Sorotan

Catatan Perjalanan dari Taiwan (2)

Masa Depan Surabaya Ada di Taipei

Entah disengaja atau tidak, saya melihat tata kota Surabaya sangat mirip dengan Taipei. Justru, dalam batasan tertentu, Taipei seperti menjadi masa depan Surabaya. Keduanya sama-sama kota kerja.

Dalam dua hari di kota Taipei, ibu kota Taiwan alias Republik Tiongkok, (Senin – Selasa, 22-23 Juli 2019), yang tampak oleh mata, sepanjang jalan rimbun dengan bunga dan pepohonan. Taman. Walau banyak lalu lalang kendaraan, suasana jadi nyaman karena lingkungan yang asri.

Konsep seluruh penjuru kota adalah taman ini, jika di Indonesia, mengingatkan saya dengan Tri Rismaharini. Wali Kota Surabaya itu sangat identik dengan taman.

Sejak masih menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan hingga terpilih sebagai orang nomor satu di Surabaya, Risma begitu agresif membangun taman. Tidak hanya taman dalam arti sebenarnya, Risma juga menanam berbagai macam bunga di sepanjang jalan, di sudut-sudut kota, di pinggir-pinggir sungai.

Keberhasilan menerapkan konsep kota dengan beragam kembang ini membuat Risma panen penghargaan, baik penghargaan nasional maupun internasional. Surabaya menjadi rujukan penataan kota-kota lain di Indonesia, termasuk juga kota-kota di Jawa Timur.

Kebiasaan Risma turun langsung merawat taman juga mendapat apresiasi positif dari warga Surabaya sendiri. Tidak heran, dalam Pilwali kedua tahun 2015 lalu, para politisi kesulitan mencari lawan sepadan bagi Risma. Dia nyaris jadi calon tunggal.

Bukan saja taman, kota Taipei juga memiliki trotoar cukup lebar. Mirip dengan trotar di jalan Darmo atau jalan Urip Sumoharjo, Surabaya.

Yang unik, kalau di kota Surabaya jenis kendaraan roda dua beraneka ragam, di Taipei hampir semua kendaraan matic merk Kymko. Dengar-dengar, Pemerintah Taiwan memproteksi diri atas masuknya merk kendaraan dari negara lain.

Patut dicatat pula, kemacetan di kota Taipei cukup jarang. Kadang hanya terjadi sekitar jam 07.00 pagi. Yakni, ketika orang-orang berangkat kerja. Sedangkan di kota Surabaya, perihal macet, tidak perlu ditanya lagi. Bahkan jam 21.00 malam pun, jalan raya masih padat merayap.

Mengapa itu bisa terjadi? Banyak faktor tentunya.

Soal lebar jalan, Taipei dan Surabaya, hampir sama. Jalan utama rata-rata terdiri dari 3 atau 4 lajur searah. Non jalan utama, banyak yang dua lajur dengan dua arah.

Meski begitu, berbeda dengan di Surabaya, kendaraan di Taipei bisa melintasi jalan tol dalam kota. Kendaraan tidak menumpuk di jalan bawah. Kendaraan juga bisa melintasi jalan atas.

Kota Taipei juga dilengkapi dengan kereta alias trem. Maka, warga memiliki beberapa alternatif jika hendak bepergian.

Jika tidak salah, baik tol tengah kota maupun trem, sempat dipertimbangkan untuk mengatasi macet kota Surabaya. Namun dengan berbagai pertimbangan, Risma lebih memilih trem.

Perihal hunian, hampir semua warga Taipei tinggal di apartemen. Jarang sekali yang membangun rumah. Jikalau memiliki rumah, biasanya di luar kota. Dan itu pun, rumah lebih difungsikan sebagai vila. Bukan tempat tinggal sehari-hari.

Taipe memang sebuah kota yang padat. Sebuah kota yang menjadi magnet bagi warga daerah lain di Taiwan untuk datang mengadu nasib.

Seperti gejala yang terjadi wilayah Taitung, misalnya. Daerah persawahan dan perbukitan itu, generasi mudanya mayoritas sekolah dan bekerja di Taipe. Mereka enggan meneruskan usaha orang tuanya mengurus sawah dan kebun. Urbanisasi.

Dengan begitu, persis seperti Surabaya, Taipei semakin padat. Penuh dengan pendatang.

Bedanya, di Surabaya, pendatang rata-rata tidak tinggal di apartemen. Mereka lebih memilih membeli rumah di daerah pinggiran. Semisal daerah Wiyung, Kenjeran, Gununganyar, ataupun Keputih.

Selebihnya, mereka membeli rumah di sekitar kota Surabaya. Misalnya daerah Sidoarjo dan Gresik. Apalagi memang bejibun pengembang properti yang menawarkan kredit rumah jangka panjang. Ada yang kredit 10 tahun bahkan kredit 20 tahun.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, tren hidup di apartemen dan rusun (rumah susun) juga mulai menggejala di kota Surabaya. Terlebih, harga sewa apartemen juga semakin terjangkau.

Sebenarnya, selain perkara harga, hidup di apartemen ada kaitannya dengan kepadatan lalu lintas juga. Apartemen dan rusun membuat pekerja dekat dengan lokasi kantor atau perusahaan tempat kerja.

Bayangkan seorang yang bekerja di kota Surabaya namun tinggal di Sidoarjo. Mereka terpaksa menghabiskan sekitar 2 jam di jalan. Satu jam berangkat, satu jam pulang.

Bila tinggal di apartemen atau rusun, perjalanan mungkin cukup ditempuh dengan 15 atau 20 menit. Bisa jadi, warga cukup jalan kaki untuk pergi ke tempat kerja. Artinya, tempat kerja yang dekat turut mengurangi kepadatan pengguna jalan.

Satu etika yang dipegang teguh oleh warga Taipei adalah tentang ketertiban. Warga Taipei sangat menghormati antrean. Mereka jarang sekali menyerobot. Misalnya saat antre di kasir toko.

Etika itu diterapkan pula dalam berlalulintas. Langka di Taiwan kendaraan yang berjalan zigzag di jalan raya. Apalagi zigzag dengan dibumbui klakson, itu lebih langka lagi.

Sedangkan di Surabaya, kendaraan zigzag dan tantin klakson sangat mudah ditemui.

Ke depan, kita tentu berharap, etika kehidupan bersosial dan berkendara yang rertib kian tumbuh di kota Surabaya. Sebab, kenyamanan kota bukan saja dari keindahan taman. Infrastruktur. Kenyamanan ditunjang pula dengan cara hidup. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar