Sorotan

Mimpi Buruk Barca yang Menghancurkan

Sumber foto: bbc.co.uk

Optimisme melambung di Camp Nou, saat Barcelona mengunci gelar La Liga 2018-2019, Sabtu (27/4/2019) malam. Ini gelar ke-26 sepanjang sejarah klub tersebut, dan semua yakin tahun ini mereka akan meraih tiga gelar (treble). Piala Champions dan Copa Del Rey menanti.

Apalagi awal musim ini, Messi berjanji akan mendaratkan ‘Telinga Lebar’ (julukan Piala Champions) ke Camp Nou. “We promise that we will do everything possible so that this beautiful cup returns to the Camp Nou again,” katanya saat berpidato di hadapan puluhan ribu pendukung Barca, medio Agustus 2018.

Messi menolak untuk gagal dan dipermalukan sejarah. Tiga musim berturut-turut sebelumnya mereka digagalkan Atletico Madrid (2016), Juventus (2017), dan AS Roma (2018) pada babak perempat final. Kini mereka menembus semifinal setelah menaklukkan tim medioker Manchester United dengan agregat 4-0 (1-0 dan 3-0).

Penyerang Barcelona Luis Suarez mengatakan, janji Messi bikin kaget tim. “Tapi jika sang kapten sangat menginginkannya, mengapa kami tidak? Pesannya jelas. Ini bukan sebuah tugas tapi kami ingin memenangkannya. Tidak akan mudah, tentu saja. Ini akan sangat keras, sangat susah,” kata si gigi tonggos itu.

Namun janji tinggal janji. Kekalahan dari Liverpool dengan agregat 3-4 di semifinal mendaratkan lagi para pemain Barca ke bumi, sekaligus menyadarkan banyak orang: mereka bukan lagi tim para dewa. Liverpool adalah tim keempat yang memukul Barcelona di level Eropa dalam fase knock-out, setelah terakhir menjadi juara Piala Champions musim 2015-16.

Namun dari sekian rentetan kekalahan sejak 2016, kekalahan dari Liverpool yang paling menghancurkan mental pemain Barca. “Sulit untuk bangkit secara emosional karena hari berlalu dan Anda tidak bisa melupakan kekalahan itu,” kata Gerard Pique, pemain bertahan suami artis Shakira, kepada surat kabar El Pais.

“Para pemain Liverpool melakukan pressing sangat tinggi, sangat intens. Anfield juga memainkan perannya. Kami tidak kapabel menghadapinya, kadang itu terjadi. Benar-benar hari yang keras.”

Lionel Messi pun mendadak lesu darah. “Jujur saya bahkan tidak memikirkan Sepatu Emas Eropa. Sama sekali tak ada dalam kepala saya. Apa yang terjadi di Liverpool ada dalam kepala saya,” katanya.

“Ini mimpi buruk dan Anda harus menganggapnya karena bisa saja terjadi lagi. Tapi kami harus memahami mengapa ini terjadi dan akan membantu kami pada masa mendatang, karena kami ingin bangkit di Liga Champions lagi,” kata Pique.

Barcelona punya satu pertandingan lagi untuk merebut trofi Copa del Rey melawan Valencia. Namun rupanya kekalahan dari Liverpool benar-benar membuat mereka seperti petinju yang terkena upper-cut dan tidak bangun lagi. Anak-anak asuhan ErnestoValverde ditekuk El Che 1-2. Messi mencetak satu-satunya gol untuk Barca, dan tak bisa menjadi penyelamat lagi.

Dua kegagalan beruntun membuat ruang ganti Barca mulai memanas. Fans menyalahkan Valverde dan menuntut pemecatan. Sementara Messi dikabarkan surat kabar AS, melakukan pertemuan darurat dengan Gerard Pique dan Luis Suarez dalam bus tim, setelah final Copa del Rey. Pemain berjuluk La Pulga itu menginginkan enam pemain tak lagi dalam tim musim berikutnya karena tak banyak berkontribusi: Countinho. Sergi Roberto, Nelson Semedo, Ivan Rakitic, Arthur, dan Kevin-Prince Boateng.

Apa yang salah dari Barca? Mengapa kekalahan kali ini lebih menyakitkan dibandingkan saat melawan Atletico Madrid, Juventus, dan AS Roma? Bukankah Bayern Munchen pernah menghajar mereka dengan agregat 7-0 (4-0 dan 3-0) dalam semifinal Liga Champions 2012-2013?

Jawaban paling memungkinkan adalah harapan. Harapan Barca terlampau melambung dan menjadi overdosis setelah menang 3-0 di laga pertama. Ini diakui sendiri oleh Pique: Barca akan bisa menjadi juara, jika berhasil mengalahkan Liverpool di semifinal. Namun anak-anak Barca lupa: Liverpool adalah satu-satunya tim Inggris yang paling sulit mereka taklukkan sepanjang sejarah turnamen level benua.

Barcelona punya rekor bagus melawan Manchester United (6 kali menang, 4 kali seri, 3 kali kalah), Arsenal (6 kali menang, 2 kali seri, 1 kali kalah), atau Chelsea (6 kali menang, 6 kali seri, 5 kali kalah). Namun mereka tak berkutik di hadapan Liverpool: 3 kali menang, 3 kali seri, dan 4 kali kalah.

Para pemain Barca salah perkiraan terhadap kekuatan atmosfer di Stadion Anfield setiap kali menggelar pertandingan level Eropa. Sesuatu yang diakui oleh eks Manajer Arsenal Arsene Wenger dan eks Manajer Chelsea Mourinho sebagai senjata pamungkas Liverpool.

Faktor berikutnya adalah ketiadaan sosok pemimpin yang mampu mendongkrak semangat tim. Valverde tak punya cukup kualitas untuk melakukannya, terlebih jika melihat begitu rumit posisinya menempatkan diri antara Messi dengan klub. Valverde bukan penguasa ruang ganti. Barcelona hari ini adalah rezim Messi. Bahkan sosok Guardiola bertekuk lutut di hadapan pemain Argentina itu.

Barca tak memiliki sosok seperti Jurgen Klopp di Liverpool. Pukul enam pagi, setelah kekalahan menyakitkan dari Real Madrid pada final Liga Champions di Kiev, Ukraina, pada 2018, pria asal Black Forest, Jerman, itu tak ambruk. Dia malah bernyanyi bersama beberapa orang. “Kami akan kembali,” dan ia menepati janjinya setahun berikutnya.

Messi mungkin seorang dewa sepak bola dengan level teknik individu di atas semua pemain Liverpool. Namun Liverpool menunjukkan bagaimana seharusnya sepak bola dimainkan dengan kesetaraan, dan Jordan Henderson menunjukkan bagaimana semestinya seorang kapten bertindak di lapangan. Ban kapten di lengan Messi tak berarti banyak, saat dia gagal membangkitkan semangat rekan-rekannya. Kualitas seorang pemimpin diukur saat pasukan yang dipimpinnya melewati masa sulit. Messi gagal melewati ujian ini.

Ketergantungan Barcelona terhadap Messi terlampau tinggi. Dia memikul beban berat, sebagaimana dipikulnya bersama tim nasional Argentina. Terlalu banyak orang yang menggantungkan harapan kepadanya, dan dia bukan Maradona. Maradona berhasil menunjukkan bagaimana membawa Barcelona, Napoli, dan Argentina melewati masa sulit dan menjadi juara. Sementara Messi lebih seperti penyendiri, seorang soliter yang patah hati, dan oleh karenanya Barca pun ikut runtuh bersamanya. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar