Sorotan

Kemalisme, Erdoganisme, dan Lanskap Politik Turki (5)

Ainur Rohim

Abdullah Gul, Recep Tayyip Erdogan, dan Adalet ve Kalkinma Partisi/Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP)
telah menandai perubahan politik bersifat substanstif di ranah politik Turki. Berkuasa sejak 2002 hingga sekarang, AKP dan Erdogan telah mengembalikan nilai-nilai yang dilandasi spirit ke-Islam-an dalam praktek politik Turki.

AKP sebagai kendaraan politik Erdogan secara tersurat tak mengusung ideologi Islam sebagai platform partainya, tapi penerapan Islam secara substantif dalam kehidupan rakyat Turki telah menempatkan kembali sebagai lingkungan politik yang berwatak Sekulerisme Turki (Kemalisme) dan kembali menarik Islam ke garis tengah kekuasaan politik di negara tersebut.

Terlahir pada 26 Februari 1954 di sebuah desa kecil di Kota Istanbul, Turki, Erdogan berasal dari kalangan keluarga rakyat kecil, layaknya warga negara Turki pada umumnya. Rasulllah Muhammad SAW, nabi akhir zaman yang lahir di Kota Mekkah, wafat dan dimakamkan di Madinah, adalah sosok yang diidealkan Erdogan. Nama tokoh lain yang memperoleh tempat khusus di alam pikiran Erdogan adalah Necmetin Erbakan, seorang politikus senior Turki yang istiqomah dengan perjuangannya mengembalikan nilai-nilai Islam dalam praksis politik Turki modern.

Erbakan menjadi mentor politik Erdogan. Pemimpin Partai Keselamatan Nasional Islam Turki itu yang memberikan pendidikan politik dan kesempatan kepada Erdogan untuk memimpin bidang kepemudaan di partai tersebut sebelum Erdogan bersama Abdullah Gul mendidikan partai AKP.

Partai Refah yang juga dipandegani Erbakan berhasil mengusung Erdogan menang dalam pemilihan wali kota Istanbul pada 1994. Erdogan memposisikan Erbakan sebagai guru politiknya dan selalu mempergunakan ideologi ke-Islam-an seperti Erbakan dalam gerakan politiknya. Sehingga kenyataan itu seringkali membuat geram politikus Sekuler Turki(Kemalisme) dan militer sebagai penjaga ideologi Kemalisme.

Spirit ke-Islam-an yang kuat dari Erdogan itu bisa dilihat dari buku yang ditulis Syarif Taghian (2015), yang berjudul: Erdogan Muadzin dari Istanbul Penakluk Sekulerisme Turki. Taghian menulis bahwa: Saat menjabat wali kota Istanbul, Erdogan sukses dalam menanamkan sosoknya sebagai penolong bagi orang-orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Di mana dia telah memberikan bantuan kepada banyak orang, baik bantuan uang maupun materi. Dalam waktu bersamaan, Erdogan masih tetap menunjukkan sosok orang yang taat beragama dan menjalankan salat tepat waktu. Dia selalu menyertakan dalil Al Qur’an dan Al Hadits dalam setiap pidato dan sambutannya.

Erdogan juga masih tetap tinggal di rumahnya yang sederhana di Qasim Basya. Dia menolak untuk pindah ke tempat lain yang layak bagi seorang wali kota di kota besar seperti Istanbul. Di kota besar, Istanbul, Erdogan hidup di antara dua kekuatan yang bertentangan. Kekuatan masa lalu yang dibangun Turki Utsmani dalam beberapa abad berupa istana, masjid, dan kota-kota klasik, dengan kekuatan modern, yang terlihat dari simbol-simbol baru yang diterapkan Republik (Sekuler) Turki. Cerita rakyat telah menjadi metamorfosis untuk menantang sikap keras Erdogan dalam mengembalikan Republik Turki, yang tumbuh atas jargon-jargon seperti, “Perdamaian dalam Negeri”, “Perdamaian Dunia”, dan “Tak Ada Kawan Bagi Turki Kecuali Turki”.

Yang penting menjadi catatan dalam melihat Turki dalam 15 tahun terakhir, ketika AKP jadi rulling party dan Erdogan memegang tampuk kekuasaan, adalah bagaimana Turki mampu mengawinkan nilai spirit ke-Islam-an yang tertanam kuat di hati sanubari mayoritas warganya dengan demokrasi sebagai konsep manajemen negara modern. Paul Saleem (2015), Direktur Markas Carnegie yang berkedudukan di Lebanon, memberikan catatan khusus tentang keberhasilan Turki mempertemukan antara nilai-nilai spiritual Islam dengan demokrasi dalam praksis politik kenegaraan.

Saleem mengutarakan bahwa abad ini sepertinya menjadi milik Turki, karena Turki adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang benar-benar menuju masa depan yang cemerlang. Turki benar-benar memahami bagaimana sebenarnya demokrasi yang pas di Timur Tengah dan bagaimana membuat Islam secara politik menjadi moderat
dan memungkinkan untuk menjadi sebuah partai yang tertata. Turki juga paham bagaimana menjalankan kegiatan perekonomian di abad XXI dan bagaimana menyatukan antara Islam dengan Sekulerisme, keilmuan, indivual serta kelompok yang memiliki kemaslahatan bersama dalam masyarakat itu sendiri di wilayah Timur Tengah.

Perkawinan politik antara nilai-nilai spirit ke-Islam-an dengan demokrasi dalam praksis politik kenegaraan Turki oleh AKP dan Erdogan selama 7 tahun pertama kepemimpinannya, mampu menurunkan inflasi Turki dari level 70 persen menjadi 10 persen, peningkatan income per kapita dari USD 3.000 jadi USD 10.000, rata-rata pertumbuhan ekonomi Turki mencapai 7 persen setiap tahun sehingga mampu menggerek perekonomian Turki masuk 16 besar dunia dan peringkat keenam di Eropa, dan tingkat GNP Turki naik drastis dari USD 300 miliar jadi USD 750 miliar pada 7 tahun pertama pemerintahan AKP dan Erdogan.

“Pada saat orang-orang yang mengagumi dirinya terus bertambah, orang-orang yang mengkritiknya berkurang dan mundur. Di Turki, Erdogan adalah laki-laki bintang nomor satu. Banyak orang berpendapat bahwa setelah pemimpin historisnya, Mustapha Kemal Attaturk, rakyat Turki tak mengenal orang sepertinya. Yang lain menambahkan bahwa Erdogan mampu meruntuhkan patung Attaturk tanpa satu tembakan pun atau melakukan penggulingan kekuasaan tanpa menyentuh lembaga militer sebagai penjaga mazhab Sekulerisme Turki (Kemalisme) yang disucikan, seperti yang mereka katakan,” tulis Taghian (2015).

Keberhasilan Partai AKP dan Erdogan dalam menggerek dan mengakselerasi perekonomian Turki di 7 tahun awal pemerintahannya, karena Erdogan mampu mengubah struktur penguasaan ekonomi negara ini. Ekonomi Turki yang awalnya lebih mendekati oligarki dengan karakter monopolinya yang menonjol mampu ditransformasikan menjadi struktur ekonomi lebih menyebar dan demokratis. Pertumbuhan ekonomi Turki tak sekadar bergantung pada organisasi profesi pengusaha lama yang dinamakan Tosead, sebuah organisasi pengusaha yang beranggotakan sekitar 545 pengusaha besar Turki, yang omsetnya mencapai 47% dari nilai total perekonomian Turki, dengan nilai volume transaksi mencapai USD 70 miliar per tahun.

Tosead dikenal sebagai organisasi pengusaha Turki yang lama dekat dengan elite politik sekuler dan militer serta memiliki pengaruh sangat kuat. Tosead mempunyai banyak jaringan dan pengaruh kuat dalam keputusan ekonomi serta politik Turki. Mulai era tahun 1980-an, di Turki tumbuh dan berkembang organisasi profesi pengusaha lainnya di luar Tosead. Namanya Mosead. Jumlah mereka cukup besar yakni sekitar 2.600 pengusaha Turki, dengan jumlah perusahaan mencapai 800 unit.

Kendati rata-rata skala dan volume usaha dari pengusaha yang tergabung di Mosead ini tak sebesar pengusaha Tosead, organisasi Mosead memiliki peran penting sebagai pelaku bisnis ekonomi sekaligus pengimbang organisasi lama: Tosead. Tentu karena bisnis ekonomi itu selalu memiliki relasi kuat dengan politik, anggota Mosead seringkali mengalami serangan-serangan negatif dari lawannya, dengan konten politik yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Namun demikian, kehadiran Mosead memiliki fungsi strategis untuk pemerataan struktur perekonomian Turki agar lebih demokratis dan tak oligopolis. Dalam pandangan umum, Mosead memiliki kedekatan dengan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan kalangan aktivis politik Islamis, sedang Tosead lama memiliki jalinan dan kedekatan dengan elite politik Sekuler dan militer.

Memperlakukan dua struktur organisasi profesi pengusaha yang secara politik dan ekonomi bersifat dikotomis itu, langkah Erdogan sangat prudent dalam merespon melalui instrumen kebijakan ekonomi yang dijalankannya. Hal itu penting dilakukan semata-mata demi akselerasi pertumbuhan ekonomi dan promosi kesejahteraan rakyat Turki secara komprehensif dan sustainable. Sebab, capaian prestasi sosial ekonomi yang jempolan hakikatnya menjadi legacy sekaligus legitimasi politik tak terbantahkan elite penguaha di mata rakyatnya.

Sadar dengan realitas yang dihadapi Necmetin Erbakan di periode pemerintahan sebelumnya, Partai AKP dan
Erdogan berusaha menghapus aturan-aturan ekonomi yang tak bisa dilawan kelompok pengusaha Sekuler atau
dipermainkannya, dengan alasan menerapkan prinsip-prinsip persatuan Eropa dan mematuhi kaidah-kaidah
ekonomi liberal dan bekerja sama dengan IMF. Banyak pengamat ekonomi dan politik di Turki menilai, langkah
dan kebijakan Erdogan dalam konteks ini sangat cerdas.

Keseimbangan politik Tosead dengan Mosead dalam perspektif ekonomi bisnis obyektif Turki merupakan kata kunci yang mesti ditemukan agar ekonomi Turki tak mengalami kontraksi dan stagnasi. Keberhasilan Partai AKP dan Erdogan juga tak mungkin dilepaskan dari pengalaman politik mereka sebelumnya sebagai penguasa dan atau kepala daerah di daerah-daerah besar di Turki, seperti Ankara dan Istanbul.

“Elite ekonomi tradisional Turki selalu berkaitan dengan elite Sekuler dari segi politik dan militer. Terutama kaitan keanggotaannya dengan kekuatan perekonomian global dan perusahaan besar transnasional. Sebagaimana pembentukan para pekerja Yahudi Turki dan orang-orang yang menamakan dirinya dengan Yahudi Ad-Dunama sebagai bagian penting dari elite ini. Dan yang melibatkan secara mendasar ke dalam asosiasi pengusaha dan industrialis Turki (Tosead),” tulis Syarif Taghian (2015).

Sebagaimana Indonesia ketika militer terlibat dalam politik praktis dan banyak negara berkembang lain yang mengizinkan militer bergerak di luar ranah hankam, militer Turki (TSK) tak hanya mengurus pertahanan,
keamanan, dan politik untuk menjaga ideologi Kemalisme. Militer Turki memiliki sejumlah korporasi bisnis berskala cukup besar. Mereka dalam menjalankan kinerja bisnisnya mempunyai cukup banyak privilege dan cenderung bersifat eksklusif.

Yang dilakukan Erdogan dan Partai AKP adalah membiarkan bisnis militer itu terus berkembang dengan mengurangi tingkat eksklusivitasnya. Industri pertahanan yang menghasilkan banyak perangkat keras militer terus didorong, dengan tujuan mengurangi tingkat ketergantungan Turki pada persenjataan yang diproduksi negara lain, terutama Amerika Serikat dan Rusia.

“Industri pertahanan kita telah berkembang dengan pesat. Ini jauh meninggalkan masa ketika Turki tidak mampu memproduksi bahkan senapan yang paling sederhana sekali pun. Tetapi (hari ini) kita mampu memproduksi tank kita sendiri, kita telah mendirikan infrastruktur untuk tank nasional yang disebut Altay. Kita telah mulai uji coba penerbangan produk nasional pesawat tanpa awak Anka yang bisa naik hingga 10 ribu meter dan tinggal di udara selama 24 jam,” demikian bunyi dokumen dari AKP, Vision of Ak Parti.

Di luar industri pertahanan, ada dua lembaga yang memayungi aktifitas bisnis militer Turki, yakni Oyak (Ordu Yardimlasma Kurumu) yang berdiri pascakudeta militer 1961 dan TSKGV (Turk Silahi Kuvvatlerini Guclendirme Vakfi) yang berdiri pada 1987. Oyak bergerak di berbagai lini bisnis, seperti semen, baja, dan otomotif. Nilai penjualannya bisa mencapai USD 15 miliar per tahun. Oyak dikelola pensiunan militer Turki dengan melibatkan kaum profesional yang paham dunia bisnis. Lembaga ini mengontrol pendanaan sekitar 260.000 pensiunan militer Turki dengan melibatkan sekitar 30 ribu tenaga dalam menggerakkan berbagai lini mesin bisnisnya.[air/bersambung]

Apa Reaksi Anda?

Komentar