Sorotan

Surabaya di Mata Tukang Becak

Orang silakan berdebat tentang karakter masyarakat kota Surabaya, tentang makna ikon Sura dan Baya, tentang jiwa kepahlawanan, atau watak maritim karena letak geografis yang di pinggir laut. Tapi, orang tidak boleh melupakan peristiwa besar di tahun 1835.

Pada buku ‘Pandangan dan Gejolak’, William H Frederick menulis bahwa Belanda pada tahun 1835 menggusur banyak sekali wilayah kota Surabaya. Belanda memaksa warga Surabaya (baik etnis Jawa, Madura, Bugis, dan lainnya) untuk angkat kaki dari tempat tinggalnya. Rumah-rumah atau segala apapun yang ditinggalkan warga Surabaya lantas dihancurkan.

Di atas puing-puing runtuhan itu, Belanda membangun pemukiman baru. Sebuah kota baru. Kota yang dilengkapi jembatan-jembatan, kanal-kanal, jalan-jalan beraspal, rumah-rumah bertembok dengan halaman luas dan pohon rindang. Kota yang disiapkan untuk ditempati oleh orang Eropa, China, pribumi kaya.

Seratus tahun setelah awal penggusuran itu, situasi kisaran 1930-an, hunian orang Eropa di kota Surabaya semakin maju. Mereka telah memiliki pelabuhan modern, sistem pemurnian air bersih, jaringan transportasi trem listrik, konstruksi gedung-gedung perkantoran, dan bank. Pemukiman ini mengular sepanjang Kali Mas. Pemukiman yang penghuninya menikmati fasilitas rumah mewah, gedung kesenian, jalan lebar serta bersih, lapangan terbang, dan kebun binatang.

Sedangkan warga pribumi Surabaya hidup berjejalan di kampung-kampung, di belakang perumahan bertembok gaya Eropa. Warga tinggal di rumah yang terbuat dari bambu dan barang-barang bekas. Gang-gang sempit yang kumuh, yang terendam air ketika hujan.

Kultur atau budaya kota Surabaya tahun-tahun itu seperti jiwa pengidap skizofrenia. Jiwa yang terbelah. Orang Eropa, China, dan kaum ningrat yang jumlahnya sekitar 10 persen dari total warga Surabaya bergaya hidup mewah. Sisanya yang sekitar 90 persen terpaksa bergaya hidup proletar.

Bagaimana dengan kota Surabaya saat ini? Di tengah bejibunnya penghargaan nasional dan internasional, apakah kota Surabaya telah cukup ramah terhadap warga kampung? Mari kita simak puisi-puisi yang ditulis oleh Mahdi Omdewo, penyair kelahiran kampung Rangkah Gang V-27, Surabaya, Mei 1961 lalu.

Mahdi Omdewo ketika membaca puisi di Bengkel Sastra, Bengkel Muda Surabaya (BMS)

Mahdi Omdewo adalah penyair yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak. Dia lebih sering menjalani profesi itu dari jam 12 malam hingga pagi hari, saat kota Surabaya cukup lengang dibanding siang hari. Mengapa memilih jam-jam lengang?

Menurut Mahdi Omdewo, pada siang hari, mencari penumpang lebih sulit. Dia harus bersaing dengan becak motor, ojek, bemo, maupun moda transportasi umum lain. Siang hari banyak jalan umum di kota Surabaya yang tidak boleh dilalui oleh becak. Sedangkan pada dini hari, para pesaingnya sudah banyak yang tidur. Dia bersama becaknya juga lebih leluasa menjelajahi jalan-jalan di kota Surabaya.

Lebih dari itu, sebagai tukang becak yang sekaligus penyair, Mahdi bisa melihat kota Surabaya dengan lebih kontemplatif. Dan di saat-saat seperti itu, produktivitas Mahdi menulis puisi tumbuh dengan subur. Di atas becaknya, di bawah temaram lampu, di sela menunggu penumpang, Mahdi Omdewo menulis puisi.

Maka wajar saja, mayoritas puisinya mengambil latar kehidupan seorang tukang becak, latar kehidupannya sendiri. Pahit getir, kegembiraan, obsesi, kepanikan dari seorang tukang becak di tengah metropolitan Surabaya.

Kene biyen lahan basah Cak, masio peteng, ga padang ngene,” celotehnya bergantian, ketika ban becak memijat punggung Kembang Jepun.

Puisi berjudul ‘Konser Trotoar’ yang ditulis tanggal 29 Februari 2004, pukul 04.15 WIB itu memaparkan dialog tukang becak dengan penumpangnya, yaitu 2 orang pengamen. Sang pengamen mengeluh karena daerah Kembang Jepun, sejak dibangun Kya-kya, bukan lagi tempat enak buat mencari rezeki. Banyak tempat usaha yang memasang tulisan ‘bebas pengamen’.

Padahal sebelumnya, walau penerangan tidak terlalu bagus, kawasan Kembang Jepun bagi si pengamen termasuk ‘lahan basah’ alias mudah mendapatkan uang. Kene biyen lahan basah Cak, masio peteng, ga padang ngene.

Pada puisi berjudul ‘Pasar Genteng’ yang ditulis 5 Januari 2004, pukul 00.27 WIB, Mahdi Omdewo memaparkan situasi di sekitar Pasar Genteng pada malam hari sehabis hujan deras. Toko-toko yang telah tutup, warung kopi, sopir yang duduk melipat dengkul, dan gedung-gedung yang mirip setan gelap. Di situ, becakku merambat berliku melaju berasa bebas kendala, karena jalanan lengang, sesunyi hati yang belum dicium penumpang.

Melalui puisi berjudul ‘Prapat Kurung’, Mahdi bercerita tentang situasi malam hari di sekitar Pelabuhan Perak. Digambarkan bahwa musik memekak telinga terdengar dari kafe di sepanjang jalan Prapat Kurung. Tercium pula aroma menyengat. Si tukang becak mendapatkan penumpang 2 Nyong Ambon yang minta diantarkan ke tempat prostitusi.

Cover buku puisi Mahdi Omdewo yang diterbitkan DKS.

Lain halnya pada puisi ‘Peraduan Beroda’. Di situ Mahdi Omdewo menulis apa yang disebutnya perumahan. Perumahan bukanlah rumah tinggal yang berkamar tamu dan dapur, karena hanya cukup buat tidur, pun harus meneguk lutut.

Ternyata perumahan yang dimaksud Mahdi adalah becak-becak yang, saat malam hari, berjajar di jembatan penghubung antara Pasar Besar dan Jagalan. Rumah-rumah yang berpondasikan ban karet.

Begitulah, puisi-puisi Mahdi Omdewo banyak mengisahkan situasi dan kondisi kota Surabaya. Bahwa, berbeda dengan pada zaman Belanda, orang kampung kini telah bebas masuk ke segala penjuru pusat kota. Utamanya pada malam hari.

Meski begitu, orang kampung (diwakili oleh sosok tukang becak) tetap saja bukan bagian bulat dari kemegahan kota. Bukan penikmat. Orang kampung di tengah kota sebatas melihat, penyaksi. Mereka tetap saja proletar.

Uniknya, pemisahan tegas antara tengah kota dengan kampung kini pun lebur. Puisi Mahdi menginformasikan bahwa–terutama pada malam hari- jalanan tengah kota justru disulap bergaya kultur kampung. Pribumi memindahkan kampungnya ke tengah kota ketika matahari terbenam. Ada tenda warung kopi, penjual sayur, rumah berpondasi karet di atas trotoar jembatan, pengamen yang merana. Dan di tengah situasi itu, becak roda tiga bergerak membelah kota Surabaya. [but]

Catatan:
Mahdi Omdewo bakal memaparkan puisi dan proses kreatifnya dalam acara ‘Majelis Sastra Urban’, yang digelar Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Jumat (25/1/2019) malam, di Galeri Surabaya, Balai Pemuda, Jl Gubernur Suryo 15, Surabaya.

Apa Reaksi Anda?

Komentar