Sorotan

Menanti Aji(an) Pembawa Bejo bagi Persebaya

Pelatih Persebaya Aji Santoso. (Foto: Wahyu Jimbot/ BJT)

Wolfgang Pikal akhirnya pergi dengan meninggalkan api di Gelora Bung Tomo, Surabaya. Kekalahan 2-3 dari PSS Sleman di kandang sendiri menjadi akhir yang pahit bagi karir pelatih asal Austria itu di Persebaya. Manajemen memilih pelatih baru yang bukan wajah baru: Aji Santoso.

Aji pernah menjadi pilar Persebaya saat menjuarai Liga Indonesia 1997 dan menjadi runner up Liga Indonesia 1999. Pria asal Malang ini juga pernah menjadi pelatih Persebaya (1927) saat berkompetisi di Liga Primer Indonesia 2011. Bersama Aji, Persebaya mengakhiri putaran pertama LPI di peringkat pertama dengan nilai 40 dari 18 pertandingan sekaligus menutup kompetisi tersebut karena tak berlanjut.

Saat itu, Persebaya mencetak 42 gol dan kebobolan 13 gol. Unggul selisih gol dibandingkan Persema Malang yang berada di peringkat kedua dengan nilai yang sama. Mungkin dari kompetisi ‘breakaway’ itu, kemenangan 4-0 atas Persema di Gelora 10 Nopember, Surabaya, yang bakal dikenang Bonek.

Saat itu, Persebaya (1927) menunjukkan ciri khas permainan satu-dua sentuhan cepat. Ciri ini dirindukan Bonek bisa muncul lagi pada performa Persebaya, dna tentu saja, berujung kemenangan.

Aji Santoso memiliki beban besar untuk menjawab harapan Bonek. Dia akan bekerja bersama rekannya satu tim dulu yang kini menjadi asisten, Bejo Sugiantoro. Kombinasi dua legenda murid almarhum Rusdi Bahalawan ini melambungkan asa bahwa sepak bola menyerang ‘coming from behind’ yang rancak sebagaimana pada 1997-1999 bisa kembali menjadi identitas Persebaya.

Ini beban yang tak mudah untuk dipikul. Pertama, Aji harus bisa membangkitkan kepercayaan diri Persebaya. Bukan hanya para pemain, tapi juga suporter. Kisah Persebaya yang lebih banyak berwarna suram selama dua musim Liga 1 membuat banyak orang bertanya-tanya: bisakah kejayaan masa lalu kembali ke klub ini. Pergantian pelatih sejak Liga 2 pada 2017 yang terlalu sering (ada lima pelatih yang membesut Persebaya dalam kompetisi resmi dan Aji yang keenam), menunjukkan bagaimana ada persoalan kepercayaan diri yang gagal terbangun di tim ini.

Lemahnya kepercayaan diri membuat Persebaya mudah tersedot dalam lubang hitam saat menuai hasil negatif: sulit melepaskan diri dari tren kekalahan. Masalah mentalitas ini yang harus segera dibenahi Aji: mental pemenang yang lama hilang. Semua pelatih di dunia harus membenahi persoalan mental lebih dulu sebelum masalah taktik. Ini yang dilakukan Alex Ferguson di Manchester United, serta Bill Shankly dan Jurgen Klopp di Liverpool.

Berikutnya masalah taktik. Terlalu seringnya pergantian pelatih membuat Persebaya tidak memiliki filosofi pakem. Semua pelatih yang datang selalu menjelaskan soal filosofi ‘wani dan ngeyel’. Namun di lapangan, Persebaya justru tampil minus konsistensi. Lini depan tumpul, lini tengah gagal menjadi penyuplai bola, dan lini belakang rapuh. Paket komplit kesialan sebagai tim ada pada Persebaya.

Tercatat, hingga 25 pertandingan Liga 1 2019, Persebaya mencetak 35 gol dan kebobolan 33 gol. Dalam lima pertandingan terakhir, Persebaya mengalami empat kekalahan dan satu hasil imbang. Rekor ini lebih buruk daripada tujuh tim yang berada pada tujuh posisi terbawah klasemen sementara. Persebaya hanya bisa mencetak tiga gol dan kebobolan sembilan gol.

Tersisa sembilan pertandingan lagi, lima pertandingan di antaranya di kandang sendiri. Namun dengan jatuhnya sanksi dari PSSI yang melarang Persebaya menggelar laga kandang hingga akhir musim, maka tak ada keuntungan sebagai tuan rumah yang didukung puluhan ribu suporter. Sepintas ini merugikan. Namun ini bisa berdampak positif, karena dengan demikian para pemain bisa tampil tanpa beban. Pasalnya, Gelora Bung Tomo memang tak bersahabat bagi Persebaya. Sulit menjelaskan, betapa justru Persebaya kesulitan menang saat bermain di sana.

Kita menunggu ajian pamungkas seorang Aji Santoso: apakah bisa membawa bejo (keberuntungan) bagi Persebaya. Namun sebaiknya para pendukung dan pemangku kepentingan di Persebaya harus mulai berdoa dan bersabar, memberikan kesempatan kepada Aji bekerja. Kita berharap Aji membawa dampak instan bagi Persebaya. Namun jika tidak, maka semua elemen harus tetap berada di belakang Aji hingga musim berakhir: apapun hasilnya. Kita tak bisa lagi terus-menerus mengganti pelatih saat musim berjalan. Kita berharap Persebaya bisa menembus papan atas atau setidaknya berada di 10 besar. Namun jika kemudian semua target itu gagal dan Persebaya menerima dampak terburuk dengan berada di papan bawah, maka ini sebaiknya dimaknai bukan kesalahan Aji atau Bejo. Ini kesalahan sejak awal banyak orang dalam memperlakukan Persebaya dan menjadi tanggung jawab pengelola klub, pelatih, pemain, dan juga pendukung. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar