Sorotan

Liga 1 Pekan 27

Reparasi Mental Ala Aji di Pakansari

Aji Santoso, Pelatih Persebaya

Hanya keajaiban yang bisa membuat kiper ketiga sebuah klub sepak bola di Indonesia bisa tampil di kompetisi resmi. Indonesia berbeda dengan Inggris yang memiliki tiga kompetisi domestik (liga, Piala FA, dan Piala Liga) yang mengharuskan sebuah klub mengatur rotasi pemain. Kiper ketiga bisa tampil di ajang Piala Liga, sebagaimana Caoimhin Kelleher yang diturunkan dalam skuat inti Liverpool saat menghadapi Arsenal di Anfield.

Kelleher kebobolan lima gol dalam waktu normal. Namun pemuda berusia 20 tahun itu bisa membuktikan diri menjadi pahlawan dalam adu penalti dengan menahan bola tendangan Dani Ceballos.

Indonesia hanya memiliki satu kompetisi domestik rutin (abaikan Piala Indonesia yang tak jelas jadwalnya), yakni kompetisi liga. Maka tampilnya kiper ketiga Persebaya, Imam Arief, di bawah mistar gawang menghadapi PS Tira Kabo di Stadion Pakansari, Bogor, Sabtu (9/11/2019), bisa dimaknai dua hal. Pertama, ini sebuah pertaruhan seorang Aji Santoso. Kedua, ini cara Aji mereparasi mental pemain Persebaya.

Ini bisa disebut pertaruhan, karena Imam sama sekali belum pernah masuk dalam skuat inti. Miswar Saputra selalu menjadi pilihan utama. Jika Miswar absen, kiper nomor dua Abdul Rohim selalu tampil. Namun jam terbang Imam Arief yang minim bersama Persebaya tak membuat Aji gentar. Ia mengambil risiko dengan tetap mempercayai Imam Arief, kendati Persebaya memiliki beban meraih angka di Pakansari setelah tren negatif dalam dua pertandingan terakhir.

Namun di tengah pertaruhan itu, sebenarnya Aji tengah merevolusi mental para pemain yang sedang anjlok. Absennya Irfan Jaya, Osvaldo Haay, Rachmat Irianto, Miswar Saputra justru menjadi momentum untuk mengembalikan kepercayaan diri yang hilang. Selain memasang Imam Arief, Aji berani meletakan Otavio Dutra dan David da Silva di bangku cadangan. Dia memilih memasang Andri Muliadi untuk berduet dengan Hansamu Yama Pranata di posisi bek tengah, dan Elisa Basna bersama Oktafianus Fernando dan Rendi Irwan di posisi belakang Diogo Campos yang menjadi penyerang tunggal dalam formasi 4-2-3-1.

Pesan Aji terang benderang: tidak ada bintang yang bersinar terlalu benderang di Persebaya. Semua pemain memiliki kesempatan dan tanggung jawab yang sama, dan Aji hanya akan memilih pemain yang siap. Ini ditangkap dengan baik oleh Ruben Sanadi, sang kapten. “Terima kasih Coach percaya semua pemain. Kalau dipercaya sama Coach, semua bisa bermain dengan baik,” katanya.

Awalnya, pertaruhan Aji tampaknya bakal dibayar mahal. Detik 47, bola tandukan Osas Saha memanfaatkan tendangan bebas Wawan Febriyanto masuk ke gawang Imam Arief. Hansamu gagal berduel di udara dengan Osas. Sementara Imam Arief terburu-buru maju meninggalkan gawang tanpa menjangkau bola.

Tertinggal 0-1 melalui gol cepat, skenario kekalahan Persebaya kembali terbaca di depan mata. Namun ini Persebaya yang berbeda. “Saya pelan-pelan mengembalikan ciri khas bermain Persebaya: bola satu dua sentuhan dan bola bawah,” kata Aji.

Permainan bola-bola bawah dan operan dari kaki ke kaki ini yang diperagakan Ruben Sanadi dan kawan-kawan dalam pertandingan sore itu. Melalui cara membangun serangan dari kaki ke kaki dengan sabar, akurasi operan Persebaya meningkat menjadi 84 persen dari pertandingan-pertandingan sebelumnya yang rata-rata di bawah 80 persen. Statoskop Jawa Pos juga mencatat, Persebaya menguasai alur permainan hingga 56 persen.

Bahkan Persebaya lebih rajin melakukan tembakan: 19 kali, tujuh kali di antaranya akurat. Sementara Tira Persikabo hanya mencatatkan lima tembakan akurat dari tujuh kali percobaan. Dari aspek statistik, permainan Persebaya lebih baik saat menghadapi lawan yang sama di Gelora Bung Tomo pada putaran pertama. Saat itu, Persebaya hanya mencatatkan empat tembaan tepat sasaran dati 18 kali percobaan. Sementara Tira membukukan enam tembakan tepat sasaran dari total 16 tembakan.

Mulanya Tira memang merepotkan pertahanan Persebaya. Setelah mencetak gol cepat, mereka melakukan pressing ketat sejak zona pertahanan Persebaya. Pelatih Rachmad Darmawan agaknya menginstruksikan para pemain seperti Osas Saha, Sansan Husaeni, Wawan Febriyanto untuk tak buru-buru mundur ke daerah pertahanan sendiri saat pemain Persebaya menguasai bola. Mereka harus berusaha merebut bola dan melakukan recovery sesegera mungkin.

Namun, pressing tinggi Tira tak bertahan lama. Mulai menit 10, para pemain Tira memilih menunggu di zona pertahanan sendiri dan membiarkan pemain Persebaya maju. Ini membuat para pemain Persebaya semakin nyaman memainkan operan dari kaki ke kaki. Kepercayaan diri membangkitkan sesuatu yang lama hilang dari pemain Persebaya: kenikmatan bermain tanpa beban. “Saya menyampaikan kepada pemain untuk bermain senikmat mungkin, bermain enjoy. Saya beri mereka kepercayaan,” kata Aji.

Hasilnya positif. “Yang luar biasa ketika ketinggalan tidak down,” kata Aji.

Bagai tetesan air yang pelain-pelan menggerus batu. Itulah yang dilakukan para pemain Persebaya. Mereka berkali-kali membangun serangan dari sisi kanan bagai air yang menggerus batu benteng pertahanan Tira. Menarik, karena sore itu, Abu Rizal Maulana lebih terlihat rajin membantu serangan dibandingkan Ruben Sanadi di sisi kiri.

Menit 10, Abu Rizal berani sendirian berlari menerobos kotak penalti Tira dan bermain bola satu sentuhan dengan Diego Compos. Dia sudah berhadapan dengan kiper Syahrul Fadil. Namun bola tendangannya menghantam sisi kiri luar jala gawang Tira. Menit 11, giliran Oktafianus melepasan tembakan jarak jauh. Bola berhasil ditepis Syahrul.

Gol balasan Persebaya terjadi pada menit 35 melalui skema bola mati. Dari sisi kiri pertahanan Tira, Ruben Sanadi mengirimkan bola tendangan bebas ke kotak penalti. Bola ditanduk Oktafianus dan mengarah ke pemain belakang Tira, Zoubairou Garba. Bola mengenai dada Garba dan melenting liar. Bola kembali ke arah Oktafianus, dan hanya tersentuh sedikit dan berbelok ke arah Rendi Irwan yang berdiri tanpa kawalan. Tinggal sontek: 1-1.

Dua serangan dari sisi kiri pertahanan Tira seharusnya berbuah gol jika Compos lebih klinis dalam penyelesaian akhir. Bola operan matang masing-masing dari Abu Rizal dan Aryn Williams hanya berujung pada hantaman di jala luar gawang.

Sore itu, selain Abu Rizal yang bermain cepat, Elisa Basna layak mendapat pujian karena pergerakannya di sisi kiri dan kanan pertahanan Tira. Kecepatannya dalam menggiring bola membuat pemain Tira kerepotan.

Bola mati menjadi kunci keunggulan Persebaya pada menit 51. Dari titik tendangan bebas di sisi kanan pertahanan Tira, Compos mengirimkan bola lambung ke arah Aryn Williams. Tandukan Williams menaklukkan Syahrul.

Menit 65, Ruben nyaris membobol gawang Tira dari tendangan bebas pula. Namun bola yang sudah melewati jangkauan Syahrul justru menghantam mistar gawang.

Menit 70, giliran Khursed Beknazarov mencetak gol ke gawang Persebaya melalui skema tendangan bebas dari Wawan Febriyanto. Bola masuk ke kotak penalti dan memantul di depan gawang Imam Arief. Khursed berhasil memanfaatkan dengan tandukan.

Menit 79, Dutra yang baru masuk menggantikan Andri Muladi menarik Osas Saha di kotak penalti Persebaya. Kesalahan mendasar oleh seorang pemain bertahan naturalisasi asal Brasil. Namun memang Osas terlampau cepat dibandingkan Dutra.

Ini momentum di mana seharusnya Tira unggul dan Persebaya pulang dengan tangan kosong. Namun Ruben mendatangi Imam Arief. “Kamu harus percaya diri. Yakin bola tidak akan masuk,” katanya kepada sang kiper.

“Kakak harus percaya sama saya. Teman-teman harus percaya sama saya, bola ini tidak akan masuk,” jawab Imam, sebagaimana dituturkan ulang Ruben. Dan Imam menjawab kepercayaan itu dengan menepis bola tendangan penalti Osas. Ia bergerak ke arah kanan dan skor pun tetap 2-2.

Kepercayaan diri. Itulah hal berharga yang kembali pada tim Bajul Ijo di Pakansari. Mereka percaya bahwa masih ada jalan untuk menang dan bangkit dari kekalahan. “Untuk pertandingan selama 90 menit tidak boleh down. Apapun yang terjadi sepanjang peluit panjang belum berbunyi, masih bisa,” kata Aji. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar