Sorotan

Syiah, Revolusi Islam Iran, dan Pemikiran Politik Ali Syariati (4)

Ainur Rohim

Berperan besar untuk mematangkan persiapan revolusi Islam Iran pada bulan Februari tahun 1979 untuk menumbangkan rezim Shah Iran yang tiran dan despotik, Dr Ali Syariati tidak menikmati lingkungan politik Iran yang bebas dan demokratis pascarevolusi. Sekitar satu setengah tahun sebelum revolusi Islam pecah di Iran, Ali Syariati meninggal dunia dan dimakamkan di Syuria.

Pemikiran-pemikiran politik berwatak dan berkontens Islam serta diperkaya dengan wacana pemikiran demokrasi
Barat, memposisikan pemikiran Ali Syariati sebagai jalan ketiga di tengah pergumulan keras antara pemikiran bercorak Islam tekstual dan fundamental dengan pemikiran sekulerisme yang berkontestasi secara keras di Iran.

Ali Syariati tak seluruhnya mengamini pemikiran politik dan demokrasi filsuf Barat. Sebagian dia terima dan sebagian lainnya ditentang mentah-mentah, terutama pemikiran kapitalisme yang bisa melahirkan praktek eksploitasi manusia satu terhadap manusia lainnya.

Dari begitu banyak pemikiran politik dan Islam Ali Syariati, satu di antaranya adalah pandangan Ali Syariati yang mempertimbangkan pendidikan rakyat dengan ideologi Islam sebagai salah satu syarat utama untuk melakukan revolusi yang membebaskan. Pemikiran Ali Syariati ini ditentang habis-habisan penganut Marxisme-Leninisme di Iran, di mana mereka berargumen bahwa perjuangan bersenjata sebagai instrumen penting menggelar revolusi.

Dalam konteks ini, pemikiran Marxisme-Leninisme memandang penting aksi nyata untuk dilakukannya revolusi, bukan sekadar enlighment dan pendidikan politik kepada rakyat. Dalam mengembangkan pemikiran politiknya yang berwatak Islam, Ali Syariati menerbitkan sejumlah buku.

Satu di antaranya bukunya yang terkenal berjudul Eslamshenasi (Islamologi) pada 1 Januari 1969. Di mana dalam buku tersebut Ali Syariati mengajukan pertanyaan bersifat fundamental filosofis: Apa itu Islam? Islam di
mata Ali Syariati adalah agama progressif, yang properubahan, dan tak bersifat pasivisme. Islam adalah teologi yang selalu membela kepentingan kaum mustad’afin, kaum tertindas, dan kaum diperlakukan tak adil oleh penguasa dan kaum agamawan yang merapat ke penguasa otoriter dan despotik.

Latar sosial, politik, dan keagamaan Iran di era Reza Shah, dipandang Ali Syariati, menumbuhkan keagamaan Islam Syiah di Iran menjadi pasif dan sekadar penghamba kekuasaan politik. Dr Anjar Nugroho (2019) menggambarkan, dalam gerakannya yang bertentangan dengan para ulama dan mullah Syiah Iran, rezim Reza Shah Iran mengembangkan dua kebijakan sekaligus yang mengakibatkan sikap kritisisme ulama Syiah Iran menjadi tumpul.

Pertama, keputusan tentang ujian siswa jurusan agama dan identifikasi guru-guru agama yang telah menundukkan sistem pendidikan keulamaan Syiah di Iran pada otoritas Kementerian Pendidikan. Regulasi ini mengurangi jumlah guru dan murid di sekolah-sekolah agama. Kedua, aturan tentang donasi agama, yang pada akhirnya menempatkan administrasi mereka di tangan Departemen Donasi pada Kementerian Pendidikan Iran.

Kondisi represif kekuasaan Reza Shah memaksa masyarakat Iran untuk mengamalkan kehidupan keagamaan Islam
Syiah yang apolitik dan di sisi lain mempraktekkan pola kehidupan yang sekuler dan hedonis ala sekulerisme
Barat. Kehidupan beragama yang apolitik melahirkan ulama-ulama pemerintah yang selalu diam seribu bahasa dengan segala perilaku dan kebijakan Reza Shah Iran yang otoriter dan despotik.

Islam yang dipahami di era Ali Syariati sedang memperjuangkan nilai-nilai yang dikampanyekan adalah Islam yang hanya sebatas agama ritual dan fiqih yang tak menjangkau persoalan politik dan sosial kemasyarakatan yang obyektif dan faktual di sebagian besar masyarakat Iran.

Islam hanyalah dogma untuk mengatur bagaimana beribadah, tetap tidak menyentuh sama sekali cara yang paling efektif untuk menegakkan keadilan, strategi melawan kezaliman, dan petunjuk untuk membela kaum tertindas (mustad’afin).

Wacana Islam mainstream itulah yang dipakai oleh sebagian besar ulama atau mullah Islam Syiah Iran untuk mendukung berbagai kebijakan dan regulasi rezim Reza Shah Iran. Mullah rezimis ini tak mampu berbuat banyak untuk kepentingan penegakan keadilan rakyat. Justru mullah ini menjadi instrumen justifikasi keagamaan atas berbagai kebijakan rezim politik yang despotik.

Ali Syariati menganologikan potret Islam yang demikian itu sebagai Islam gaya penguasa. Sedang Islam otentik di mata Ali Syariati adalah sebuah ideologi emansipasi dan pembebasan. Bahkan, dengan nada lebih lugas, Ali Syariati menyebut jenis Islam Syiah penguasa sebagai Syiah Hitam (Black Shi’ism) dan Syiah Imam Ali Bin Abi Thalib sebagai Syiah Merah (Red Shi’ism). [air/bersambung]

Apa Reaksi Anda?

Komentar