Sorotan

Suatu Hari dalam Kehidupan Marpuah

Anggota tim kesehatan Sahabat Pertamina saat berkunjung dan mengecek kondisi Marpuah. (Foto: Angga Aria/ Humas Pertamina)

Suatu hari dalam kehidupan Marpuah. Suaranya jernih membaca ayat-ayat Alquran siang itu, saat Aldi Dwi Adi Mukti mengetuk pintu rumahnya di Dukuh Poh Agung, Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Di rumah tersebut, Marpuah tinggal bersama Sugeng, suaminya, menghabiskan waktu yang tersisa bersama-sama.

“Bu iki lo ono soko Pertamina,” Sugeng masuk ke dalam kamar, memberitahu istrinya. Ia mempersilakan Aldi masuk ke kamar.

Marpuah tersenyum lebar, memamerkan giginya yang tersisa beberapa. Ia sudah lama mengenal Aldi. “Apa kabarnya, Bu?” Anak muda itu menguluk salam dan bersalaman dengan takzim.

Marpuah berusia 61 tahun. Sehari-hari dia menghabiskan waktu di tempat tidur. Kakinya lemas, tak bisa digerakkan. Dia tidak tahu sakit apa. Namun penyakit itu menyandera hari-harinya. “Ini sebetulnya tidak lumpuh, tapi saya tidak kuat berdiri. Penyakit tuwo jarene (penyakit masa tua). Yo wis embuh (ya tidak tahu),” katanya.

Sebelumnya, Marpuah adalah tulang punggung keluarga. Sugeng yang saat masih bugar bekerja sebagai kuli bangunan, mendadak sering sakit pada usia senjanya. Marpuah pun berjualan sayur keliling untuk makan dan membiayai anak pertamanya kuliah dan lulus perguruan tinggi. Dia juga yang mendampingi sang anak selama dirawat di Surabaya hingga meninggal dunia karena terserang penyakit Lupus. Sebelumnya, anak kedua Sugeng dan Marpuah meninggal saat masih kecil.

Desember 2017, setelah sang anak meninggal dunia, Marpuah mendadak seperti terserang lumpuh. Saat tubuhnya digerakkan, rasa sakit menusuk. Pinggangnya tak kuat untuk duduk, sehingga ia harus merebahkan badan agar bisa membaca Alquran. “Kalau sambil tiduran, membaca Alquran selama satu jam pun kuat. Kalau mata, saya tak pernah pakai kacamata. Untung Bapake ini masih cekatan merawat. Saya tidak bisa ke belakang sendiri,” katanya.

Marpuah tidak pernah memeriksakan diri ke rumah sakit. “Siapa yang mau menggotong saya. Sudahlah dirawat di rumah saja,” kata perempuan bertubuh besar dan gemuk ini.

Lalu suatu hari dalam kehidupan Marpuah, Ahmad Rofik Singgih datang mengulurkan tangan. Ia adalah anggota tim kesehatan Sahabat Pertamina yang rutin berkunjung dan mengecek kondisi Marpuah. Rofik bukan dokter. Namun ia memberikan apa yang dibutuhkan pasangan tua yang kehilangan anak mereka: persahabatan.

Rofik membantu Marpuah belajar untuk menggerakkan kaki agar tak lagi sakit setiap hari. “Terapi sendiri, Bu,” katanya.

Rofik juga yang mengajarkan bagaimana cara membuat ramuan herbal sereh dan jahe sebagai obat. “Jangan terlalu banyak minum obat kimia,” katanya kepada Marpuah.

Dan harapan itu pun datang: Marpuah mulai bisa menggerakkan kakinya tanpa rasa sakit. Desember nanti genap dua tahun ia menderita penyakit itu. Namun kondisinya jauh lebih baik saat ini. “Kalau dulu seluruh badan sakit semua. Sekarang kok hilang sakitnya,” katanya.

“Alhamdulillah, ada Pertamina, gratis. Mungkin itu utusan gusti Allah. Ada pertolongan lewat siapapun, pasrah,” kata Marpuah.

Marpuah tak sendirian. Program Sahabat Pertamina yang dikelola Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field di Bojonegoro memiliki 240 keluarga binaan yang tersebar di Desa Ngampel, Sambiroto, dan Campurejo. Tiga desa ini adalah desa terdekat dengan Lapangan Sukowati, lokasi dua pad sumur minyak yang saat ini dikelola Pertamina EP dan mulai berproduksi pada Juli 2004 silam.

Sahabat adalah akronim dari Kesehatan Berbasis Masyarakat dan dimulai pada 1 Agustus 2018. Program ini dijalankan untuk menjawab ketidakpercayaan masyarakat dan melakukan pendekatan kultural melalui sektor kesehatan. Bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Husada Bojonegoro, Pertamina memberikan dua edukasi sekaligus: kesehatan dan migas.

Tim Sahabat Pertamina terdiri atas enam orang yang bekerja 24 jam setiap hari dan dilengkapi mobil kesehatan. Prioritas utama mereka adalah mengatasi situasi tidak normal yang diakibatkan ekses eksploitasi sumur minyak di Sukowati seperti kebocoran bau. Namun belakangan peristiwa tidak normal itu sangat jarang terjadi. Dalam setahun terakhir, hanya ada dua laporan kebocoran bau. Maka program ini bisa berkonsentrasi membantu edukasi kesehatan secara umum. Selain memiliki keluarga binaan, Sahabat Pertamina juga menggelar pengobatan masyarakat rutin setiap empat bulan sekali yang bisa diikuti ratusan orang warga sekitar.

Tim Sahabat Pertamina memberikan edukasi mengenai pola makan sehat. Tim menemukan fakta sebagian warga yang dirawat menderita hipertensi, diabetes, dan kolesterol. Maryati, warga Dusun Ploso Lanang, mengalami stroke satu setengah tahun silam. Tekanan darahnya tinggi. Semula dia tak bisa berjalan dan tangan kanannya tak bisa digerakkan. Tim Sahabat Pertamina rutin menjenguk dan membantu terapi hingga akhirnya Maryati bisa menggerakkan tangan kanannya lagi.

“Ini karena kebiasaan pola makan yang jelek. Makanan mereka identik dengan rasa asin, punya kebiasaan makan saat malam hari, dan kebiasaan berkali-kali menghangatkan sayur lodeh yang sudah berhari-hari dimasak,” kata Aldi.

Semula warga tak terlampau peduli dengan program ini. Namun belakangan, ekspektasi mereka berlebih. “Mereka minta penanganan kesehatan lebih jika ada penyakit. Tapi kami kan hanya pertolongan pertama sebelum mereka ke rumah sakit,” kata Aldi.

Sahabat Pertamina juga meminjamkan mobil kesehatan untuk mengantarkan warga ke rumah sakit dengan ketentuan 20 menit harus sudah kembali ke markas di salah satu ruangan di kantor Desa Ngampel. “Pernah kami tengah malam didatangi warga yang mau melahirkan dan minta diantarkan ke rumah sakit,” kata Agus Purwantoro, anggota tim lainnya.

Melubernya ekspektasi ini sebenarnya adalah kabar baik bagi Pertamina. Warga desa mulai bisa menerima dan hidup berdampingan dengan pengeboran sumur minyak yang sebelumnya beberapa kali memunculkan resistensi. Apalagi mayoritas warga yang mendapat perawatan adalah orang-orang lanjut usia. “Sekarang warga sekitar kenal kami. Kalau ada acara makan-makan, kami selalu diundang,” kata Aldi.

Sebagian warga menganggap anggota tim tak ubahnya anak sendiri. Seperti Marpuah. Dan, pada suatu hari dalam hidupnya, Rofik berpamitan akan pergi ke Surabaya untuk menikah dan bekerja di sana. “”Yo wis, saya menyumbang doa.” Marpuah mengucapkannya dengan tulus.

Setelah Rofik berhenti dari program Sahabat Pertamina, giliran Aldi yang rutin berkunjung ke rumah Marpuah. Ia juga merawat Sugeng yang sempat terluka pada bagian kaki saat melakukan kerja bakti. Luka itu tak kunjung sembuh. “Kakinya di bagian jempol pecah-pecah. Maunya kulitnya diiris-iris sendiri, saya marahi: bahaya. Akhirnya lama-lama sembuh sendiri,” kata Marpuah.

Dan orang-orang baik tetap datang dan pergi dalam kehidupan Marpuah. Mengulurkan tangan dan persaudaraan, yang seperti katanya: ‘mungkin itu utusan gusti Allah. Ada pertolongan lewat siapapun.’ [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar