Sorotan

Kesempatan Terakhir Prabowo

Ribut Wijoto.

SAAT INI ADALAH KALI KETIGA Prabowo Subianto mengikuti ajang Pemilihan Presiden. Tahun 2009, Prabowo maju sebagai Calon Wakil Presiden mendampingi Megawati Soekarno Putri. Prabowo maju di Pilpres 2014 dengan didampingi Hatta Rajasa.

Hasilnya, semua sudah tahu, Prabowo kalah. Tahun 2018 Prabowo dikalahkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono. Lima tahun berikutnya, dalam pertarungan sangat ketat, Prabowo gagal mengungguli pasangan Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf Kalla.

Kali ini, Prabowo mendapat mandat dari koalisi Partai Gerindra – PKS – PAN untuk diusung sebagai Calon Presiden berpasangan dengan Sandiaga Uno. Lawan yang dihadapi masih sama namun beda pasangan, yakni Jokowi – Ma’ruf Amin.

Menilik dari usia, Prabowo telah berumur 67 tahun lebih. Lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951. Lima tahun lagi, mantan Danjen Kopassus ini berumur 72 tahun. Tampaknya, usia 72 tahun bukanlah umur yang ideal untuk bertarung sebagai Calon Presiden.

Apalagi jika kali ini Prabowo kalah lagi, peluang 5 tahun lagi untuk maju di perhelatan Pilpres 2024 sangat kecil. Partai-partai tentu berpikir ulang untuk mengusung tokoh yang telah 3 kali kalah dalam Pilpres.

Maka, bisa dibilang, Pilpres 2019 adalah kesempatan terakhir Prabowo. Kecuali bila dia menang. Jika menang, tahun 2024 terbuka peluang maju kembali dalam statusnya sebagai petahana. Itu artinya, Prabowo dituntut untuk kerja keras atawa all out agar bisa menang.

Lalu, bagaimana peluang Prabowo?

Paling mudah menjawab pertanyaan tersebut adalah dengan berkaca pada hasil riset lembaga survei. Mayoritas hasil riset lembaga survei yang mapan, elektabilitas (tingkat keterpilihan) Prabowo terpaut cukup jauh dengan Jokowi. Kisaran selisihnya antara 15 sampai 25 persen. Jokowi yang lebih unggul.

Menyikapi hasil-hasil survei yang tak menguntungkan dirinya, Prabowo dengan yakin menyatakan bahwa dia tidak percaya dengan lembaga survei. Alasannya, hampir semua lembaga survei bekerja atas dasar order alias pesanan.

Prabowo lebih percaya dengan hasil survei internal. Di mana, pada survei tersebut, elektabilitas Prabowo merangkak naik dan telah menyalip elektabilitas Jokowi.

Prabowo juga mengingatkan melesetnya beberapa hasil survei saat Pilgub DKI Jakarta tahun 2017. Waktu itu, beberapa bulan sebelum coblosan, elektabilitas Anies Baswedan – Sandiaga Uno sangat jauh di bawah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Saifullah. Toh akhirnya, saat coblosan, Anies yang didukung oleh Prabowo keluar sebagai pemenang.

Orang juga tidak boleh lupa, Prabowo terpilih sebagai Calon Presiden tidak melalui jalan yang mudah. Kurang dari sebulan pendaftaran Calon Presiden, yaitu 17 Agustus 2018, nama-nama populer masih bersliweran di mata partai politik. Kesemuanya layak untuk diusung ke Pilpres 2019. Sebut saja nama-nama seperti  Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, Amien Rais, Jusuf Kalla (JK), maupun Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Toh akhirnya partai-partai politik lebih percaya kepada kapasitas Prabowo Subianto. Ketokohan Prabowo dinilai paling menyakinkan untuk mampu mengalahkan Jokowi.

Sedangkan secara real (nyata) adalah pertimbangan hasil Pilpres 2014. Sejarah mencatat, rekapitulasi KPU, Pilpres 2014 dimenangkan pasangan Jokowi hanya dengan selisih 6,30 persen. Ketika itu pasangan Jokowi – Jusuf Kalla meraup 70.997.833 suara alias 53,15 persen. Sedangkan Prabowo – Hatta Rajasa meraih 62.576.444 suara atau 46,85 persen.

Artinya, jika Prabowo mampu mempertahankan 46 persen suara pemilih yang telah diraih 5 tahun lalu, dia sebenarnya tinggal mencari tambahan 5 persen lagi.

Di balik peluang-peluangnya, tentu saja, Prabowo punya kendala. Kendala utama saat ini adalah kapasitas Jokowi. Santer diunggah di media sosial bahwa Jokowi suka ingkar janji. Banyak janji kampanye 5 tahun lalu yang dinilai tidak direalisasikan.

Namun, walau gencar diserang di media sosial sebagai ahli ‘ingkar janji’, hal itu tidak mampu mengikis fakta bahwa Jokowi seorang pekerja keras. Motto ‘kerja kerja kerja’ terus melekat pada diri Jokowi. Dan, itu sangat jarang orang menyangkal.

Selain pekerja keras, Jokowi juga dikenal bersih. Meski telah jadi Presiden RI, gaya hidup bersahaja Jokowi dan keluarganya tidak banyak berubah. Jauh dari gelimang kemewahan. Bahkan anak bungsu Jokowi sempat ikut seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan gagal lolos. Keluarga Jokowi juga seakan tidak pernah tersenggol dari dugaan korupsi.

Kendala lain dari upaya Prabowo memenangi Pilpres yakni sulitnya mengulang strategi kampanye Pilgub DKI Jakarta. Ketika itu, suara Ahok anjlok dan akhirnya kalah akibat isu penistaan agama Islam.

Memang, Prabowo senantiasa diinformasikan sebagai Calon Presiden hasil Ijtima Ulama. Namun, lawan yang dihadapi bukanlah seperti Ahok yang non-muslim. Lawan kali ini adalah Jokowi yang berpasangan dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), yakni Ma’ruf Amin. Selain itu, Ma’ruf Amin juga Rais Aam PB Nahdlatul Ulama.

Coblosan Pilpres sebulan lagi, yaitu 17 April 2019. Segala kemungkinan masih terbuka. Jarak elektabilitas Jokowi memang unggul di kisaran 15 sampai 25 persen tetapi masih ada swing voters (pemilik suara yang belum menentukan dukungan atau masih memungkinkan pindah dukungan) yang jumlahnya bisa mencapai 30 persen. Jika Prabowo mampu memikat swing voters maka bukan tidak mungkin dia terpilih menjadi Presiden RI periode 2019-2024. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar