Sorotan

Piala Presiden: Uji Coba untuk Persebaya dan Bonek

Djajang Nurjaman bersujud syukur. Persebaya menghantam tuan rumah Persib Bandung 3-2 di Jalak Harupat, dalam pertandingan Grup A Piala Presiden, Kamis (7/3/2019).

Persebaya kembali membuktikan mental pejuang mereka. Setelah sempat tertinggal satu gol lewat Erwin Ramdhani pada menit 31, Persebaya menjebol gawang Deden Muhammad Nashir melalui Manuchekhr Dzhalilov pada menit 37 dan 51 dan Irfan Jaya pada menit 76.

Dibandingkan melawan Perseru, penampilan Persebaya lebih matang. Aliran serangan pun lebih variatif. Mereka tak hanya mengandalkan umpan-umpan silang dari sayap, tapi juga terobosan dari tengah. Damian Lizio, gelandang asal Bolivia, jadi motor. Amido Balde bersiaga sendirian di depan dengan Irfan Jaya dan Dzhalilov beroperasi di belakangnya.

Persebaya tak terburu-buru menyerang dan memilih membangunnya dari belakang. Namun beberapa kali pressing Persib membuat serangan tak berjalan baik. Ini diakui Djajang. “Permainan kami tidak sesuai dengan yang kami susun dalam latihan. Positioning kurang karena pressing dari lawan. Biasanya, kami mencoba membangun serangan dari belakang, tapi ini sulit,” katanya.

Lini belakang masih mengkhawatirkan. Hansamu Yama dan kawan-kawan memang tangguh menghalau serangan di udara. Namun mereka terlalu lambat dalam membaca dan mengantisipasi serangan yang berawal dari umpan-umpan terobosan. Beruntung para pemain Persib sering salah umpan. Andri Muliadi berhasil membikin penyerang Persib Ezechiel N’Douassel senyap.

Satu-satunya teror yang tersisa dari Persib adalah Frets Butuan. Mantan pemain PSMS Medan ini memang kriptonit bagi Persebaya. Selama menjadi pemain PSMS, ia rajin mencetak gol ke gawang Persebaya. Kali ini itu dilakukannya lagi saat berseragam Persib ke gawang Abdul Rohim.

Di luar kegagalannya menahan dua gol Persib, penampilan Rohim di bawah mistar gawang Persebaya bisa membuat lini belakang tenang. Ia tidak grusa-grusu menghalau serangan dan matang dalam membaca bola-bola silang di udara. Jika konsisten, Rohim bakal menghadirkan opsi lain bagi Djajang Nurjaman dalam menentukan penjaga gawang di Liga 1 musim ini.

Problem besar dihadapi pelatih Persib Miljan Radovic. Ini kekalahan kedua Maung Bandung dalam turnamen pramusim Piala Presiden. Sebelumnya, Persib kalah 1-2 dari PS Tira Kabo. Bobotoh tak cuma meneriakkan tuntutan mundur. Salah satu dari mereka juga memukul Radovic. Tak ada kamus ‘You’ll Never Walk Alone’.

Bobotoh sepertinya lupa bahwa Piala Presiden hanyalah turnamen pra musim. Mereka juga lupa sedang berhadapan dengan skuat yang dilatih Djajang Nurjaman. Sebelumnya ia membawa Persebaya menang 4-1 atas Persib dalam pertandingan Liga 1 2018 dan PSMS menang 1-0.

Persib juga dinilai Djajang tidak bermain jelek. “Hari ini Persib bermain bagus, tapi kami lebih beruntung,” katanya.

Pertandigan disaksikan puluhan ribu penonton. Panitia mengeruk pendapatan kotor Rp 1,366 miliar. Sejauh ini terbesar dalam babak penyisihan Piala Presiden.

Namun kabar berjubelnya jumlah penonton diikuti kabar buruk tentang adanya Bonek yang masih berulah. Sebagian dari pendukung Persebaya yang tak bertiket menjebol gerbang masuk stadion. Mereka membuat resah warga dan sekali lagi sukses mempermalukan Persebaya dan nama Surabaya.

Di tengah semakin kuatnya keinginan membangun semangat positif Persebaya, sebagian Bonek memilih cara-cara primitif dan membahayakan diri sendiri. Mereka melakukan estafet (berpindah dari truk ke truk) untuk menuju Bandung dan kembali ke kota asal, dan celakanya, hanya membawa bekal uang jauh dari mencukupi. Mereka mengandalkan kebaikan hati orang. Dan cerita lama berulang kembali: ada sejumlah Bonek yang mengalami kecelakaan.

Munculnya pendukung Persebaya dengan laku dan lagak seperti ini berkonsekuensi memicu permusuhan dengan warga. Bonek yang tertib dan teratur dalam mengorganisasi diri terkena imbas. Ulah negatif juga berpotensi memicu renggangnya hubungan dengan suporter tuan rumah. Usaha perdamaian yang dibangun pun hancur hanya karena ulah sebagian kecil Bonek sendiri.

Jadi, Piala Presiden sesungguhnya bukan hanya ajang uji coba pra musim bagi Persebaya, tapi juga Bonek. Jika mereka gagal menunjukkan diri sebagai kelompol suporter yang tertib saat bertandang, maka aparat keamanan dan panitia pelaksana punya alasan untuk menolak kehadiran mereka.

Saya kembali ke gagasan lama, jika memang sebagian Bonek belum juga insyaf: moratorium awaydays. Kelompok-kelompok Bonek yang sudah teratur dan tertib lebih baik menahan diri untuk tidak mendatangi kandang lawan. Dan ini hendaknya diumumkan secara terbuka di media sosial.

Kedua, hukum Bonek dan suporter mana saja yang berbuat kriminal sesuai undang-undang. Jangan pernah hanya diberi peringatan dan dilepaskan. Kriminal bukan kenakalan remaja.

Ketiga, jangan pernah menoleransi lagi aksi estafet yang membahayakan diri dan berpotensi jadi modus aksi kriminal. Para tokoh dan tetua Bonek sebaiknya bersatu menyerukan larangan terhadap estafet. Tradisi estafet harus dihapus mulai dari sekarang. [wir]

Apa Reaksi Anda?

Komentar