Sorotan

Ribuan Boneka pada Suatu Sore di GBT

Heal the world
make it better place
for you and for me
and the entire human race

Lagu Heal The World yang Michael Jackson terdengar lebih menggetarkan, saat puluhan ribu boneka beraneka ragam melayang di udara bak air bah dari empat penjuru tribun Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (29/3/2019) sore. “Pas lirik ini iso mbrebes mili (meneteskan air mata),” kata Bimo, salah satu Bonek.

Pertandingan Persebaya melawan PS Tira Kabo dalam perempat final Piala Presiden memasuki masa jeda. Persebaya unggul 1-0 lewat gol hasil tendangan ‘bersepeda’ Manu Jalilov pada menit 2. Gol itu membuat 43.230 Bonek bersorak. Namun hari itu momentum yang mungkin paling dinanti adalah aksi lempar ribuan boneka oleh Bonek.

Aksi ‘One Man One Doll’ itu meniru aksi para suporter sepak bola di Spanyol. Sebuah aksi kemanusiaan: boneka-boneka itu nantinya dihadiahkan kepada anak-anak penderita kanker yang dirawat di seluruh rumah sakit di Jawa Timur.

Ide ini muncul setelah Ivo Ananda, istri Presiden Persebaya Azrul Ananda, mengunjungi anak-anak pengidap kanker di RS dr. Soetomo bersama dua maskot klub, Jojo dan Zoro. Jumlah hadiah boneka yang mereka bawa ternyata tak mencukupi.

Ide aksi lempar boneka ini disambut gembira oleh banyak orang. “Bahkan ada yang nge-share juga di grup ibu-ibu. Bilang jangan lupa bonekanya, jangan lupa bonekanya. Jadi kalau dikatakan istri gimana nih tanggapan apa antusias. Pasti antusias sekali,” kata Devina Ferling, istri gelandang Persebaya Misbakus Solikin, sebagaimana dikutip situs Emosi Jiwa.

Aksi One Man One Doll menjadi salah satu potongan puzzle ‘humanisme sepak bola’ Persebaya dan para suporternya. Dilihat dari sejarah pembentukan mayoritas klub sepak bola di dunia, tak ada yang terlepas dari komunitas masyarakat sekitar mereka. Klub sepak bola adalah representasi identitas dan wajah masyarakat sebuah kota. Itulah kenapa kemudian kita tahu, banyak klub sepak bola yang terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan bagi warga kota mereka.

Sebelumnya, Bonek, sebutan komunitas suporter Persebaya, sudah melakukan sekian aksi kemanusiaan. Mereka membentuk sekelompok relawan untuk diberangkatkan ke Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, dan Jawa Barat untuk membantu korban bencana gempa bumi dan tsunami. Sejauh ini, Bonek adalah satu-satunya komunitas suporter sepak bola yang memiliki unit khusus penanganan korban bencana.

Bonek juga membangun sebuah panti asuhan di Sidoarjo dan mendapat dukungan langsung dari Azrul Ananda. Persebaya sendiri punya tradisi mengunjungi panti asuhan setiap kali akan bertanding, kandang maupun tandang. Ini sebuah tradisi yang merentang panjang selama puluhan tahun sejak masa kompetisi perserikatan.

Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara menyebut aksi itu memberikan harapan besar kepada anak-anak penderita kanker, melalui pesan positif yang diberikan di dunia olahraga. “Dukungan Bonek yang bisa menjadi ‘suporting system’ bagi anak-anak penderita, palliative care, dan menjadi pemangku kepentingan kampanye peduli kanker di Indonesia,” katanya.

Persebaya dan Bonek memperbarui tradisi humanisme dalam sepak bola. Ini tentu jauh lebih baik ketimbang perilaku menyanyikan lagu-lagu berlirik kebencian dan permusuhan. Aksi ini juga melengkapi tradisi bermain sepak bola indah dan sportif yang tengah dibangun Persebaya.

Humanisme sepak bola di tribun tak berbanding lurus dengan apa yang ditunjukkan pemain-pemain PS Tira Kabo di lapangan. Dua pemain dikenai kartu merah karena menyerang wasit Handri Kristanto, Muhammad Rifad Marasabessy dan Manahati Lestusen. Mereka menilai Handri salah mengambil keputusan dengan memberikan hadiah penalti dan mengabsahkan gol ketiga Persebaya. Dua gol yang dicetak Damian Lizio pada menit 88 dan Amido Balde pada menit 90+1 menghancurkan asa PS Tira Kabo, setelah sempat menyamakan kedudukan pada menit 62 melalui tandukan Osas Ikpefua.

Ada ribuan anak kecil di Gelora Bung Tomo sore itu. Sebagian besar mungkin juga bermain sepak bola. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan, saat melihat wasit dikejar-kejar, hendak dihantam, dan bahkan Rifad mengacungkan jari tengah. Sementara mereka yang pernah bermain kompetisi sepak bola anak-anak antarbangsa diharuskan mencium tangan wasit sebelum dan sesudah pertandingan. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar