Sorotan

Pekan 8 Liga 1

Karena Bertandang ke Sleman Melebihi Urusan Sepakbola

Pertandingan tandang ke Maguwoharjo melawan PSS Sleman, Sabtu (13/7/2019), tak hanya berujung pada perburuan tiga angka. Pertandingan tandang ke Jogjakarta selalu istimewa dan bukan sekadar urusan sepak bola. “Ada yang lebih besar daripada sepak bola dalam hidup,” kata manajer Liverpool Jurgen Klopp suatu kali.

Pertandingan tandang ke Jogjakarta menghadirkan dua wajah jejak masa lampau: persahabatan dan maut. Kita masih ingat bagaimana pada Liga 1 2018, seorang Bonek meninggal dunia dan lainnya terluka dalam perjalanan pulang usai menyaksikan pertandingan Persebaya melawan PS Tira di Bantul. Miko menjadi sasaran pengeroyokan segerombolan orang yang marah. Kisah perjalanan Bonek yang mengiringi Persebaya ke Jawa Tengah tak lepas dari narasi kriminalitas, sehingga membuat sebagian orang dengan mengatasnamakan warga meminta agar siapapun yang berseragam hijau pendukung Persebaya diblokade.

Polisi melarang Bonek datang. Panitia pelaksana kelabakan. Mereka tahu para pelaku kriminal hanyalah minoritas. Mayoritas Bonek justru bersahabat dengan semua kelompok suporter di Jogjakarta, termasuk pendukung PSS Sleman. Dua maskot Persebaya, Jojo dan Zoro, datang bersama seribu buah boneka untuk dibagikan kepada anak-anak yang dirawat di rumah sakit di Jogjakarta. Boneka-boneka ini berasal dari aksi ‘Satu Bonek Satu Boneka’ di Gelora Bung Tomo beberapa waktu lalu.

Itulah kenapa pertandingan tandang ke Sleman selalu memiliki maknanya sendiri bagi Bonek: memperbaiki citra terus-menerus dan menumbuhkan kepercayaan banyak orang. Itulah kenapa saat ‘Song for Pride’ terdengar kencang petang itu di Maguwoharjo, saya diam-diam lega. Bukan saja karena ini seperti menjadi pertanda bahwa Bonek masih diterima di Sleman, tapi juga pengakuan terhadap ikhtiar perbaikan tanpa jeda dalam sepak bola Indonesia.

“Keharmonisan Slemania, BCS (Brigata Curva Sud), dan Bonek sangat luar biasa. Mungkin juga bisa jadi contoh suporter yang lain, bagaimana seharusnya suasana sepak bola itu seperti ini,” kata pelatih PSS Seto Nurdiyantoro.

Kabar baik di luar lapangan ini sedikit banya menutupi kegundahan Bonek akibat buruknya penampilan anak-anak Persebaya. Tak banyak perubahan komposisi pemain dibandingkan saat Persebaya melawan Barito Putra di Surabaya. Hanya Misbakus Solikin yang diistirahatkan dan digantikan Fandi Eko Utomo. Lini tengah lainnya diisi Muhammad Hidayat dan Damian Lizio. Komposisi lini tengah ini sama dengan yang diturunkan saat menang 3-2 atas Persela Lamongan.

Sementara barisan depan diisi trio Irfan Jaya, Manu Jalilov, dan Osvaldo Haay. Lini belakang tetap Novan Setya, Dutra, Mokhamad Syaifuddin, dan Ruben Sanadi bersama kiper Miswa Saputra.

Persebaya dan PSS sama-sama menggunakan formasi dasar 4-3-3. Namun, PSS lebih sabar membangun serangan dari kaki ke kaki ketimbang para pemain Persebaya. Dengan turunnya Fandi di posisi gelandang yang memiliki semangat bertarung lebih besar daripada Misbakus yang berkarakter flamboyan, seharusnya Persebaya berani bertarung di lini tengah. Namun ternyata Persebaya lebih suka memainkan bola-bola panjang.

Novan Setya Sasongko yang biasanya tak serajin Ruben Sanadi ternyata malam itu cukup kerap maju menyokong Irfan Jaya. Sementara itu, Osvaldo Haay justru bermain melebar dan memberikan umpan-umpan daerah untuk Jalilov. Ruben hingga menit sembilan justru memilih tak sering keluar dan membiarkan Osvaldo bekerja sendiri. Sementara itu Hidayat bermain agak ke belakang membantu dua bek tengah, membangun blok di depan Dutra dan Syaifuddin untuk menyapu keganasan lini tengah PSS yang dimotori Brian Ferreira.

Awalnya, rencana menghadang para pemain PSS agar tak mudah mendekati kotak penalti Persebaya berjalan lancar. Umpan-umpan terobosan dari tengah untuk Yevhen Bokhashvili mampet. Para pemain PSS lebih sering melepaskan tembakan jarak jauh melalui Dave Mustaine maupun Brian Ferreira.

Dengan umpan-umpan panjang, Persebaya memang berniat memaksimalkan serangan balik melalui kecepatan tiga penyerang mereka. Namun arah permainan mereka mudah dibaca PSS. Para pemain PSS berhasil melakukan 39 kali intersep dan 24 sapuan yang menunjukkan bagaimana Persebaya memang berusaha secepatnya mengarahkan bola di area pertahanan Sleman, namun tak begitu efektif. Gol justru terjadi pada menit 27 karena kecakapan individu pemain depan. Damian Lizio mencetaki gol setelah berhasil memanfaatkan bola muntah tendangan Irfan Jaya yang mengenai tiang gawang kiri Try Hamdani Goentara.

Keunggulan sementara justru tidak membuat Persebaya lebih berani keluar membangun serangan. PSS justru mendominasi permainan. Namun mereka masih lebih banyak mengandalkan tembakan-tembakan jarak jauh yang tak akurat. Statoskop Jawa Pos mencatat, dari 22 tembakan yang dilepas anak-anak Sleman, hanya sembilan yang akurat. Sementara Persebaya hanya mencatatkan empat tembakan tepat sasaran dari 19 usaha.

Namun para pemain PSS belajar dari kesalahan. Mereka tahu jika tembakan-tembakan jarak jauh tak selamanya menghasilkan. Maka mereka mulai memainkan umpan-umpan terobosan dan satu dua untuk memasuki kota penalti Persebaya. Hasilnya mujarab: lini belakang Persebaya lagi-lagi kehilangan konsentrasi.

Menit 39, Ferreira melepaskan operan mendatar kepada Yevhen yang tidak ditutup dengan sempurna oleh Novan dan Syaifuddin. Enak sekali Yevhen menyambut bola datar itu. Kecerobohan yang dilakukan pemain belakang Persebaya saat melawan Barito terulang dengan telak. Tak ada yang memusatkan perhatian kepada ujung tombak lawan.

Skema gol kedua oleh Haris Tuharea pada menit 56 praktis juga karena kesalahan pemain belakang. Tak ada yang menjaga Irkham Zahrul Mila yang berlari kencang dari belakang memasuki sisi kiri kotak penalti Persebaya. Ruben terlambat menutup pergerakan Irkham sebelum bola datar di lepas ke arah depan gawang. Miswar sebenarnya sudah mengantisipasi bola itu dengan menjatuhkan diri. Bola itu juga mengarah ke Syaifuddin. Namun tak ada satu pun dari keduanya yang berhasil mengamankan bola sehingga jatuh di kaki Haris yang tak terkawal.

Pelatih Persebaya Djajang Nurjaman menyebut lubang di lini pertahanan menjadi problem besar timnya. Persebaya seperti mengulangi kisah musim sebelumnya. Hingga saat ini, Bajul Ijo adalah tim yang paling produktif dengan 15 gol dalam delapan pertandingan. Namun, pertahanan mereka lebih buruk daripada tim juru kunci Semen Padang. Persebaya sejauh ini sudah kebobolan 11 gol, sementara Semen Padang kemasukan sembilan gol.

Tanpa barisan pertahanan yang kuat, Persebaya tak akan bisa menjadi juara Liga 1. Dalam delapan pertandingan terakhir, Djajang sudah menurunkan sejumlah komposisi bek tengah: Hansamu Yama-Rachmat Irianto-Syaifuddin (kalah 1-2 melawan Bali United), Hansamu-Rachmat Irianto (seri melawan Kalteng Putra), Hansamu-Syaifuddin (seri melawan PSIS, menang melawan Borneo), Dutra-Syaifuddin (seri melawan Barito, kalah melawan PSS, menang melawan Persib), Dutra-Hansamu (menang melawan Persela). Satu-satunya clean sheet saat melawan Persib di GBT.

Dari komposisi di atas, Hansamu menjadi kunci. Dia tak pernah kalah saat diturunkan dalam formasi empat bek. Satu-satunya kekalahan adalah saat Djajang memilih memainkan formasi 3-4-3 saat bertandang ke kandang Bali United. Persoalannya: sejauh mana kesiapan Hansamu untuk diturunkan?

Jadi hasil bertandang ke Sleman, seharusnya menjadi titik balik performa Persebaya. Sebagaimana ini selalu diupayakan menjadi titik balik Bonek di luar lapangan. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar