Sorotan

Persebaya akan Lahirkan Banyak Epik

Persebaya Surabaya berpotensi akan melahirkan sederet epik pada Liga 1 2019. Bajul Ijo memiliki persyaratan utama sebuah tim yang melahirkan epik: mentalitas pantang menyerah. Orang Inggris bilang ‘never say die spirit’. Ini terlihat sepanjang turnamen Piala Presiden.

Dalam babak penyisihan Grup A, dalam pertandingan melawan Perseru dan Persib Bandung, anak asuh Djajang Nurjaman tertinggal lebih dulu. Saat melawan Perseru, mereka tertinggal dua gol lebih dulu pada menit 34 dan 38. Namun, Persebaya menyusul dan membalik keadaan menjadi 3-2 pada menit 90.

Dalam pertandingan kedua, lagi-lagi Persebaya tertinggal lebih dulu pada menit 31. Kali ini, Persebaya langsung membalas lima menit kemudian dan meninggalkan Persib 3-1 sebelum akhirnya Frets Butuan memperkecil kedudukan.

Situasi serupa terulang saat pertandingan semifinal kedua melawan Madura United di Stadion Ratu Pamelingan, Pamekasan, Sabtu (6/4/2019) malam. Persebaya tertinggal pada menit 54 melalui Alexander Rakic. Rakic menanduk bola umpan lambung Beto Goncalves dari sisi kiri pertahanan Persebaya.

Gol itu membuat jantung pendukung Persebaya seperti copot. Sepanjang babak pertama, pertahanan mereka digempur habis-habisan. Kesalahan Otavio Dutra pada menit awal nyaris berbuah gol, jika saja tendangan Zah Rahan tidak ditepis Miswar Saputra. Persebaya tak bisa keluar dari tekanan. Skema serangan balik tak berjalan baik. Bola lambung yang dikirim dari belakang langsung ke depan tak akurat, dan lebih menandakan sebuah kepanikan ketimbang serangan terencana.

Novan Setia berkali-kali tergopoh-gopoh menghadapi Andik Vermansah dan Beto Goncalves. Sementara itu, lini tengah memilih lebih turun ke daerah pertahanan untuk ikut mengusir serangan Madura United, sehingga tak ada jembatan untuk membangun serangan dari bawah. Semua serba salah dan Persebaya seperti menunggu kekalahan.

Namun Madura United tidak memiliki cukup stamina untuk bermain dengan tempo cepat selama 90 menit. Setelah unggul 1-0, pertahanan Laskar Sape Kerrab mulai berlubang. Mereka tidak disiplin, dan stamina yang menipis membuat para pemain tengah maupun depan terlambat turun membantu pertahanan ketika terkena serang.

Kemampuan individu Manu Jalilov dan Damian Lizio menjadi kunci Persebaya untuk membalikkan situasi. Mereka masih punya cukup Stamina untuk mempertontonkan aksi individu yang merobek daerah pertahanan Madura United. Gol yang dicetak Otavio Dutra pada menit 61 berasal dari umpan tendangan sudut Lizio yang bermain sebagai jenderal serangan Persebaya.

Persebaya kembali tertinggal 1-2 pada menit 68, setelah Beto berhasil melewati Novan Setia dan menjebol gawang Miswar dari sudut sempit. Madura United di atas angin. Mereka butuh satu gol lagi untuk unggul agregat. Sementara, dengan agregat 2-2, Persebaya masih memiliki keuntungan gol tandang.

Pertanyaan besarnya: Persebaya memilih bertahan untuk main aman atau memilih tetap menyerang. Djajang Nurjaman menjawab pertanyaan itu dengan memasukkan Irfan Jaya menggantikan Osvaldo Haay pada menit 75 dan Fandi Eko Utomo menggantikan gelandang bertahan Muhammad Hidayat pada menit 80. Jelas sudah: Persebaya menolak bermain bertahan. Mereka memilih menyerang.

Irfan menjadi pemilik assist bagi gol Balde pada menit 82. Berawal dari Manu Jalilov, bola dilambungkan dan Irfan meneruskannya dengan kepala ke Balde yang sudah menanti di depan gawang. Dari kepala ke kepala. Jaimerson da Silva Xavier tak cukup kuat untuk memenangkan perebutan bola dengan Amido Balde.

Kedudukan agregat 3-2 membuat para pemain Madura United kehilangan motivasi. Delapan menit waktu normal tersisa. Dengan stamina yang menipis dan pemain Persebaya yang tengah bersemangat, susah bagi mereka untuk mencetak dua gol lagi. Menit 90+4, Hansama Yamu Pranata mencabut harapan Madura United dengan sebuah gol setelah melakukan overlap dan menerima umpan dari Dutra. Pemain belakang Persebaya memberikan assist untuk pemain belakang untuk mencetak gol sudah cukup menceritakan bagaimana ambrolnya moral pemain Madura United.

Final dengan sistem home and away menanti Persebaya. Arema menjadi lawan berikutnya. Dengan mentalitas pantang menyerah, tak ada yang tak mungkin bagi Persebaya. Bonek menanti cerita-cerita epik khas sepak bola dari anak asuhan Djajang Nurjaman. Tak hanya dalam turnamen Piala Presiden, tapi juga Liga 1. [wir]

Apa Reaksi Anda?

Komentar