Sorotan

Saat Andik Vermansah Diperlakukan Seperti Sterling

Andik Vermansyah Usai Laga Melawan Persebaya Surabaya

Andik Vermansah berdiri di tepi lapangan. Menit 56. Skor masih 0-0. Ini pertandingan semifinal Piala Presiden di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (3/4/2019). Dia masuk ke lapangan menggantikan David Laly.

Gelra Bung Tomo sudah dianggapnya sebagai rumah. Terakhir, dia bermain dengan seragam hijau dengan nomor punggung 7 pada 21 September 2013 dalam pertandingan Persebaya (1927) melawan Pro Duta. Kini dia datang kembali. Tak ada nomor punggung 7 dan 10, dua nomor yang pernah dipakainya selama di Persebaya. Ia kini datang dengan seragam merah setrip putih, dengan nomor punggung 30: memperkuat Madura United.

Masuknya Andik menjawab spekulasi dan pertanyaan banyak orang, terutama Bonek, menyusul sekian kehebohan dan kontroversi yang mengiringi perekrutannya oleh Madura United. Perselisihannya dengan Presiden Persebaya Azrul Ananda. Kehebohan video kehadirannya di tengah tribun stadion sebagai Bonek dalam Youtube. Klarifikasi soal proses kepindahannya ke Madura United dan kegagalannya menjadi pemain Persebaya. Dalam satu musim kompetisi, Andik lebih dikenal karena kontroversi yang mengiringinya daripada kecakapan menggiring bola yang pernah membuat David Beckham harus menekelnya dengan keras.

Bonek sempat dihebohkan dengan bocoran klausul kontrak dengan Madura United yang memperbolehkan Andik tidak turun membela klubnya itu jika berhadapan dengan Persebaya. Sebuah klausul yang ganjil, sekaligus menunjukkan bagaimana tempat Persebaya dalam hati Andik. Bahkan sampai jelang pertandingan melawan Madura United, kemungkinan bakal diturunkannya Andik Vermansah masih ramai dibicarakan di media sosial.

Dan pertanyaan itu terjawah pada menit 56. Andik masuk tanpa aplaus, kecuali dari suporter Madura United. Ini bukan perjamuan, dan ucapan selamat jumpa disampaikan Bonek dengan teriakan ‘huuu’ setiap kali Andik membawa bola. Sore itu hanya Andik yang mendapatkan teriakan ‘huuu’. Bahkan Asep Berlian yang bermain kasar dan mendapat kartu merah pun sama sekali tak diusik oleh Bonek.

Hari itu teriakan teror kencang hanya untuk Andik: seorang pemain yang pernah menolak bermain untuk klub Indonesia mana pun setelah Persebaya dimatikan PSSI. Seorang pemain yang pernah mengecam PSSI terang-terangan di media massa karena dualisme Persebaya, saat tak ada yang berani menerka klub itu akan kembali bangkit. Seorang pemain yang bersedia memenuhi panggilan tim nasional saat banyak pemain menolak bermain karena dihalangi klub mereka akibat perpecahan federasi.

Hari itu Andik diperlakukan tak ubahnya Raheem Sterling, pemain Liverpool yang pindah ke Manchester City dengan diiringi kontroversi. Setiap kali kembali ke Anfield melawan mantan timnya, Sterling menjadi pemain yang paling sering diteror dengan teriakan mencemooh.

Obed Bima Wicandra, seorang Bonek dan juga dosen salah satu perguruan tinggi swasta, menyebut apresiasi berupa teriakan ‘huuu’ dari sebagian penonton di GBT tidak masuk akal. “Seharusnya ta ada ‘huu’. ‘Huu’ di lapangan sepak bola berarti ungkapan kekecewaan. Mungin ada Bonek yang terlanjur termakan isu kalau Andik tidak di Persebaya karena uang besar di Madura,” katanya.

Rojil Nugroho Bayu Aji, penulis buku sejarah sepak bola Surabaya, juga sependapat dengan Obed. “Ketika ada mantan pemain yang hadir kembali sebagai lawan, tidak perlu di-‘huuu’,” katanya.

Rojil mengatakan, Andik memiliki sejarah panjang dengan Persebaya. “Jadi biarkan Andik bermain secara profesional karena pemain berpindah klub adalah sesuatu yang wajar,” jelasnya.

Husein, seorang Bonek di tribun utara, menyayangkan sambutan terhadap Andik. Dia bisa memahami jika teriakan ‘huu’ itu untu meruntuhkan mental. “Tapi kalau ada maskud lain, perlu dipertanyakan. Memangnya Andik salah apa,” katanya.

Hasan Tiro, salah satu Bonek di tribun timur, melihat ini konsekuensi profesionalisme. “Mereka (penonton) menganggap Andik adalah lawan dari klub yang mereka dukung,” katanya.

Andik sendiri bermain tanpa senyum lepas. “Kasihan. Dari mainnya saja sudah setengah hati. Lari mengerem, tidak mau los,” kata Dita Indah Novianti, salah satu Bonek wanita.

Husein justru melihat sebaliknya. “Saya masih respek dengan Andik. Mainnya masih tetap ngosek dan menunjukkan profesionalisme seorang pemain,” katanya.

Andik memang masih sempat menunjukkan kepiawaiannya melewati pertahanan Persebaya, melepaskan dua tembakan dari luar kotak penalti, salah satunya berupa bola lob ke arah gawang yang kosong karena ditinggalkan kiper Miswar Saputra. Andai bola lob itu masuk ke gawang….

Puncaknya adalah saat pertandingan berakhir. Andik menjadi satu-satunya pemain Madura United yang berdiri di lingkar tengah lapangan, menghadap 50 ribu penonton yang menyanyikan Song for Pride.

Dan Andik menangis. Menangkupkan tangan, menutupi wajahnya. Otavio Dutra di sebelahnya merangkulnya. Rendi Irwan memeluknya usai lagu dinyanyikan. Kapten kedua Persebaya Misbakus Solikin mendatangi dan menepuk bahunya. “Susah diungkapkan kata-kata, memang sangat berat bagi saya,” katanya.

Persebaya menang 1-0 pada leg pertama itu. Namun adegan Andik yang menangis mungkin kelak akan lebih banyak dikenang daripada gol Manu Jalilov pada menit 64 yang menjadi pembeda hasil pertandingan. [wir]

Apa Reaksi Anda?

Komentar