroko. Puluhan tahun kemudian, nama diubah jadi Taman Nasional Taroko (Taroko National Park).

Pemerintah Taiwan melanjutkan membuatan jalan pada tahun 1956. Dari Taroko, jalannya membentang ke barat sepanjang 192 kilometer sampai ke Provinsi Dongshi. Sekitar 5 hingga 6 ribu pekerja membangun jalan ini setiap hari.

Kami tahu, dalam membuat jalan, para pekerja tidak mengepras dan melubangi marmer dengan cara mudah. Kesulitannya luar biasa. Apalagi pekerja tanpa peralatan modern. Pekerjaan ini selesai pada Mei 1960. Dan yang menyedihkan, selama proses pengerjaan itu, 226 pekerja meninggal. Kuil Eternal Spring Shrine di Taroko jadi saksi riwayat kepedihan itu.

Tidak terasa, waktu telah memasuki senja. Kami harus bersiap mencari tempat bermalam. Dengan kembali menumpang bus, kami menuju ke Taroko Village Hotel. Di tempat indah ini, kami ternyata kembali mendapat pelajaran berharga. Tentang toleransi, tentang tradisi, dan tentang seni populer.

Zheng Ming Gang (62), Kepala Adat Toroko Village, menyambut kami dengan ramah. Dia tuturkan, makanan umum suku Taroko adalah millet, jagung, ubi jalar, dan beras bukit. Makanan itu berlauk daging babi hutan. Ditambahkannya, kesemua makanan itu mudah didapatkan di pegunungan Taroko. Tetapi karena kami beragama Islam (muslim), Zheng sudah menyiapkan menu daging domba bakar. Dia juga memastikan bahwa seluruh makanan yang disediakan untuk kami dijamin halal.

Kami menaruh hormat pada Zheng. Dia orang yang rendah hati. Toleransi. Memberi pelayanan sesuai dengan keyakinan dan agama yang dipeluk oleh tamu. “Itu ada gambar arah kiblat dan gambar kabah. Ruangan ini bisa dijadikan tempat salat. Ruangan ini biasanya juga musala,” ujarnya, Kamis (25/7/2019).

Malam hari, Zheng bersama-sama karyawan Taroko Village Hotel menyuguhkan pertunjukan seni tradisional dari suku Taroko. Ada tarian, nyanyian, komedi, atraksi sirkus. Pertunjukan itu juga menunjukkan wujud rendah hati Zheng.

Walau berlatar tradisi, dia tiada memaksakan ritual-ritual mistis. Dia mengemas pertunjukan secara populer. Rata-rata pemain berkostum pakaian sehari-hari. Hanya saja, mereka semua menyematkan semacam sarung tenun. Kombinasi garis-garis cokelat-teh pada latar belakang putih. Motif yang sama yang dipakai oleh hampir semua pemain wanita.

Kami memahami pilihan ekspresi seni dari Zheng. Dia mengemas pertunjukan secara populer karena tahu bahwa kesemuanya dimaksudkan sebagai hiburan. Bukan ritual. Pertunjukkan yang memang meraup aplaus penonton. Walau di beberapa adegan, Zheng tetap menyelipkan kode-kode budaya Taroko. Semisal penggunaan simbol tombak dan golok. Juga nyanyian koor berbunyi ‘naawiii..’, (koor dengan suara panjang hingga getarannya seakan menuruni lembah dan bukit Taroko), bunyi itu merujuk pada nama Haruq Nawi, salah satu ketua adat Taroko ketika melawan penjajah Jepang.

Pilihan seni populer Zheng sebenarnya justru membuat kami penasaran. Kami yakin Zheng masih memegang erat tradisi dan budaya Taroko yang asli. Termasuk filosofi kehidupannya. Hanya saja, demi pelayanan terhadap tamu, demi etika wisata, dengan rendah hati, dia menyimpan seni dan tradisi Taroko dengan serapat-rapatnya. Dia jadikan pusaka, warisan berharga yang tidak mudah diumbar pada sembarang orang, pada tempat umum.

Begitulah, Taroko seperti filosofi daun teh. Orang hanya diberi pucuknya, yang hijau dan segar. Sedangkan daun-daun lain, batangnya, akarnya tetap tumbuh di kesunyian kebun. Maka, alam Taroko pun tetap eksotis. Sebagai seorang guru kehidupan, Taroko masih menyimpan banyak sekali pelajaran. Beragam pelajaran yang tidak pernah mengenal kata tamat. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar