Sorotan

Membuka Pintu Puisi Ini Memasuki Dunia Ceria

Ribut Wijoto

Sejarah puisi Indonesia adalah sejarah yang serius. Serius dalam pemikirannya dan serius dalam puitikanya.

Bukan sebuah dosa, memang, serius itu baik. Hanya saja, sikap serius itu kurang manusiawi. Derrida pun, pemikir yang dikenal dengan ketekunan membaca dan merombak ulang kanonik pemikiran, bermain-main dalam menafsirkan pemikiran Marxis. Kegarangan Marxis dipahami melalui karakteristik hantu –bapaknya Hamlet- dalam drama Sakespeare. Kegairahan dan kejernihan muncul di situ, di kinerja main-main dan akal-akalan.

Tubuh sastra Indonesia terlalu serius. Anggie Murnie dalam artikel “Menjelami Laoetan Kesoesteraan”, dimuat Pedoman Masjarakat (1941) menuliskan: “Seni bahasa atau kesoesteraan mempoenjai kedoedoekan jang tersendiri dalam hati dan djiwa si pembatjanja, tetapi seni bahasa atau kesoesteraan jang keloear dari djiwa dan hati, boekan kesoesteraan jang terbit oleh karena dipaksa dan dihedjan-hedjan”. Tegas dan mantap. Anggie Murnie, sastrawan kondang di tahun 1930 sampai 1940-an, menutup pintu sastra yang dihasilkan dari paksaan dan hedjanan.

Surat Kepercayaan Gelanggang, yang oleh banyak pihak dianggap tonggak sastra modern Indonesia, memberi garis serius terhadap kesusastraan. “Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran-nilai”. Para Angkatan 45 siap dan sanggup mendesak-desakan konsepsi estetiknya.

Manifes Kebudayaan, yang diyakini memperjuangkan humanisasi, pun bersikap keras terhadap penafsiran lawan-lawannya. Wiratmo Sukito tahun 1977 memberi catatan serius, “Dengan demikian sikap kompromistis Manifes harus dianggap sebagai tidak pernah ada (null and void)”. Sikap pentolan dari Manikebu ini menandaskan ketegasannya dalam berkonfrontasi dengan pilihan estetik dari Lekra. Sikap Lekra terhadap Manikebu pun, tidak lebih tidak kurang, sama. Artinya, sama-sama serius dan sama-sama tegang.

Sungguh, sejarah sastra dan puisi Indonesia dibentuk oleh ketegangan-ketegangan yang serius atau keseriusan yang tegang. Tidak ada tempat bagi main-main. Mereka, sastra Indonesia, seakan menyatakan, “masuklah keseriusan, silahkan keluar permainan.”

Tetapi Joko Pinurbo, penyair kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962, membikin bentuk puisi berbeda. Sekali-sekali telepon genggam perlu juga diajak piknik atau jalan-jalan ke pantai, misalnya, supaya makin luas pandangannya. Makin lepas jangkauannya. Sebuah puisi kocak tentang telepon genggam (HP). Aku lirik (aku dalam puisi) berdialog dengan benda (HP). Mengajaknya jalan-jalan ke pantai. Ada terjadi personifikasi. HP dinyatakan atau diposisikan sebagai manusia.

Adegan dalam puisi “Laut” semakin kocak ketika sesampai di pantai, aku lirik hanya diam saja. Sedangkan HP, layaknya turis, benda ini sibuk memotret awan dan air. Merekam derai dan desir. Bahkan, sembari rada menyindir, si HP malahan mengomentari aku lirik yang hanya tidur-tiduran: Silahkan latihan mati.

Membaca puisi “Laut”, juga membaca puisi-puisi lainnya di kumpulan puisi Telepon Genggam (2003) dari Joko Pinurbo, penulis seakan menemukan spirit yang berbeda. Sebuah spirit yang lain dibandingkan dengan umumnya spirit puisi dalam sejarah puisi Indonesia. Ialah, spirit main-main, jenaka, dan renyah. Lihatlah cuplikan puisi berjudul “Selamat Tidur” ini: Telepon genggam mau tidur. Capek. Seharian bermain monolog. Banyak peran. Konyol. Enggak nyambung.

Joko Pinurbo seakan berdiri di luar spirit sejarah puisi Indonesia. Seakan membikin arus sejarah sendiri. Arus sejarah yang memandang puisi bukanlah sosok yang musti menciptakan kerut-kerut di kening. Puisi jenaka.

Memang, jika dirunut di masa-masa silam, ada pendahulu-pendahulu dari spirit puisi Joko Pinurbo. Misalkan puisi Yudhistira ANM Massardi (1975) berjudul “Sajak Sikat Gigi”: Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur. Di dalam tidurnya ia bermimpi. Ada sikat gigi mengosok-gosok mulutnya supaya terbuka. Puisi-puisi Yudhistira tergolong unik dalam rentetan sejarah puisi Indonesia. Puisi-puisi kocak ini banyak diminati oleh kaum remaja. Padahal, biasanya, para remaja lebih mengenal puisi Chairil. Kenal puisi Chairil oleh sebab diperkenalkan sebagai bacaan wajib di sekolahan.

Kelebihan dari puisi-puisi Yudhistira adalah pada sudut pandang jenaka, tema ringan, logika tidak berbelit-belit, ide cerdas, terkesan vulgar, dan spontan. Secara teknik, Yudhistira tidak menampakkan kegagapan sintaktik maupun semantik. Jikalau menghadapi puisi Toeti Heraty, pembaca perlu konsentrasi sejenak atau mesti mengingat-ingat pelajaran filsafat, kasus runyam tersebut tidak perlu terjadi saat baca puisi Yudhistira. Pembaca kurang perlu susah-susah mencerna. Akrab. Memang, kunci dari puisi Yudhistira adalah kedekatannya dengan pembaca. Kejenakaan dan spontanitas puisi-puisi tersebut sanggup mempersempit jarak antara teks dengan konteks, antara gagasan penciptaan dengan horison harapan pembaca.

Meski jenaka, puisi-puisi dari Yudhistira tidak jatuh pada kebanalan, pun juga kegagapan. Di situ tampak, Yudhistira menguasai teknik estetika puisi. Kata-kata mengalir lancar dan tema tergarap secara tajam. HB. Jassin pun pernah mencatatkan: “Ia adalah pengamat yang tajam dari masyarakatnya, tapi ia tidak mendramatisir keadaannya. Penderitaan dihadapinya dengan analisa yang dengan sendirinya menjadi humor dan demikian dihadapi dengan dewasa dan jauh dari kecengengan”.

Apakah pandangan-penerimaan Jassin merupakan pandangan umum “masyarakat” sastra serius? Ada satu peristiwa ganjil di situ. Pada tahun 1978, Yudhistira bersama-sama dengan Sutardji CB, Sitor Situmorang, dan Abdul Hadi menerima penghargaan atas penerbitan buku puisi tahun sebelumnya (1977). Ternyata, dari pembicaraan-pembicaraan di surat kabar, para penyair yang “sudah jadi” seperti Abdul Hadi WM sama sekali tidak senang disejajarkan dengan penyair badut yang “tidak serius” sebangsa Yudhistira. Bahkan, Sutardji menulis: “Humor dalam sajak-sajak Yudhis tidak mempunyai daya tukik yang dalam dan hanyalah datar bagaikan kedataran sebuah lapangan terbang”. Alhasil, atas suatu pertimbangan yang ganjil dan mengada-ada, panitia menarik kembali penghargaan atas puisi-puisi Yudhistira.

Tetapi mungkin perkaranya tidak sesederhana itu. Beberapa penyair, bisa jadi mayoritas, memang mengkehendaki sejarah puisi yang serius, tegang, dan tidak main-main. Chairil Anwar meradang, menerjang. Soebagio Sastrowardoyo berteriak hosannah, hosannah. Tardji merebakkan mantra-mantra gaib. Rendra pun menghisap lisong sembari menghujat Indonesia Raya. Sungguh sejarah yang penuh ketegangan.

Ada memang Goenawan Mohamad (GM), penyair yang juga konglomerat ini menggulirkan “sastra sebagai pasemon”. Apakah GM berupaya mewarnai sejarah puisi yang tegang dengan riap-riap kejenakaan. Mungkin ya, mungkin juga tidak. Pada pidatonya di Leiden (25 Mei 1992), di hadapan tamu-tamu penyerahan Hadiah A. Teeuw, GM mengklarifikasi terhadap anggapan sebagian orang yang menyangka “pasemon” adalah sejenis “guyonan”: “Pasemon bukan saja mencerminkan suatu tahap kepiawaian tertentu (yang dalam konsep Jawa sering identik dengan “kehalusan”). Ia juga semacam simptom dari sebuah masyarakat yang menerima kebudayaan sebagai trauma”.

Dari klarifikasi GM, dua kata patut mendapat catatan, “kehalusan” dan “trauma”. Keduanya menandaskan bahwa gagasan GM tentang pasemon bukanlah gagasan yang jenaka, verbal, dan main-main. GM juga termasuk dalam gerbong sejarah puisi yang serius, tegang, dan penuh kalkulasi. Hanya saja, memang, pasemon GM seakan-akan jenaka, seakan-akan main-main. Lihat saja puisi GM, “Nina Bobo”: Tidurlah bocah, sampai ketukan di tengah malam, sampai engkau bangkit dan seluruh pulau mendengarkan: Bahwa bom yang pecah membagi bumi. Puisi ini sama sekali tidak berpuitika jenaka. Walaupun telah berjudul “Nina Bobo” dan walaupun telah mempergunakan tokoh bocah, GM tidaklah sedang berjenaka. Sebab, ada dua karakter utama puisi jenaka, yaitu bersifat spontan dan verbalitas pengungkapan. Keduanya tidak hadir dalam pasemon GM. Yang tersaji hanyalah kehalusan dan trauma.

Sejarah puisi Indonesia, penulis menyangka, telah berlaku tidak adil pada puisi berbentuk jenaka. Pola puitik jenaka atau main-main atau kocak telah dengan sengaja dipinggirkan, dimarjinalkan. Padahal, fakta membuktikan, puisi Yudhistira telah berhasil mempersempit jarak antara teks (baca: puisi) dengan pembacanya. Terutama pembaca remaja. Suatu prestasi yang jarang diraih oleh penyair serius atau penyair tegang. Padahal juga, bila dirunut lebih ke masa silam, usia puisi berpola puitik jenaka sama tuanya dengan jenis-jenis puisi lain. Pantun jenaka misalnya. Pantun sudah dibikin atau dikenal luas, jauh sebelum orang Jawa pintar berbahasa Indonesia.

Bisa jadi, perlakuan adil terhadap pola puitik jenaka akan memberi warna lebih cerah atas perkembangan puisi Indonesia. Saat ini, Joko Pinurbo telah memulai. Di tangan Joko Pinurbo, puisi tampak lebih komunikatif, jernih, renyah, cemerlang. Penulis juga meyakini, pola puitik jenaka masih menyediakan kemungkinan-kemungkinan eksplorasi tidak terbatas. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar