Sorotan

Liga 1 Pekan 14

Karena Nyali Saja Tak Cukup, Bung!

Beberapa hari sebelum pertandingan tandang melawan Arema, kanal resmi Persebaya di Youtube mengunggah video latihan para pemain dengan judul: Training Session – Bejo Sugiantoro Bakar Semangat Arek Green Force. Dengan video itu agaknya manajemen Persebaya ingin menunjukkan bahwa kepergian pelatih asal Bandung, Djajang Nurjaman, tidak banyak berdampak pada tim. Mereka tetap berlatih penuh semangat di bawah asuhan salah satu legenda klub.

Video itu juga mempertontonkan bagaimana Bejo menyuntikkan motivasi kepada pemain. “Seperti awal latihan tadi saya sampaikan bahwa harga diri kita, walau banyak pertandingan, tapi rivalitas Jawa Timur sudah kelihatan mulai dari kita final di leg kedua. Jadi siapapun, sebagai (pelatih) di sini, saya ingin pemain yang mau tarung di Malang, yang mau kerja, yang mau semuanyalah.”

“Profesional(isme) kalian dipertaruhkan di pertandingan di Malang. Profesional, fight, ngeyel, ngosek.” Sesi latihan diakhiri dengan yel-yel klasik: ‘Persebaya. Green Force. Persebaya. Wani’.

Namun ngeyel, ngosek, dan wani tidak cukup untuk memenangkan pertandingan di Stadion Kanjuruhan, Kamis (15/8/2019) sore itu. Di hadapan 37.406 penonton, Persebaya menelan kekalahan terbesar sepanjang sejarah bertanding di Malang: empat gol tanpa balas. Arema seperti ingin membalas kekalahan telak 1-6 di Stadion Gelora 10 Nopember pada Liga Indonesia 1996-97.

Menurunkan 10 pemain lokal dan hanya menempatkan Balde sebagai pemain impor satu-satunya, Persebaya menjadi bulan-bulanan Arema. Data statistik menunjukkan inferioritas Persebaya. Selama 90 menit, Persebaya 47 persen menguasai bola, sama sekali tak melepaskan tembakan akurat, dan hanya tiga kali meleset dalam menembak ke arah gawang Arema. Sementara Arema melepaskan sembilan kali tembakan tepat sasaran ke gawang Miswar Saputra dan lima kali tak akurat. Mereka juga menguasai 53 persen pertandingan.

Pertandingan berjalan lambat mulanya. Dua tim hati-hati dalam melakukan serangan. Namun Persebaya berani meladeni Arema dengan permainan pressing dan serangan dari sayap melalui Irfan Jaya yang bergerak mobil. Menit 12, bahkan Persebaya sempat mencetak gol lebih dulu melalui Amido Balde pada menit 13. Menyambut tendangan bebas Ruben Sanadi, Balde berlari lepas dari kawalan dan menanduk bola ke gawang Kartika Aji.

Wasit Yudi Nurcahya tidak mengesahkan gol itu, setelah Balde dianggap dalam posisi offside. Sebanyak 52 persen dari 187 orang yang mengikuti jajak pendapat di akun Twitter saya menilai gol itu sah. Sebanyak 48 persen menilai keputusan wasit tepat.

Namun terlepas dari gol yang dianulir itu, permainan Persebaya sore itu memang buruk. Alur serangan seperti tak terpola. Bola-bola yang langsung diarahkan ke depan dengan menjadikan Balde sebagai target, kerap diintersep pemain Arema. Sementara itu benturan demi benturan yang melahirkan pelanggaran kerap terjadi karena ketatnya pressing dan perebutan bola.

Para pemain Persebaya kesulitan mendekati kotak penalti Arema karena pressing pemain lawan. Tembakan-tembakan jarak jauh pun jarang dilakukan untuk memecah kebuntuan. Sementara pemain Arema seperti Hendro Siswanto rajin melepaskan tembakan jarak jauh. Setelah satu tembakan melesat di atas gawang dan satu tembakan ditepis Miswar Saputra, usaha ketiga pada menit 30 menemui sasaran. Kali ini dilakukan oleh Dendi Santoso.

Barisan pertahanan Persebaya mudah panik setiap kali diserang trisula Arema Dendi Santoso, Ricky Kayame, dan Sylvano Comvalius. Apalagi pergerakan Makan Konate yang lincah sangat sulit dihentikan dan dengan nyaman memberikan suplai-suplai bola matang. Konate memberikan dua assist untuk Arthur Cunha pada 71 melalui skema sepak pojok dan Comvalius pada menit 87.

Gol kedua adalah khas kesalahan pemain belakang Persebaya dalam menghadapi bola mati. Tak ada yang menjaga Cunha sama sekali. Sementara gol ketiga praktis terjadi karena kesalahan Damian Lizio. Ia berhasil mengintersep serangan balik Arema. Namun bukannya bermain aman dan membuang bola ke depan, ia justru menggoceknya. Comvalius datang dan merebut bola kembali untuk kemudian diberikan ke Rifaldi Bawuo. Semua pemain bertahan Persebaya terlanjur naik dan terlambat ke daerah pertahanan. Makan Konate memberikan bola lob yang dengan enteng disundul oleh Comvalius yang berhadapan dengan Miswar.

Mental pemain Persebaya ambrol. Makan Konate melengkapi kemenangan pada menit 90+1 setelah menerima umpan ‘cut back’ dari Muhammad Rafli. Persebaya kini berada di peringkat 7 dengan nilai 18. Namun ini klasemen semu, karena PSM Makassar bisa saja menyalip kendati berada di peringkat 9. Ini karena Tim Juku Eja masih bermain sembilan kali, sementara tim lainnya rata-rata bermain 14 kali.

“Saya bertanggungjawab,” kata Bejo, menanggapi kekalahan itu. Namun kekalahan memiliki banyak kambing hitam. Kali ini bukan Bejo yang jadi sasaran kemarahan Bonek, melainkan Candra Wahyudi (manajer) dan Nanang Priyanto (media officer). Candra dianggap bertanggung jawab terhadap anjloknya prestasi tim. Kondisi diperparah oleh beredarnya foto Candra memakai topi biru bertuliskan Arema. Foto KTP kedua orang itu pun beredar di media sosial. Tempat lahir Nanang di Malang semakin meruncingkan prasangka.

Tak ada yang bisa mengendalikan persepsi Bonek di media sosial. Apalagi di tengah kekalahan telak dari ‘tetangga berisik’. Namun tentu saja, sebelum melemparkan tuduhan dan syak wasangka, orang perlu ingat bahwa sebagian legenda Persebaya juga memiliki ikatan dengan Malang. Syamsul Arifin, yang dijuluki Si Kepala Emas karena kehandalannya berduel di udara, lahir di Malang. Aji Santoso yang menjadi kapten Persebaya saat menjuarai Liga Indonesia 1996-97 adalah Arek Malang.

Mengedepankan identitas primordial kota untuk klub seperti Persebaya tentu saja sudah tak relevan. “Bahkan orang Malang pun bisa juga jadi Bonek,” kata Presiden Persebaya Azrul Ananda. Jika merunut sejarah Persebaya sebagai klub perserikatan tertua di Jawa Timur, persebaran pendukung klub hingga ke Malang bukanlah mitos dan omong kosong.

“Kalau memang ada yang salah dengan tim ini, saya yang harus disalahkan. Jangan anak buah saya, sebab saya yang CEO Persebaya,” kata Azrul.

Kesalahan pertama yang mungkin harus diakui oleh Azrul adalah pemecatan Djajang Nurjaman dari kursi pelatih hanya beberapa hari jelang pertandingan melawan Arema. Saya tidak tahu apa susahnya menanti hingga putaran pertama kelar sebelum vonis dijatuhkan (walau saya sendiri menganggap Djajang Nurjaman sebaiknya dipertahankan).

Pergantian pelatih jelang pertandingan derbi adalah hal terakhir yang diinginkan klub di mana pun dunia. Saat pelatih berganti maka ada penyesuaian taktik dan suasana kebatinan dalam tim.

Kesalahan kedua yang perlu dikoreksi Azrul adalah cara pandang yang keliru terhadap Bonek. Pernyataan yang menyamakan Bonek dengan customer akan senantiasa mengganjal relasi dan komunikasi dua pihak.

Kemarahan Bonek sebenarnya adalah akumulasi dari buruknya komunikasi mereka dengan manajemen selama dua musim di Liga 1. Sederetan drama, mulai dari urusan kontroversi perekrutan Andik Vermansah dan Evan Dimas, surat-surat Azrul yang menyinggung perasaan suporter, hingga pemecatan dua pelatih berturut-turut sebelum kompetisi berakhir, memanaskan situasi. Aksi ‘pitch invasion’, mengosongkan tribun, hingga menyerbu kantor manajemen Persebaya untuk menuntut pemecatan Candra-Nanang tak ubahnya banjir akibat luberan air sungai yang tersumbat.

Krisis Persebaya saat ini lebih parah daripada Liga 1 2018. Ini masalah kepercayaan yang mulai tergerus. Kunci penyelesaian ada pada Azrul Ananda sendiri. Dia hanya perlu duduk dan lebih banyak mendengar, sembari menjelaskan opsi-opsi kebijakannya dengan lebih rasional dan tenang. Sikap Bonek bisa jadi keliru, namun mungkin juga benar.

Dialog yang setara adalah jalan keluar. Ini Persebaya, dan karenanya, tidak cukup hanya dikelola dengan nyali. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar