Sorotan

Perempat Final Piala Indonesia

Let’s Talk About Six, Persebaya

Saya menyitir judul itu dari ucapan Manajer Liverpool Jurgen Klopp saat diwawancarai televisi. Mari bicara soal angka enam: jumlah Piala Eropa Antarklub yang diboyong Liverpool. Mari bicara soal angka enam: final keenam yang akhirnya dimenangkan Klopp, setelah lima kali gagal sejak melatih Borussia Dortmund.

Let’s talk about six. Mari bicara yang manis-manis soal angka enam. Di Liverpool. Untuk Jurgen Klopp.

Namun untuk Persebaya, bagi Djajang Nurjaman, angka enam adalah simbol penderitaan. Don’t talk about six. Jangan bicara angka enam: enam kegagalan beruntun meraih kemenangan dalam pertandingan semua kompetisi yang diselenggarakan PSSI. ‘Streak’ tanpa kemenangan terpanjang klub ini dalam sejarah satu musim kompetisi. Lebih menyakitkan, catatan rekor terbaru ini dibuat sehari setelah perayaan hari jadi ke-92 pada 18 Juni.

Seri 2-2 di kandang melawan Arema, dalam final pertama Piala Presiden 2019.
Kalah 0-2 di Malang melawan Arema, dalam final kedua Piala Presiden 2019.
Kalah 1-2 di Gianyar melawan Bali United, dalam Liga 1 2019
Seri 1-1 di Surabaya melawan Kalteng Putra, dalam Liga 1 2019.
Seri 1-1 di Surabaya melawan PSIS, dalam Liga 1 2019.
Seri 1-1 di Surabaya melawan Madura United, dalam perempat final pertama Piala Indonesia.

Daftar ‘streak’ tanpa kemenangan main panjang, jika kita memasukkan hasil imbang 1-1 dalam uji coba melawan PSID, klub Liga 3 dari Kabupaten Jombang. Tujuh ‘streak’ tanpa kemenangan: hasil yang jauh dari kata layak bagi sebuah tim sebesar Persebaya. Atau jangan-jangan kita semua sudah terjebak delusi: cara pandang ala fans Tottenham Hotspur yang memandang klubnya besar dan disegani, padahal tidak. Jangan-jangan Persebaya memang klub medioker yang masih merasa diri sebagai klub besar.

Simaklah bagaimana pertandingan melawan Madura United di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu (19/6/2019) sore. Entah apa yang dilakukan para pemain Persebaya di atas lapangan pada babak pertama. Alur serangan tidak jelas. Salah oper berkali-kali. Jarak pemain antar lini terlampau jauh. Tidak ada pressing, namun barisan belakang naik terlalu tinggi dan tidak disiplin membuat garis sejajar jebakan offside.

Gol pertama Madura United pada menit 2 menunjukkan betapa mediokernya Persebaya. Sebuah umpan lambung dari lingkaran tengah lapangan ke arah Aleksandar Rakic tidak diantisipasi oleh para pemain belakang. Bek tengah Hansamu Yama Pranata berusaha mengajar, namun tekelnya gagal menghadang bola tendangan Rakic.

Setelah itu, Gelora Bung Tomo tak ubahnya kandang yang nyaman bagi para pemain Madura United. Mereka bermain lepas dan yakin bakal bisa mengakhiri rentetan hasil negatif melawan Persebaya selama ini. Andik Vermansah yang sudah tak lagi kagok melawan mantan klubnya itu beberapa kali mengancam gawang Miswar Saputra. Para pemain Persebaya tak konsisten memberikan tekanan kepadanya.

Sepanjang pertandingan, setidaknya tiga kali Andik nyaris membobol gawang Persebaya. Menit 25, dengan bebas Andik bisa mengatur posisi untuk melakukan tendangan jarak jauh dari luar kotak penalti tanpa gangguan pemain Persebaya. Bola meluncur deras dan bisa ditepis Miswar.

Menit 80, pemain kelahiran Kabupaten Jember itu merangsek ke kotak penalti, meliuk, menggoyang tubuh, dan berhasil melepaskan tembakan kendati berada pada posisi satu lawan satu dengan M. Syaifuddin. Miswar lagi-lagi berhasil menepisnya. Satu menit kemudian, Andik kembali bikin Bonek cemas. Menerima bola operan Rakic, Andik tak terkawal masuk ke kotak penalti. Dia berhadapan satu lawan satu dengan Miswar Saputra. Namun bola tembakannya ditangkap dalam jarak dekat oleh kiper asal Aceh itu.

Para pendukung Persebaya sore itu dibikin cemburu dengan cairnya alur serangan Madura United. Transisi dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya yang diperagakan pemain Madura membuat dominasi pada babak pertama tak tertahankan. Sementara Persebaya lebih banyak mengandalkan aksi individu Damian Lizio. Amido Balde tidak mendapat suplai bola-bola atas dari sayap. Sementara Manuchehr Jalilov seperti sedang sial. Bola-bola tendangannya melenceng atau dipatahkan kiper M. Ridho.

Situasi membaik saat Irfan Jaya menggantikan Oktafianus Fernando dan Osvaldo Haay menggantikan Balde pada menit 52. Dua menit kemudian, Haay mencetak gol. Gol berawal dari Lizio yang melepaskan tembakan keras dalam kotak penalti. Ridho berhasil menepisnya. Bola jatuh di kaki Jalilov yang langsung menendangnya dalam jarak dua meter dari mulut gawang. Kena tiang! Untung bola memantul ke kaki Haay yang langsung memasukkannya ke dalam gawang.

Djajang Nurjaman sudah tepat saat memasukkan Irfan dan Osvaldo. Kecepatan keduanya membuat konsentrasi pemain Madura United akhirnya terpecah dan tak lagi asyik menyerang sebagaimana babak pertama. Kecepatan keduanya membuat stamina pemain Madura lebih terkuras. Di tengah, Muhammad Hidayat berhasil memainkan fungsinya sebagai gelandang bertahan yang bekerja keras sendirian menghadang semua serangan lawan. Namun semua serangan pemain Persebaya selalu patah dengan tiga cara yang sama: ditepis M. Ridho, terkena tiang gawang, atau melenceng.

Kegagalan demi kegagalan menjebol gawang Madura United berujung pada ‘pitch invasion’ yang dilakukan Bonek pada masa injury time. Sejumlah Bonek bersama-sama membentangkan spanduk putih besar bertuliskan ‘Jangan Bikin Malu Surabaya’ menghadap ke arah tribun VIP yang ditempati petinggi klub. Di mulut gawang sisi utara, spanduk hitam bertuliskan ‘Until When You #92 Fight For Your Victory’.

Cerawat dan bom asap menyala di sejumlah titik. Petasan terdengar beberapa kali. Beberapa Bonek turun dan menyeret papan iklan yang semula di belakang gawang sisi utara ke tengah lapangan.

Tak ada ‘Song for Pride’. Pertandingan terhenti sebelum wasit meniupkan peluit panjang. Kepanikan tampak di kubu Persebaya. Asisten pelatih Bejo Sugiantoro berjalan menuju tengah lapangan mendatangi para suporter yang membawa spanduk putih. Entah apa yang diucapkannya. Namun anaknya, Rachmat Irianto, terlihat sibuk menenangkan dan merangkulnya, lalu membawanya menjauh, kembali ke tepi lapangan.

Di mata sebagian kalangan, aksi Bonek dipicu karena kegagalan Persebaya menang melawan Madura United saja. Pandangan ini tidak keliru sepenuhnya. Namun, sebagaimana dikatakan Muhammad Marzuki, salah satu Bonek dari Waru, aksi itu sebenarnya ibarat letusan kecil gunung bawah laut yang sudah lama mengeluarkan butiran abu. Dengan kata lain aksi itu hanya akumulasi dari sekian kekecewaan Bonek terhadap manajemen Persebaya.

Relasi Bonek dan manajemen memang tak stabil. Ada sekian faktor yang membuat Bonek berang, mulai dari penyebutan ‘customer’ kepada mereka oleh Presiden Persebaya Azrul Ananda, drama rekrutmen Andik Vermansah, pesimisme terhadap ambisi manajemen membangun skuat juara, hingga kegagalan demi kegagalan dalam pertandingan. “Ini buntut rasa kecewa karena manajemen dan ofisial tak kunjung melakukan perbaikan segala lini,” kata Husin Ghozali, salah satu Bonek yang biasa berada di tribun utara.

Bonek merasa suara mereka tidak cukup didengar. Aksi protes di media sosial, lontaran unek-unek dalam pertemuan langsung dengan manajemen, hingga aksi protes di stadion tak membuahkan hasil. Maka ‘pitch invasion’ menjadi pilihan terakhir.

Aksi itu tak sepatutnya dilakukan karena memiliki konsekuensi berat bagi Persebaya. Namun melihat skala insiden sore itu, Bonek melakukan protes via ‘pitch invasion’ secara terukur. Di luar aksi perusakan papan reklame di sisi utara, tak ada laporan kerusuhan besar-besaran di luar stadion. Bahkan bagian lain stadion di sisi barat, timur, dan selatan tak tersentuh kerusuhan. Ribuan Bonek lainnya juga tampak asyik menyaksikan pitch invasion itu sembari duduk santai. Ini berbeda sekali dengan sejumlah kerusuhan yang dilakukan Bonek pada masa lalu.

Ada pro dan kontra menyikapi aksi tersebut. Namun perdebatan sudah tak lagi penting, karena ini ibarat telur yang sudah pecah. Kini yang perlu dilakukan adalah mengolah isi telur agar tetap enak dimakan. Memperdebatkan siapa yang memecahkan telur dan bagaimana telur itu pecah tak akan mengembalikan telur seperti semula.

Manajemen Persebaya harus menganggap aksi itu sebagai sinyal peringatan serius. Respons yang keliru justru akan memanaskan suasana. Respons pertama Persebaya yang mengangkut para pemain menggunakan kendaraan taktis kepolisian saat keluar stadion usai pertandingan cukup mengejutkan. Ini pertama kali dalam sejarah Persebaya. Bahkan dalam kerusuhan berskala besar saat dikalahkan Persela Lamongan pada 2004 di Gelora 10 Nopember, tak ada pemain yang diangkut kendaraan taktis. Mereka berjalan kaki kembali ke Wisma Persebaya yang berjarak sepelemparan batu dari stadion, dan tak ada Bonek yang mengganggu.

Ada apa dengan Persebaya? Sebegitu minorkah pandangan manajemen terhadap para suporter yang membuat Persebaya menjadi klub dengan penonton terbanya musim lalu, terhadap suporter yang rela membeli tiket lebih mahal daripada harga tiket klub-klub lain, terhadap mereka yang rela menyisihkan uang untuk membeli pernik-pernik atribut resmi klub yang tak murah?

Saatnya Bonek dan jajaran pengurus Persebaya kembali duduk bersama dalam arti sesungguhnya: saling mendengar untuk mencari apa yang salah tanpa berpretensi mengusut siapa yang salah. Jika sepak bola adalah sebuah olahraga kolektif, maka kesalahan tak bisa dibebankan pada satu atau dua pihak. Semua memiliki andil masing-masing terhadap jatuh dan bangunnya klub ini.

Manajemen Persebaya harus mewaspadai fenomena ini: semakin surutnya jumlah penonton yang hadir ke stadion. Pertandingan melawan Madura United tempo hari hanya disaksikan 11.200 penonton. Padahal dalam beberapa pertandingan melawan Madura United sebelumnya, jumlah penonton selalu menembus angka 20 ribu orang. Sepinya penonton juga terlihat dalam pertandingan melawan Kalteng Putra. Pertandingan melawan PSIS Semarang masih dijejali 40 ribu penonton karena predikatnya sebagai partai klasik tim eks perserikatan.

Kekecewaan demi kekecewaan yang tak terobati bisa berujung pada aksi boikot ke stadion. Ini berbahaya. Diakui atau tidak, dengan prestasi Persebaya yang masih kembang-kempis, maka satu-satunya hal yang membuat Persebaya tetap menarik adalah besarnya jumlah suporter di dalam dan luar stadion. Tanpa Bonek, Persebaya bagai mesin tanpa bensin. Kita belajar banyak dari Persebaya bentukan PSSI pada masa lampau. Nama Persebaya boleh melekat saat itu. Namun akhirnya itu hanya nama kosong, karena tak ada satu pun yang menyokong. Tanpa dukungan publik, mereka akhirnya dipaksa berganti nama dan pergi dari Kota Surabaya tanpa kekerasan.

Let’s talk about six. Mari kita bicara tentang enam kegagalan beruntun Persebaya dengan kepala dingin. [wir]

Apa Reaksi Anda?

Komentar