Sorotan

Liverpool, Tiga Hari Pertama di Bulan Juni

There are places I’ll remember
All my life, though some have changed
Some forever, not for better
Some have gone, and some remain

******

Madrid, 3 Juni 2019. Jordan Henderson berjalan mendekati ayahnya, Brian, di salah satu tribun Wanda Metropolitano. Tak banyak kata terucap. Di tengah puluhan ribu pendukung Liverpool dan nyanyian yang bergelombang tanpa putus, keduanya berpelukan. Erat. Air mata menetes. Bagai melepas rindu.

Hendo, kapten salah satu klub terkuat di Eropa, menangis dalam dekapan seorang tua ringkih yang didiagnosis mengalami kanker tenggorokan pada 2013. seorang tua yang sempat melarang sang anak menemuinya selama masa penyembuhan. Seorang tua yang tak ingin putranya bersedih.

Dan malam itu, Brian hadir di tengah puluhan ribu orang, mengatupkan tangan, menyilangkan dua jari, merapalkan doa untuk sang anak yang bertarung di lapangan: saat Hendo mempertahankan setiap jengkal daerah pertahanan Liverpool, jatuh bangun, berlari, merebut bola, dihajar lawan, bertabrakan.

Lalu Tuhan menjawab doa lelaki tua itu melalui Mohamed Salah, seorang muslim Mesir yang tengah berpuasa, pada menit kedua. Seorang Belgia berkulit hitam, Divock Origi, menggenapkan harapannya pada menit 87 dengan menaklukkan Hugo Lloris, dan sisanya adalah sejarah: Liverpool menjadi juara Eropa untuk keenam kalinya.

“Ayah, aku akan bermain di sana suatu hari kelak,” kata Hendo kecil, 19 tahun silam, kepada Brian di depan televisi saat anthem Liga Champions karya musisi Inggris Tony Britten terdengar.

Ce sont les meilleures équipes
Es sind die allerbesten Mannschaften
The main event
Die Meister
Die Besten
Les grandes équipes
The champions

Dan malam itu, Brian menyaksikan anaknya, seorang Mackem, warga asli Kota Sunderland, mengangkat trofi paling bergengsi untuk kaum Scouser, warga Kota Liverpool: sebuah kota yang berjarak 196 kilometer.

Tubuh Brian bergetar. Dia memeluk istrinya. Memeluk orang-orang di sekitarnya. Anaknya adalah bagian dari ‘Les grandes équipes‘, tim terbesar, dan berhasil mengusir suara-suara bising sekian tahun terakhir yang meragukan kapasitasnya sebagai kapten untuk klub sekelas The Reds. Jordan Henderson telah mencatatkan diri dalam buku besar sejarah Liverpool, sejajar dengan Emlyn Hughes, Phil Thompson, Graeme Souness, dan Gerrard. Sejajar dengan mereka yang telah menaklukkan Eropa di Roma, London, Paris, dan Istanbul. Dia bukan lagi catatan kaki.

Jordan Henderson melanjutkan tradisi momentum sepak bola seperti dalam lagu ‘In My Life‘ Beatles. Ada banyak tempat dan kota yang bakal dikenang: saat di mana klub ini jatuh dan bangun, timbul dan tenggelam. Sebagian akan diingat selamanya, dan sebagian adalah kekalahan getir yang mengajarkan lebih banyak hal seperti yang pernah dikatakan Bill Shankly, orang Skotlandia yang meletakkan pondasi kejayaan klub ini.

Setahun sebelumnya, di Kiev, Ukraina, Henderson menangis usai pertandingan. Tiga gol ke gawang Loris Karius membunuh mimpinya, dan dia tidak punya cukup imajinasi Liverpool bakal kembali mendapatkan momentum yang sama setahun kemudian. Namun Jurgen Klopp, pria brewok dari Black Forest, Jerman, itu berjanji kepada semua orang: kita akan kembali, lebih kuat, dan akan memenangkan ini. Tidak akan mudah. Tapi kita akan melakukannya.

Dan dia benar.

“Kita harus berubah dari seorang yang peragu menjadi seorang yang yakin,” kata Klopp saat pertama kali menginjakkan kaki di Anfield empat tahun sebelumnya. Dan dunia kemudian disuguhi serangkaian keajaiban, serangkaian ketidakmungkinan yang terwujud menjadi hikayat sepak bola untuk diceritakan sepanjang hayat.

Jika kemudian partai final melawan Tottenham Hotspur disebut sebagai yang terburuk oleh Jose Mourinho, siapa yang peduli? Partai final ini hanyalah kepingan terakhir dari puzzle sepak bola memukau yang disusun Liverpool sepanjang musim 2018-19. Kepingan bernama trofi.

Mereka telah membuat banyak orang jatuh cinta saat menaklukkan Bayern Munchen 3-1 di Stadion Olimpiade dalam Babak 16 Besar, dan membuat orang bertepuk tangan saat meruntuhkan Barcelona 4-0, setelah tertinggal 0-3 pada pertandingan pertama.

Namun keindahan dan menghibur saja tidak cukup dalam sepak bola. Klopp tak ingin berakhir seperti Mourinho, mengumpulkan banyak gelar namun lebih diingat karena pragmatisme sepak bola parkir bus yang menggemaskan. Klopp juga tak ingin dikenang seperti tim nasional Belanda pada Piala Dunia 1974 dan Hungaria pada Piala Dunia 1954. Mereka dicintai banyak orang, namun buku sejarah tak pernah mencatat pemenang kedua.

Liga Champions musim ini menunjukkan bagaimana Liverpool adalah sebuah tim yang komplet, tim yang diimpikan Shankly, diidamkan Paisley, dan bakal bikin bangga Joe Fagan: sebuah tim yang bisa memainkan apa yang mereka inginkan. Sebuah cikal-bakal dinasti dalam dunia sepak bola, melanjutkan apa yang telah mereka bangun.

Dan malam itu di Wanda Metropolitano, air mata Hendo dan sang ayah adalah bagian dari kenangan dan titik awal optimisme kembalinya Liverpool ke puncak.

******

All these places had their moments
With lovers and friends, I still can recall
Some are dead, and some are living
In my life, I’ve loved them all

Preston, 2 Juni 1957. Dan sejarah Liverpool dibentuk oleh hal-hal kecil, bahkan dari sebuah kota berpenduduk 141 ribu yang berjarak 43 kilometer. Dibentuk dari seorang bocah bernama Mark Lawrenson yang lahir dan dibesarkan tanpa imajinasi bakal mengangkat lima trofi juara Liga Inggris, satu Piala FA, tiga Piala Liga, dan sebuah trofi Piala Champions. Dia bermain untuk klub medioker Divisi Dua Liga Inggris Preston North End pada 1971-1977, dan kemudian bermain untuk Brighton Hove and Albion yang baru saja promosi ke Divisi Satu. Lawrenson merasakan bagaimana pahitnya nyaris terdegradasi pada musim 1980-1981 bersama Brighton.

Dari Lawro, kita tahu bahwa pembelian sosok pemain seperti Andrew ‘Robbo’ Robertson memiliki jejak sejarah panjang dalam Liverpool. Lawro adalah bagian dari tradisi Liverpool membidik pemain dari klub papan bawah, berusia muda, dan serbaguna. Sejarah yang tidak semua orang ingat, dan mungkin sempat bikin orang bertanya-tanya mengapa Bob Paisley menghabiskan
uang satu juta pound dari penjualan kiper Ray Clemence, pemain bertahan Jimmy Case, dan Colin Irwin, hanya untuk membeli seorang pemain berusia 24 tahun dari sebuah klub medioker. Persis seperti yang dipertanyakan orang-orang saat Jurgen Klopp membawa Robbo ke Anfield.

Bob Paisley menyebut ini pembelian yang tepat. Ini seperti paket ‘beli satu dapat tiga’. Lawro mengawali karir di Liverpool sebagai bek kiri, namun berikutnya dia mengisi hampir semua posisi mulai dari bek tengah, full back, gelandang, dan bahkan posisi di bawah mistar gawang jika Bruce Grobbelaar cedera dalam pertandingan.

Lawrenson adalah versi lawas seorang James Milner. Seorang ‘versatile’ sejati. Sebagaimana Milner di bawah asuhan Klopp, Lawrenson, tidak pernah protes saat mendapat tugas apapun dari Paisley. “Dia sangat pandai dan santai,” katanya.

Lawro adalah Robbo hari ini: seorang bek pekerja keras yang memulai karir dari bukan apa-apa menjadi salah satu pemain dalam buku besar legenda Liverpool. Sebagaimana Robertson yang memukau Klopp saat bermain bersama Hull City, Lawrenson memesona Paisley saat memperkuat Brighton pada 1980. Seorang ‘ball winner’ yang membuat penyerang Liverpool Kenny Dalglish kerepotan.

Selama 1981-1988, Lawrenson menciptakan banyak momentum bersama teman-teman satu timnya. Berseragam merah, mereka menderu menaklukkan Inggris dan seharusnya menaklukkan Eropa lebih lama, jika saja UEFA tak menjatuhkan sanksi larangan bermain selama enam tahun di level benua untuk Liverpool karena kerusuhan Heysel.

******

Though I know I’ll never lose affection
For people and things that went before
I know I’ll often stop and think about them
In my life, I’ll love you more

Liverpool, 3 Juni 1892. Dan sejarah harus ditulis ulang, jika saja John Houlding tak memutuskan berpisah jalan dengan Everton Football Club hari itu. Tak akan ada kisah-kisah penaklukkan Eropa ‘From Paris down to Turkey‘, jika hari itu nama Liverpool Football Club and Athletic Grounds Company Limited tidak diresmikan, meneguhkan deklarasi awal pada 15 Maret sebelumnya.

Houlding mengawali semua hanya dengan sebuah stadion besar dan kosong bernama Anfield. Dia hanya ditemani dua loyalisnya, Edwin Berry dan William Edward Barclay. Mereka belum memiliki sebuah tim yang bisa diikutkan kompetisi kelas kampung sekalipun.

Barclay sebenarnya bekerja sebagai sekretaris klub. Namun, Houlding kemudian menugaskan kepadanya untuk membentuk tim dan menjadi manajer pertama Liverpool. Maka sepanjang 1892, Barclay berburu pemain di sejumlah kawasan di Inggris dan Skotlandia untuk mengumpulkan 16 pemain generasi pertama Liverpool FC.

Dan tirai sejarah dibuka pada 1 September 1892, saat Liverpool beruji coba pertama kali melawan Rotherham Town, sebuah tim dari Liga Midland, di Anfield. Bersama Barclay, Liverpool memainkan 91 pertandingan, dan 52 kali di antaranya menuai kemenangan, 17 kali hasil imbang, dan 22 kali kekalahan. Dia membangun pondasi untuk seorang Ulster dan Ordo Oranye bernama John McKenna yang kelak ditunjuk menjadi manajer dan membentuk generasi awal berjuluk ‘Team of The Macs’. Sebuah tim yang terdiri atas orang-orang Skotlandia, yang mengilustrasikan bagaimana sejak mula Liverpool Football Club adalah representasi kosmopolit sebuah kota pelabuhan yang terbuka terhadap dunia luar.

Liverpool is the city of music, of the working class and of football. Anyone who has managed in England knows it is a special place for football. That’s why they can always make miracles.”

Mantan Manajer Arsenal dari Prancis Arsene Wenger mengatakan itu saat tampil di televisi bersama ‘The Special One’ Jose Mourinho, pada sebuah malam final bersejarah di Wanda Metropolitano, 127 tahun kemudian. Suatu malam saat ‘You’ll Never Walk Alone‘ dinyanyikan 50 ribu orang dengan lantang dan bangga.

“Ini lebih indah daripada yang bisa kita ucapkan.” Dan Mourinho tak sedang bohong malam itu. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar