Sorotan

Posisi Unik PSI di Pilwali Surabaya

Ribut Wijoto

Posisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) cukup unik dalam ajang Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya tahun 2020. Sebagai partai baru, PSI cukup sukses menggarap ceruk-ceruk yang luput dari fokus semua partai lama. Milenial. Dan tentu saja, bukan sekadar milenial. PSI bisa diharapkan mengisi kejenuhan masyarakat Surabaya pada jargon partai politik.

Dalam beberapa dekade terakhir, citra partai politik semakin jatuh. Salah satu penyebabnya, kian banyak politisi masuk penjara gara-gara korupsi. Mereka dinilai tidak menjalankan amanah rakyat dan justru mengkhianatinya. Padahal di mimbar selama kampanye, semua politisi selalu berteriak anti korupsi.

Situasi itulah yang membuat kalangan muda (kaum milenial) cenderung tidak respek pada politisi. Termasuk pula pada partai politik. Kadang sampai ada anggapan, kaum milenial mencoblos dalam pemilu bukan karena kepercayaan pada partai politik namun lebih karena mereka tidak ingin masuk dalam barisan golongan putih (golput). Selebihnya, mereka bersimpati pada figur tertentu.

PSI datang dengan visi yang berbeda, bekal yang lain. Didirikan usai Pemilu 2014, PSI menghindari perdebatan tentang ideologi. Mereka lebih suka mengusung hal ihwal tentang pelayanan publik. Sasaran yang dituju massa mengambang (non tradisional) dan utamanya kaum milenial.

Visi PSI tampaknya belum terlalu laku di tingkat nasional, di mayoritas warga Indonesia yang didominasi oleh kultur agraris. Tetapi tidak untuk di kota besar seperti Surabaya. Terbukti, dalam pemilu lalu, PSI mendapat 4 kursi di DPRD Kota Surabaya. Jumlah kursi PSI lebih banyak dibanding jumlah kursi Partai NasDem, PAN, dan PPP. Bahkan Partai Hanura, Perindo, Berkarya, Garuda, dan PBB tidak mendapatkan kursi sama sekali.

Merujuk pada sukses visi milenial dan pelayanan publik itulah, keberadaan PSI patut diperhitungkan dalam kontestasi Pilwali Surabaya 2020.

Peta politik Surabaya saat ini, menjelang Pilwali 2020, cenderung cair. Wali Kota Tri Rismaharini tidak bisa lagi bertarung sebab telah menjabat selama 2 periode. Di internal PDI Perjuangan sendiri tidak ada sosok politisi yang sepopuler atau prestasinya sementereng Risma.

Kondisi yang sama dialami oleh Partai Golkar, Gerindra, PKB, PKS, PAN. Semuanya tidak memiliki kader mumpuni yang tingkat elektabilitasnya (tingkat keterpilihannya) sangat tinggi. Dan sebenarnya, PSI sama pula.

Hanya saja, PSI diuntungkan oleh adanya kader potensial bernama Dhimas Anugrah. Bukan sosok populer, memang, namun jika Dhimas Anugrah nanti menjadi Calon Wali Kota ataupun Calon Wakil Wali Kota, publik akan sadar sendiri dengan kapasitasnya. Terlihat kapasitasnya melalui komunikasi massa berupa kampanye terbuka maupun debat publik.

Sosok Dhimas Anugrah mengingatkan pada Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak. Tokoh muda cerdas lulusan luar negeri. Dhimas Anugrah adalah penerima beasiswa S3 di Oxford Inggris. Wawasannya luas.

Sebagai lelaki usia 37 tahun kelahiran kota Surabaya, Dhimas Anugrah tipe seorang pekerja keras. Karir dia tidak dilalui dengan mudah. Dia memulai membangun dari bawah, yakni pernah mencicipi profesi sopir demi bisa kuliah, berjualan beras, hingga merasakan menjadi ‘managing director’ di perusahaan rekaman.

Tengoklah, betapa lanyah ketika Dhimas Anugrah berbicara tentang problem dan potensi kota Surabaya. Lanyah sekaligus visioner. Menurutnya, kualitas dan standar tinggi jalanan di Surabaya masih kurang bagus.

“Kalau kita lihat di kota yang maju seperti Singapura, London, Glasgow, dan lainnya, kondisi jalannya mulus padahal bukan jalan protokol. Di Surabaya jalan protokol masih banyak yang bergelombang. Saya membayangkan Surabaya bisa semulus itu,” tutur Dhimas Anugrah, pada suatu ketika.

Dhimas Anugrah juga melihat satu potensi kota Surabaya yang belum digarap secara maksimal oleh Risma, yaitu wisata. Kota Surabaya memang tidak memiliki wisata alam yang menakjubkan seperti Banyuwangi atau Bali. Tetapi, menurut Dhimas Anugrah, Surabaya bisa memompa kedatangan wisatawan dengan pengelolaan yang baik atas situs sejarah, bangunan tua, tata kota, dan beragam festival kesenian. Untuk menggarap potensi wisata ini, Dhimas Anugrah merujuk pada sukses kota London, Amsterdam, dan Singapura.

Berkaca pada perolehan PSI yang baru 4 kursi di DPRD Kota Surabaya, sedangkan untuk bisa mengusung calon minimal harus 10 kursi, Dhimas Anugrah paling pantas duduk sebagai Calon Wakil Wali Kota. Dan misalkan jadi Cawawali, Dhimas Anugrah cocok dipasangkan dengan sembarang Cawali. Termasuk Cawali berlatar politisi, birokrat, maupun kiai. Dia akan tampil sebagai sosok milenial yang cerdas dan berwawasan luas. Kurang lebih mirip pasangan Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak ketika maju di Pilgub Jatim tahun 2018.

Meski begitu, dengan atau tanpa Dhimas Anugrah pun, keberadaan PSI tetap patut diperhitungkan dalam Pilwali Surabaya 2020. Sejauh ini, PSI adalah partai yang paling fokus menggarap pemilih pemula.

Melalui wadah Simpatisan Milenial Solidaritas (SMS), PSI membangun dan merawat jaringan di kampus-kampus. Juga jaringan di komunitas-komunitas muda. Upaya ini menjadi mudah dilakukan karena rata-rata kader PSI memang berusia muda. Terlebih, ada aturan bahwa pengurus partai dibatasi maksimal 45 tahun, dan saat ini, pengurus daerah rata-rata berumur 20-30 tahun.

Sikap PSI yang cenderung moderat, tidak radikal dan tidak mengidentikan diri ke agama tertentu, membuatnya mudah diterima di kalangan pengusaha. Sikap itu selaras dengan Surabaya yang berwatak industrial. Di mana gerak industri lebih lancar pada suasana nyaman tanpa ketegangan politik.

Kegemaran PSI mengangkat isu-isu pelayanan publik juga sangat cocok dengan kebutuhan nyata masyarakat Surabaya yang bersifat metropolitan. Sehari-hari, problem masyarakat Surabaya adalah jalanan macet, layanan kesehatan, kebersihan lingkungan, polusi, daya beli, ruang terbuka hijau, promo produk, fasilitas pendidikan, dan tempat tinggal hunian murah. Isu-isu tersebut kerap kali kurang menjadi prioritas parpol yang lebih suka berbicara kebijakan politik dan strategi anggaran.

Langkah PSI sudah berada pada jalur yang benar. Namun bukan berarti calon dari PSI bisa menang mudah dalam Pilwali Surabaya 2020. Sebagai partai baru, akar PSI di masyarakat belumlah terlalu kokoh. PSI masih harus terus membangun kepercayaan publik.

Mulai saat ini hingga beberapa bulan ke depan, kader PSI di legistalif harus tampak gencar memperjuangkan kepentingan publik warga Surabaya. Pengurus dan simpatisan PSI mesti sering hadir dalam aktivitas bermasyarakat.

Bagaimanapun juga, gaya kepemimpinan Risma terlanjur melekat dalam benak warga Surabaya. Mereka saat ini mencari sosok Wali Kota Surabaya seperti Risma.

Lihat saja cara Risma melayani warga Surabaya. Risma biasa pagi-pagi terlihat menyapu trotoar, turut memegang selang air ketika terjadi kebakaran, marah pada PNS (pegawai negeri sipil) yang lelet, turun dari mobil untuk mengatasi kemacetan lalu lintas, berada di tengah-tengah pekerja yang menggarap infrastruktur, dan sebagainya. Itu menandakan, Risma hadir dalam aktivitas keseharian warga Surabaya.

Pertanyaannya, apakah kader PSI siap dengan cara kerja seperti Risma? Apakah visi pelayanan publik pada PSI hanya sebatas wacana layaknya jargon politik? Ataukah kader PSI memiliki cara lain dalam melayani kepentingan warga Surabaya?

Daftar pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan mulut. Jawabannya adalah tindakan.

Saat ini, PSI merupakan bagian dari kekuasaan politik di Surabaya. Sebanyak 4 kadernya telah dilantik menjadi anggota DPRD. Jika dalam beberapa bulan ke depan mereka (termasuk pula kader-kader lainnya) tidak menunjukkan peran nyata, jangan harap simpati warga dapat diraup. Dan bila itu yang terjadi, jangan harap pula tokoh yang diusung PSI mendapat suara banyak pada Pilwali Surabaya 2020. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar