Sorotan

Teknik Mantra Oka Rusmini

Kata-kata yang Memiliki Roh Menuju Penciptanya

Ribut Wijoto.

Teknik mantra dari puisi Oka Rusmini berjudul ‘Sajak Buah’ cukup menarik untuk diperhatikan. Teknik mantra dalam puisi ini berbeda dengan yang telah dikembangkan oleh Sutardji Calzoum Bachri.

Pada Sutardji, teknik mantra diwujudkan dalam kata-kata yang tidak memiliki makna harafiah atau makna kamus. Seperti zzzzz, au, ngaung, sepisaupa sepisaupi, dan lain-lain. Teknik itu dikuatkan melalui kredonya ‘membebaskan kata dari makna’.

Puisi Oka Rusmini, meskipun sama-sama mengadopsi mantra, tetapi mengambil jalur yang berbeda. Kata-kata dibiarkan sama seperti dalam artian kamus. Penyair berdarah ningrat dari Bali ini juga tidak terlalu menekankan permainan bunyi.

Lihatlah puisi Oka Rusmini yang pernah dimuat di Jurnal Kalam edisi 4, tahun 1995, berikut:

Dalam artian kamus (KBBI), mantra adalah (1) perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib (misalnya dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya), (2) susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain, (3) kata atau frase yang diulang-ulang untuk tujuan pengobatan.

Membaca puisi Oka Rusmini, kita seakan-akan seperti paranormal atau kepala suku yang merapalkan mantra. Itu karena kalimat-kalimat yang mengarah pada pemaknaan bahwa benda-benda di alam semesta memiliki kekuatan gaib. Memiliki ruh. Pemujaan. Memiliki daya hidup sebagaimana manusia.

Pohon, matahari, bulan, rumput. Kesemuanya selami, digerakkan, dimuliakan untuk menyingkap rahasia alam semesta. Magis. Alam dirayakan untuk menghubungkan manusia dengan penciptanya. Bahkan, aku lirik (tokoh aku dalam puisi) merasakan unsur-unsur alam (semisal pohon) di dalam tubuhnya.

Istri dari penyair Arif B Prasetya itu menuliskan kalimat ‘kau menyadarkan dari rimba api wujud pohonku’. Aku lirik yang merasakan dirinya berwujud pohon. Tidak sekadar pohon, aku lirik juga merasakan adanya ‘rimba api’ di dalam perwujudan dirinya. Seseorang yang merasakan dirinya berwujud pohon dan di dalam pohon tersebut terkandung kobaran api.

Pada kondisi itu, aku lirik yang berwujud pohon itu enggan menjatuhkan ranting, bunga, dan daun keringnya. Dia juga melupakan keberadaan matahari. Matahari yang telah membakar batang tubuhnya.

Dari bait pertama puisi itu, Oka mengajak pembaca untuk menyatukan diri pada alam. Tidak sekadar bersatu, puisi Oka melakukan interaksi. Berdialog dengan alam. Seperti seorang kepala suku yang membakar kemenyan di bawah pohon besar dan sekaligus dia mengajak dialog pohon tersebut.

Lihatlah, Oka Rusmini menggunakan tiga kali perulangan pembukaan larik dalam puisi. Kata ‘aku enggan,aku melupakan’ pada larik 2 dan 3. Kata ‘kau tidak ingin, kau biarkan’ pada larik 5 dan larik 6. Kata ‘aku tidak peduli, aku ingin menjadi’ pada larik 17 dan larik 18.

Perulangan-perulangan itu, jika di dalam mantra, dimaksudkan untuk menciptakan kondisi trance atau semacam kondisi kesurupan. Melepas wilayah kesadaran diri untuk masuk ke wilayah bawah sadar. Menyatukan kesadaran pada kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Atau bisa juga penyatuan diri manusia kepada tuhannya. Perulangan itu mirip pula seperti orang yang sedang berzikir.

Tidak cukup dengan perulangan, puisi Oka Rusmini juga menyajikan tarian: ‘Kau biarkan aku sibuk melepas tarian rantingku’. Dalam konteks ini, tarian turut mendukung penciptaan situasi trance. Sama seperti tarian Bedaya dalam budaya Jawa atau tarian Seblang di budaya Osing. Melalui tarian, orang berusaha menyatukan diri pada Sang Pencipta. Tarian yang dipadukan dengan nyanyian mistis yang menghipnotis.

Ketika kondisi trance telah terbangun, manusia membuka dirinya pada wilayah-wilayah gaib yang tidak kasat mata. Wilayah gaib yang kerap kali mengejutkan, ketakjuban, sihir, tidak berlogika, dan ‘kun fayakun’ jadilah maka jadilah. ‘Aku ingin menjadi pohon yang baru,’ tulis Oka Rusmini.

Oka Rusmini, melalui puisi, mencipta sebuah dunia yang penuh gaib. Dunia yang ‘kau ubah tubuhmu kembali menjadi tanah’, ‘bulan menunduk, menutupi wajahnya’, ‘khotbahmu yang membesarkan pohonku’, ‘kau telah pulang ke dasar bumi’.

Sebuah dunia di mana manusia merayakan hubungan tak terpisahkan dengan alam. Lebur kepada alam. Melepas logika pikiran dan menyerahkan diri pada logika alam. Lalu bersama alam, manusia membangun komunikasi dengan Penciptanya.

Sebuah dunia yang dekat pada tahap penciptaan manusia, penciptaan alam semesta. Dunia yang mengingatkan manusia tentang kebedaan diri sekaligus kematiannya. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar