Sorotan

Syiah, Revolusi Islam Iran, dan Pemikiran Politik Ali Syariati (2)

Dari perspektif geopolitik dunia Islam, Iran dan Arab Saudi adalah negara yang berusaha menanamkan peranan dan pengaruh politik dominan di kawasan Timur Tengah dan negara-negara berpenduduk mayoritas Islam di dunia.

Iran menjadikan paham Islam Syiah sebagai mazhab keagamaan yang diakui secara formal oleh negara dan mazhab ini secara resmi menjadi identitas nasional dan sumber legitimasi politik sejak abad XVI, era Dinasti Savafi, dimana ajaran Syiah Imamiyah (aliran mainsteam dalam Syiah) merupakan mazhab utama dalam Syiah dan memiliki kecenderungan apolitis dan terlalu kooperatif dengan penguasa negara.

Paham Sunni yang diterapkan di Arab Saudi, terutama mazhab Wahabi, semula menjadi kekuatan kaum ulama yang bersikap kritis dan menjalankan kontrol ketat terhadap penguasa negara. Dalam perkembangan kemudian, ulama Sunni yang menjadi fenomena dominan di negara-negara yang bermazhab Sunni, misalnya ulama-ulama beraliran Wahabi di Arab Saudi, dalam konteks kekinian posisi politik mereka menjadi terhegemoni sistem politik kerajaan Arab Saudi.

Aliran Wahabi jadi mazhab resmi Arab Saudi dan menjadi sumber legitimasi politik serta moral bagi penguasa di negara kaya minyak tersebut. Semula ulama Wahabi dikenal sangat kritis, tapi di era kekinian mereka dinilai sekadar sebagai stempel bagi kekuasaan sang raja.

Relasi antara ulama dan penguasa politik yang tak berjarak dan menyatu, di mana ulama sebagai sumber legitimasi moral-politik atas kebijakan penguasa di Iran era rezim Shah Iran Reza Pahlevi, mengakibatkan banyak problem keumatan terabaikan.

Seperti tingginya gap sosial ekonomi antarlapisan sosial masyarakat Iran, masih tingginya angka kebodohan dan kemiskinan, penguasaan sumber daya ekonomi oleh segelintir elite, inflasi kultur lokal Iran, modernisasi yang kebablasan sehingga yang terjadi Westernisasi, dan lainnya.

Kontrol ulama lemah di lapangan politik Iran di era rezim Reza Pahlevi mengundang kegundahan banyak intelektual muda Iran, satu di antaranya Dr Ali Syariati. Dr Anjar Nugroho (2019), mengatakan, di saat mayoritas ulama Syiah Iran bungkam dan mengambil posisi politik dengan sikap diam dan menjaga jarak dengan problem sosio politik dan sosio ekonomi yang obyektif terjadi di lapisan mayoritas rakyat Iran, Syariati tampil mengambil peran dengan melontarkan gagasan-gagasan radikal tentang oposisi dan revolusi yang bersumber dari ajaran Syiah yang sudah dicangkokkan dengan tradisi revolusioner negara-negara Dunia Ketiga dan Marxisme.

Syariati berhasil membangun konstruksi bangunan Islam Syiah revolusioner yang lantas ditawarkan sebagai ideologi alternatif di tengah kegandrungan intelektual muda Iran atas Marxisme, sekulerisme, dan nasionalisme. Perspektif dan konteks histori politik negara Iran tak bisa dilepaskan dari relasi ulama (agama) dan penguasa (politik). Bangunan konstruksi ulama dan penguasa yang alpa terhadap problem keadilan politik, ekonomi, dan sosial menjadikan pribadi Syariati ‘berontak’.

Syariati, seorang pakar sosiologi agama dari Sorborne University Prancis ini tak sekadar membidikkan karya intelektualnya kepada penguasa Shah Reza Pahlevi yang despotik dan otoriter. Barisan ulama yang berdiri, merapat, dan sebagai sumber legitimasi politik-moral bagi penguasa yang dhalim, tak luput dari sasaran kritik yang dilontarkan Syariati.

Ulama Iran di waktu itu, sebelum revolusi Februari 1979 meledak, menurut Syariati, telah mengubah Syiah dari kepercayaan religi yang bersifat revolusioner dan progressif menjadi konservatif, menjadi agama negara (din-i dewlah) yang absen atas peran-peran sosial keumatan yang faktual terjadi di lapangan.

“Yang paling tinggi ulama hanya sebatas menekankan sikap kedermawanan (philantropism), paternalisme, dan pengekangan diri secara sukarela dari kemewahan. Bahkan dengan nada lebih keras, Syariati mengatakan bahwa Islam di tangan ulama seperti itu telah menjadi khordeh-I burzhuazi,” kata Dr Anjar Nugroho (2019).

Sebagai intelektual sui generis yang berani melawan tatanan mainstream politik, yang memperoleh dukungan dari komunitas politik formal, militer, intelijen, oligarki ekonomi, ulama yang mengabdi ke Istana yang bersikukuh mempertahankan konservatifnya, Ali Syariati bisa disejajarkan dengan tokoh pembaruan Islam abad XIX dan awal abad XX, seperti M Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Sayyid Quth, Muhammad Iqbal, dan Hasan Al Banna (pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin dari Mesir).

Lalu yang membedakan Syariati dengan para pemikir dari barisan Islam Sunni adalah Syariati lebih radikal dalam mengimplementasikan pemikiran-pemikiran pembaruan Islam dalam perspektif politik, sosial, ekonomi, dan kultur. Karena itu, antara Syariati dengan revolusi Islam Iran yang terjadi pada Februari 1979 merupakan dua hal yang tak bisa dibedakan dan dipisahkan.

Syariati yang wafat di Inggris pada Juni 1977, sekitar satu setengah tahun sebelum revolusi Islam Iran, menjadi tokoh intelektual yang ikut meletakkan dasar-dasar konstruksi gerakan revolusi yang sangat monumental di abad akhir abad XX ini.

“Bahkan, beberapa kalangan menyebut Syariati lebih mempunyai peran dalam revolusi Iran dibandingkan Imam
Khomeini, yang munculnya pada saat-saat setelah secara efektif revolusi berakhir. Misalnya, Zayar dalam bukunya berjudul Iranian Revolution: Past, Present, and Future bahkan menuduh Imam Khomeini sebagai pembajak revolusi Islam Iran dari para pejuang pra-revolusi seperti Syariati,” jelas Dr Anjar Nugroho (2019) dalam bukunya berjudul: Ali Syariati, Revolusi Iran dan Transformasi Politik Indonesia. [air/bersambung]

Apa Reaksi Anda?

Komentar