Sorotan

Membangun Mentalitas Epic Comeback di Persebaya

Skuat Persebaya Surabaya

Tirai kompetisi Liga 1 musim 2019 segera dibuka, dan saya berdoa: semoga para pemain Persebaya menyaksikan dua pertandingan semifinal Liga Champions yang dahsyat tahun ini. Pertandingan Liverpool melawan Barcelona dan Tottenham Hotspur melawan Ajax Amsterdam adalah bukti sahih tentang klise ‘bola itu bundar’ dan ‘tak ada yang tak mungkin selama 90 menit’.

Liverpool dan Tottenham sama-sama membutuhkan kemenangan di pertandingan kedua, setelah masing-masing kalah 0-3 dan 0-1. Tottenham masih berpeluang menyusul karena defisit satu gol. Namun mereka bermain di kandang lawan, Amsterdam Arena. Sementara Liverpool bermain di Anfield. Namun mereka membutuhkan empat gol ke gawang Barcelona tanpa boleh kebobolan.

Orang sudah memprediksi akan terjadi final antara Barcelona melawan Ajax. Tak ada yang membayangkan Barcelona kalah 0-4 dan Ajax kalah di kandang sendiri. Namun itulah yang terjadi. Dua pertandingan itu boleh dimasukkan dalam daftar ‘epic comeback’ terbaik dalam sejarah Liga Champions Eropa.

Mentalitas ‘epic comeback’: itulah yang harus dibangun di tubuh Persebaya Surabaya. Mentalitas tak gampang menyerah, walau tertinggal lebih dulu atau bermain di kandang lawan. Sepanjang pertandingan Liga 1 2018, Persebaya hanya empat kali berhasil mengejar ketertinggalan lebih dulu, namun tak hanya berujung hasil imbang, yakni melawan Persela (1-1 tandang), Madura United (2-2 tandang), Persipura (1-1 kandang), dan Bhayangkara (3-3 tandang). Sisanya, Persebaya selalu kalah jika tertinggal lebih dulu.

Piala Presiden 2019 menghadirkan sejumlah epic comeback apik: menang 3-2 atas Perseru setelah tertinggal 0-2, menang 3-2 atas Persib Bandung setelah tertinggal 0-1, dan menang 3-2 atas Madura United setelah tertinggal 0-1 dan 1-2. Namun dua pertandingan final justru menunjukkan sebaliknya: Arema Malang yang berhasil menunjukkan mentalitas epic comeback. Tertinggal dua kali di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Arema berhasil mencuri poin dan memaksakan hasil 2-2. Dalam pertandingan kedua di Stadion Kanjuruhan Malang, Arema merebut gelar juara setelah mengalahkan Persebaya 2-0.

Dua pertandingan melawan Arema, terutama babak pertama di Kanjuruhan, sebenarnya menunjukkan bagaimana benih mentalitas ‘never-say-die’ mulai tumbuh di tubuh Persebaya. Namun, anak-anak Persebaya tak sepenuhnya kuat menanggung tekanan dalam momentum penting, dan akhirnya sering membuat kesalahan sendiri. Semua gol Arema saat itu tak lepas dari kesalahan yang dilakukan sendiri oleh pemain Persebaya.

Gol pertama Arema di Gelora Bung Tomo pada menit 33 yang dicetak Hendro Siswanto berawal dari kegagalan Fandi Eko Utomo mengontrol bola operan dari Otavio Dutra. Gol kedua yang dicetak Makan Konate pada menit 79 dipicu oleh kesalahan kiper Miswar Saputra yang maju terlalu jauh dari mulut gawang.

Dalam pertandingan kedua di Malang, penampilan Persebaya pada babak pertama menjanjikan epic comeback sebagaimana yang dilakukan saat bertandang ke kandang Madura United dalam babak semifinal. Pertandingan baru memasuki dua menit, tendangan Manu Jalilov menghantam mistar gawang Arema yang dijaga Kartika Aji. Menit 6, tendangan Irfan Jaya gagal melintasi garis gawang setelah diblok Kartika Aji.

Gol pertama Arema pada menit 43 oleh Hardianto terjadi karena lambatnya barisan pertahanan Persebaya mengantisipasi serangan balik lawan. Tiga pemain Arema memasuki kotak penalti dan hanya dihadapi Dutra dan kiper Abdul Rohim. Gol kedua yang dicetak Ricky Kayame pada 90+2 praktis dikarenakan kesalahan Rohim yang gagal menangkap bola.

Mentalitas ‘epic comeback’ adalah kombinasi dari perasaan lepas tak terbebani dan kepercayaan diri yang tinggi. Tak ada teori baku untuk menumbuhkannya. Tapi semua berawal dari perasaan saling percaya terhadap seluruh elemen dalam tim, mulai dari pelatih, manajemen, pemain, hingga ofisial. Jose Mourinho mengatakan, Jurgen Klopp adalah otak di balik epic comeback. Semua pemain bersedia bermain mati-matian untuknya, dan dia percaya penuh kepada anak asuhnya. Saat tim kalah dan pemain membuat kesalahan, Klopp mengambil alih tanggung jawab dan lampu sorot publik.

Persebaya punya modal besar untuk senantiasa membuat epic comeback, terutama di kandang sendiri: Bonek. Para suporter selalu menciptakan kebisingan konstan yang bikin pekak lawan sekaligus bikin keder. PSM dan Persija sudah merasakan bagaimana tekanan keriuhan puluhan ribu orang yang menolak untuk kalah.

Kekalahan dari tetangga berisik di Malang memang menyakitkan. Namun kita harus merasakan kekalahan lebih dulu untuk belajar mencapai kemenangan. Dari kekalahan, manusia belajar banyak, termasuk mengatasi tekanan dalam situasi krusial dan meminimalisasi kesalahan sendiri, karena pemenang dalam sepak bola ditentukan oleh mereka yang paling banyak melakukan kesalahan di atas lapangan.

Masih ada Piala Indonesia yang bisa dimenangkan anak-anak Persebaya sebagak awal. Momentum itu akan datang. Segera. [wir]

Apa Reaksi Anda?

Komentar