Sorotan

Jokowi – Prabowo Ciptakan ‘Matahari Kembar’ dalam Pemerintahan?

Ribut Wijoto.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah mengumumkan susunan menteri dalam kabinet yang akan membantunya menjalani roda pemerintahan periode 2019-2024. Mereka mengumumkan di Istana Negara, Rabu pagi (23/10).

Ada satu nama yang cukup istimewa, yaitu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Akankah kemunculan sosok Prabowo membuat situasi ‘matahari kembar’ dalam pemerintahan?

Semua tahu, antara Jokowi dengan Prabowo terlibat persaingan sengit memperebutkan kursi RI 1 dalam dua kali Pilpres (2014 dan 2018). Pertarungan yang cukup menguras energi seluruh komponen bangsa.

Bahkan masyarakat kecil di pelosok desa pun turut merasakan aura kental kerasnya persaingan. Tidak sedikit warga sipil terpaksa berurusan dengan aparat penegak hukum akibat tergoda melontarkan bully (ejekan) terhadap pendukung ‘sebelah’ melalui media sosial.

Sosok Prabowo seakan telah menjadi simbol perlawanan, simbol oposisi, terhadap pemerintahan Jokowi. “Posisi Prabowo menjadi simbol oposan yang benar-benar luar biasa,” kata dosen ilmu politik Universitas Muhamadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, DR Ahmad Atang, Senin (21/10/2019) lalu.

Berangkat dari status Prabowo sebagai simbol oposisi, DR Ahmad Atang khawatir tercipta situasi matahari kembar dalam pemerintahan Jokowi. “Yang mesti diperhitungkan justru nanti di kabinet itu akan ada ‘dua matahari’, karena Jokowi dan Prabowo ini dua rivalitas di politik. Ketika masuk di kabinet, walaupun Jokowi sebagai presiden tetapi figur Prabowo ini tidak lepas dari kekuatan massa. Karena itu orang kemudian membandingkan kerja Jokowi itu dibayang-bayangi oleh Prabowo,” katanya.

Apakah kekhawatiran DR Atang bakal benar terjadi atau tidak, waktu yang akan menjawabnya.

Yang jelas, bukan kali ini saja pemerintahan Jokowi dikhawatirkan bernuansa matahari kembar. Sebelumnya malah bukan sebatas matahari kembar dua tetapi matahari kembar tiga.

Situasi matahari kembar dua semula merujuk pada sosok Megawati Soekarno Putri, Ketum PDI Perjuangan. Status Jokowi sebagai kader PDI Perjuangan dikhawatirkan berada di bawah bayang-bayang Megawati. Terlebih, Megawati pernah melontarkan pernyataan, Jokowi adalah petugas partai.

Matahari kembar tiga dalam pemerintahan Jokowi merujuk pada sosok Jenderal TNI (HOR) (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut kerap kali ‘hadir’ ketika pemerintahan Jokowi menghadapi problem berat. Sehingga jabatan Luhut dalam 5 tahun terakhir seakan-akan fleksibel. Mulai dari Kepala Staf Kepresidenan, Menteri Koordinator Bidang Polhukam, Plt Menteri ESDM, lalu Menko Bidang Kemaritiman. Kali ini pun, Luhut tetap dipercaya Jokowi masuk dalam kabinet.

Itu artinya, dalam situasi saat sekarang, kekhawatirannya, bukan ‘matahari kembar dua’, antara Jokowi – Prabowo. Tetapi harusnya, kekhawatiran ‘matahari kembar empat’. Merujuk pada sosok Jokowi – Megawati – Luhut – Prabowo.

Kembali pada rivalitas Jokowi dan Prabowo. Kedua tokoh ini sebenarnya telah berulangkali mempertontonkan hubungan yang indah. Semisal ketika perhelatan Pilpres 2014 dan Pilpres 2018.

Jokowi dan Prabowo tak pernah sekalipun saling menyindir, saling mengolok, saling mencela. Dalam beberapa momentum, keduanya tampak akrab. Keakraban yang tidak mengikis fakta bahwa keduanya adalah pesaing, kompetitor.

Akrab tapi tetap bersaing. Persaingan yang keras sekaligus lembut. Kelembutan yang tidak lembek. Prabowo dan Jokowi selalu tampak saling menghormati. Jokowi menyanjung Prabowo, sebaliknya Probowo bangga dengan Jokowi. Keduanya tetap tokoh-tokoh yang disegani. Dua tokoh yang saling mengukur kekuatan, sebab keduanya memang kompetitor.

Maka begitu Pilpres 2014 selesai, bisa dibilang, Jokowi menang tanpa mempermalukan Prabowo. Sebaliknya, walau kalah, Prabowo tidak berkurang kehormatannya.

Kita tentu ingat hari Jumat siang tanggal 17 Oktober 2014, Jokowi mendatangi rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Hari itu merupakan tiga hari menjelang pelantikan Jokowi sebagai Presiden Indonesia.

Mengenakan kemeja putih, Prabowo dengan tersenyum lebar menyambut kedatangan Jokowi yang juga mengenakan kemeja putih. Keduanya bersalaman.

Sebelum tamunya pulang, Prabowo mengeluarkan pernyataan bahwa dia mendukung pemerintahan Jokowi yang bakal dilantik tanggal 20 Oktober 2014. Pernyataan Prabowo tidak sekadar di mulut. Pada saat pelantikan, Prabowo benar-benar datang dan justru mengangkat tangan memberi hormat.

Kedatangan Jokowi bertamu ke rumah Prabowo, dan sebaliknya, kedatangan Prabowo dalam pelantikan Jokowi sebagai Presiden RI menepis beragam isu yang entah dihembuskan oleh pihak mana. Menjelang pelantikan, isu yang beredar, Prabowo bakal memboikot acara kenegaraan tersebut.

Lebih dari sekadar menepis isu pemboikotan pelantikan, mesranya hubungan Jokowi dan Prabowo menjadi simbol stabilitas politik nasional. Mendinginkan aroma perseteruan di antara pendukung masing-masing di tingkatan bawah.

Di bidang ekonomi, pertemuan dua tokoh yang selama berbulan-bulan bersaing merebutkan kursi RI 1 itu membuat pengusaha lebih nyaman dalam menjalankan roda bisnis. Investasi asing datang lebih lancar.

Tidak kali itu saja, ketika politik nasional memanas akibat persaingan ketat dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi kembali mendatangi Prabowo di Hambalang, Bogor, Senin (31/10/2016). Kedatangan yang disambut dengan senyuman hangat. Jokowi pun diajak melihat-lihat kuda koleksi Prabowo. Bahkan, keduanya sempat memamerkan kemesraan dengan cara bersama-sama naik kuda.

Uniknya, walau memiliki hubungan akrab, Jokowi dan Prabowo tetap menjaga posisi sebagai dua sentral yang berseberangan. Jokowi duduk sebagai pengendali pemerintahan, Prabowo kukuh sebagai leader oposisi. Dan sekali lagi, dalam posisinya masing-masing, keduanya saling menghormati, saling respek.

Politisi Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, pernah memberi bocoran, meski bertindak sebagai oposisi, Prabowo rutin berkomunikasi dan memberi masukan kepada Jokowi. Prabowo juga biasa menyampaikan pandangan dan solusi terkait persoalan-persoalan nasional.

Usai coblosan Pilpres 2018 lalu, gugatan dilontarkan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Gugatan ini dikhawatirkan memicu situasi tidak kondusif berupa demo besar-besaran. Melihat potensi rusuh itu, beberapa hari menjelang sidang, Prabowo berbicara.

Prabowo meminta pendukungnya untuk tidak berbondong-bondong mendatangi MK. Kata dia, jika masyarakat memang masih percaya pada Prabowo-Sandi maka tak perlu hadir ke gedung MK. “Kami putuskan selesaikan semua melalui jalur hukum. Kami selalu pikirkan yang terbaik untuk rakyat,” kata Prabowo, Selasa (11/6/2018).

Imbauan yang mujarab. Suasana di sekitaran gedung MK selama sidang gugatan gugatan Pilpres 2019 cukup kondusif. Tidak ada pengerahan massa secara besar-besaran. Kekhawatiran banyak pihak bahwa bakal terjadi ricuh antara pendemo dengan aparat kepolisian tidak terbukti.

Kali ini, ketika Prabowo masuk dalam pemerintahan Jokowi, kekhawatiran akan situasi ‘matahari kembar’ bisa dibilang cukup berlebihan.

Jokowi dan Prabowo adalah dua tokoh nasional yang telah mumpuni. Walau terlibat rivalitas berkepanjangan, keduanya dipastikan paham tanggung jawab. Bahwa, kepentingan nasional berada di atas segala-galanya. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar