Sorotan

Siasat The Guardian

Ainur Rohim

Selalu muncul pertanyaan: Apakah media massa konvensional mampu bertahan hidup di tengah serangan sangat kencang media sosial? Pertanyaan tersebut mengindikasikan makin beratnya media massa konvensional dalam menapaki bisnis media massa di era kekinian. Era disruption yang kerapkali gagal dipahami banyak kalangan. Termasuk oleh mereka yang sudah lihai dan berhasil dalam dunia bisnis selama puluhan tahun.

Manajemen dan pengelola media massa mesti menyadari bahwa era perubahan telah datang dan menerjang. Yang
konvensional, sedikit tapi pasti, terus dihantam dan ditelan hal-hal baru yang seringkali tak pernah diestimasikan. Dalam 5 tahun terakhir, pengelola media massa cetak (koran) yang paling merasakan bagaimana kerasnya pengaruh platform media massa berbasis online dalam menghantam kinerja bisnisnya. Utamanya media sosial (Medsos).

Pola kompetisi media massa telah mengalami perubahan sangat substansial. Pola kontestasi lama antara media massa versus media massa atau antara media massa cetak versus media massa online, ternyata dalam konteks
kekinian telah mengalami transformasi bentuk kontestasi menjadi: Media massa versus media sosial.

Banyak kue iklan maupun pembaca, audiens, dan lainnya yang puluhan tahun menjadi sandaran income bisnis media massa konvensional kini beralih ke medsos. Kue iklan tetap besar. Volume dan kebesaran nilai kue iklan tersebut telah beralih ke media sosial seiring dengan banyak tawaran kemudahan dan kelebihan media sosial vis a vis media massa konvensional.

Data di tingkat global mengutip Hootsuite (2019) menunjukkan bahwa jumlah penduduk dunia mencapai 7,6 miliar jiwa, dengan jumlah mengguna handphone (smartphone) mencapai 5,1 miliar orang. Jumlah pengguna internet sebanyak 4,3 miliar orang, jumlah pengguna medsos secara aktif sebanyak 3,4 miliar orang dan jumlah pengguna medsos secara aktif dengan mobile phone mencapai 3,2 miliar orang. Realitas ini menunjukkan, lebih dari 50 persen penduduk dunia telah terkoneksi internet. Dan nyaris 50 persen pula di antara penduduk dunia tersebut aktif bermedsos ria dengan instrumen perangkat keras teknologi informasi yang dipakai. Bisa memakai smartphone, personal computer (PC), laptop, dan lainnya.

Bila kita telisik lebih dalam, fenomena makin menguat dan mengakarnya media sosial makin terlihat. Mengutip
data Hootsuite (2019), jumlah pengguna Facebook di seluruh dunia mencapai 2,2 miliar orang, Youtube dengan 1,9 miliar orang, WA dengan 1,5 miliar orang, FB Messenger dengan 1,3 miliar orang, WeChat dengan 1,083 miliar orang, Instagram dengan 1 miliar orang, dan Twitter hampir 1 miliar orang.

Bagaimana dengan Indonesia? Data pada bulan Januari 2017 menunjukkan, jumlah penduduk Indonesia sekitar 262 juta jiwa. Penduduk yang mengakses internet sebanyak 132,7 juta jiwa, yang aktif di media sosial sebanyak 106 juta jiwa, jumlah HP yang beredar sebanyak 371,4 juta unit HP, dan aktif di media sosial dengan smartphone atau HP sebanyak 92 juta jiwa.

Dengan gambaran tersebut, ternyata di Indonesia jumlah HP atau smartphone jauh lebih banyak dibanding jumlah
jiwa penduduk secara nasional. Sangat banyak penduduk Indonesia yang memiliki lebih dari 1 unit HP dan sebagian besar penduduk Indonesia yang bermedia sosial memakai perangkat keras smartphone atau HP miliknya.

Media sosial adalah fenomena global dan merupakan realitas yang mengikuti konsep besar globalisasi, yang bercirikan penyatuan ekonomi antarnegara nyaris tanpa batas regulasi ekonomi dan politik satu negara. Tak
ada yang mampu menolak media sosial, terkecuali kebijakan politik informasi negara tersebut bersifat tertutup, seperti Korea Utara. Media sosial adalah open source yang menghantam apa-apa yang mapan, status quo, dan konvensional selama puluhan tahun terkait dengan instrumen dan platform delivery informasi.

Sebenarnya tak ada yang berubah dari produk yang di-delivery-kan: pesan. Baik berupa teks (narasi), gambar
bergerak, foto, suara, dan kombinasi semuanya. Yang berubah adalah instrumen platform media massa dan teknologi untuk men-delivery pesan tersebut.

Bagaimana strategi dan siasat media massa konvensional menghadapi serangan ini? Konsultan dan pengamat media
massa mungkin menyarankan agar manajemen dan pengelola media massa konvensional mengubah pola berpikirnya. Tak lagi berpikir status quo dan terus menggeber kiat-kiat lama dalam menjalankan bisnisnya. Bahasa populernya mesti berpikir out of the box.

Cuma substansi pola berpikir out of the box itu seperti apa? Isi out of the box yang tak sekadar normatif-teoritis, tapi bersifat inovatif-aplikatif. Percuma menghasilkan substansi berpikir out of the box, tapi tak mungkin dijalankan secara praktis di lapangan, karena ada begitu banyak kendala. Yang dibutuhkan adalah substansi out of the box yang aplikatif, efektif dan efisien dalam konteks cost bisnis, dan menghasilkan output yang maksimal dalam perspektif ekonomi bisnis.

Strategi dan siasat bisnis yang dijalankan manajemen media massa The Guardian dari Inggris layak disimak
dan diikuti. Pada periode 2015-2017, perusahaan media ini sempat merugi sebesar 57 juta poundsterling. Tapi
di tahun 2018-2019, perusahaan ini mampu membukukan profit sebesar 800 ribu poundsterling. Apa strategi
bisnis yang dijalankan manajemen The Guardian?

Manajemen media massa ini sangat menyadari bahwa trust dari pembaca adalah segala-galanya. Pembaca bukan
sekadar mengindikasikan oplah dan pageview yang diakses pengguna The Guardian. Tapi, mereka hakikatnya sumber pendapatan yang bersifat sustainable. Menyadari bahwa mempertahankan pembaca dengan trust tinggi hanya bisa dilakukan dengan menjaga kualitas konten berita yang disajikan The Guardian. Sedang berita berkualitas salah satunya mensyaratkan independensi manajemen perusahaan massa tersebut atas kaum pemilik modal (Kapital).

Dengan prinsip ingin menyajikan berita-berita berkualitas tinggi dan bersih dari intervensi kaum kapital, manajemen The Guardian mempersuasi dan memobilisasi pembaca setianya untuk bersedia berdonasi kepada media massa ini. Dari setiap berita yang dibaca di laman The Guardian, ada boks yang mengarahkan pembaca melakukan donasi secara online, baik melalui Visa Master Card, America Express, dan lainnya. Nilai donasinya bersifat opsional. Ada yang sebesar USD 25, USD 50, USD 100, dan lainnya.

Sedangkan pembaca The Guardian yang berlangganan disediakan box donasi USD 5, USD 10, USD 20, dan seterusnya. Langkah manajemen The Guardian menabrak pakem lama media massa konvensional terkait cost operasional perusahaan: dari revenue iklan kepada revenue donasi pembaca setia. Pola ini makin menyandarkan dan meneguhkan basis legitimasi media massa: society.

Bukan kaum kapitalis dan rezim politik kekuasaan sebagai basis legitimasi bisnis dan redaksional media massa. Dengan siasat dan strategi bisnis tersebut, The Guardian mampu keluar dari kungkungan kerugian yang terus melonjak akibat pergeseran pola konsumerisme media: dari media massa konvensional kepada media sosial.

Itu langkah cerdas dan brilian The Guardian. Menyikapi potret buram masa depan media massa konvensional akibat serangan media sosial panaceanya bukan merapat kepada kekuasaan, tapi bersandar kepada society. Prinsip dasar media massa nonpartisan menjadi pembeda paling tegas dan jelas via a vis media sosial. [air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar