Sorotan

Howard Gayle di Munchen

Sejarah mencatat Liverpool sudah tujuh kali berhadapan dengan Bayern Munchen dalam kompetisi resmi sebelum musim 2018-2019. Dari tujuh partai resmi itu, Liverpool menang dua kali, sekali kalah, dan empat kali seri. Dan situasi yang dihadapi The Reds saat ini kira-kira sama dengan yang dihadapi Liverpool pada kompetisi Piala Eropa (Liga Champions) musim 1980-1981.

Dua tim merah itu ditakdirkan bertemu pada babak semifinal. Pertandingan pertama digelar di Anfield pada 8 April 1981. Skor akhir 0-0, sama seperti pertandingan pertama Babak 16 Besar musim 2018-2019 yang juga digelar di Anfield pada 19 Februari 2019.

Di bawah komando Bob Paisley, Liverpool masa itu tak diperhitungkan pada pertandingan kedua di kandang Munchen, 22 April 1981. Hasil kompetisi domestik Liverpool memang jauh dari mengesankan. Kompetisi Liga Inggris akan berakhir sebulan lagi. Namun Liverpool masih berada di peringkat enam klasemen sementara. Dalam tiga pertandingan terakhir, Liverpool tak pernah menang: imbang 0-0 di kandang Nottingham Forest dan Leeds United dan kalah 0-1 dari Manchester United di kandang sendiri.

Musim 1980-1981 adalah titik balik dari kegemilangan Liverpool selama bertahun-tahun di bawah Paisley. Setelah tak pernah terkalahkan selama tiga tahun dalam 85 pertandingan kandang, mereka dikalahkan Leicester City 1-2 pada 31 Januari 1981. Selama 42 pekan, Liverpool hanya sempat empat kali menduduki puncak klasemen. Sisanya, paling buruk mereka menduduki peringkat delapan klasemen pada pekan tiga, 39, dan 40.

Kemenangan beruntun 2-1 atas Middlesbrough dan 1-0 atas Manchester City yang akhirnya menempatkan Liverpool di posisi kelima klasemen akhir. Posisi ini mengulang apa yang terjadi sepuluh musim sebelumnya di bawah Bill Shankly. Liverpool juga menempati posisi kelima pada musim 1970-1971. Musim itu, Liverpool juga menghadapi Bayern Munchen pada babak perempat final Fair City Cup atau sekarang Liga Eropa. Shankly berhasil menaklukkan Munchen 3-0 di Anfield dan menuai hasil imbang 1-1 di Stadion Olimpiade.

Deja vu? Apapun itu, pertandingan melawan Munchen tak akan pernah mudah bagi Paisley. Apalagi kondisi Liverpool tengah compang-camping. Musim itu, badai cedera menumbangkan pemain-pemain utama seperti Kenny Dalglish, Graeme Souness, maupun Terry McDermott. Souness mengalami cedera punggung saat pertandingan pertama di Anfield. McDermott malah bermain dengan rasa sakit karena jempolnya mengalami dislokasi.

Alan Hansen sempat absen sembilan pertandingan setelah menjalani operasi lutut. Phil Thompson harus absen selama dua bulan setelah tulang selangkanya patah. “Saya berada di Liverpool sejak 1939 dan tak pernah ingat ada ada musim dengan wabah cedera seperti musim 1980-1981,” keluh Paisley.

Paisley juga bertengkar dengan Steve Heighway, pemain sayap Liverpool. Heighway sempat bermain dalam pertandingan pertama di Anfield, menggantikan Terry McDermott pada babak kedua. Usia tak bisa menipu. Ia sadar karirnya setelah sebelas tahun bersama Liverpool telah usai. Dia kemudian menandatangani kontrak dengan Minnesota Kicks, sebuah klub Amerika Serikat.

Sebelum pergi, Heighway ‘sowan’ ke Paisley dan menanyakan kemungkinan untuk bermain dalam pertandingan kedua di Munchen. Rumahnya sudah dijual sebelum pindah ke Amerika. “Namun jika Anda ingin saya tinggal, saya akan menunggu dan memindahkan keluarga saya ke hotel. Itu jika Anda masih butuh saya,” katanya.

Heighway melihat kemungkinan untuk bermain, karena Craig Johnson masih cedera. Paisley setuju. Heighway membatalkan penerbangan ke Amerika.

Namun 24 jam sebelum keberangkatan ke Munchen, Paisley mengubah keputusannya. “Saya tidak akan membawamu. Saya akan bawa Howard Gayle.”

Heighway berang. Namun Paisley tak mengubah keputusannya. Sebuah keputusan yang kelak akan dianggap tepat oleh mahkamah sejarah.

Siapa Gayle? Tak banyak yang mengenalnya. Dia adalah pemain kulit hitam pertama yang bermain untuk Liverpool. Pemain bertahan Liverpool Tommy Smith menjulukinya ‘Negro Putih’. Beberapa staf pelatih menyebutnya ‘Pangeran Hitam’. Usianya 23 tahun. Namun Barry Davies, komentator sepak bola BBC, menyebutnya berusia 19 tahun.

Pemain berkulit hitam di Inggris terhitung langka saat itu. Seorang ofisial pertandingan UEFA sempat tak percaya, jika Gayle adalah pemain Liverpool dan mempertanyakannya kepada Paisley.

Gayle sebenarnya asli kelahiran Liverpool. Dia berasal dari Toxteth, sebuah kawasan yang identik dengan kerawanan sosial. Liverpool merekrutnya di tengah isu rasialisme di Inggris. Paisley mempercayai kemampuannya, saat merekrutnya pada usia 19 tahun. Namun keputusannya membawa Gayle dalam sebuah pertandingan krusial level Eropa membuat dahi orang mengernyit.

Gayle sangat jarang dimainkan. Sebelum menghadapi Munchen, dia hanya sekali diturunkan pada 4 Oktober 1980 saat Liverpool menang 3-0 atas Manchester City di Stadion Maine Road. Itu pun menggantikan David Fairclough pada menit 68. Sepanjang di Liverpool, Gayle lebih banyak bermain untuk tim cadangan Liverpool yang diasuh Roy Evans.

Keputusan ini membuat orang mudah menerka: Paisley sudah putus asa. Paisley sendiri mengakui: ‘Kami mengalami banyak cedera yang membuat pertandingan ini seperti tim ‘Central League’ (liga tim-tim cadangan) melawan juara Jerman Barat’.

Dalam komposisi tim yang diturunkan Paisley di Munchen, ada sejumlah nama pemain yang selama musim 1980-1981 bukan menjadi pilihan utama, seperti Richard Money dan Colin Irwin di line-up utama, dan Avi Cohen, Ian Rush, Jimmy Case, dan Howard Gayle di bangku cadangan. Money selama musim 1980-1981 hanya 15 kali bermain sebagai pemain inti di semua kompetisi. Sementara Irwin bermain 27 kali sebagai pemain utama.

Di luar kiper Steve Ogrizovic yang berada di bangku cadangan, Avi Cohen hanya pernah 17 kali diturunkan sejak menit awal. Ian Rush yang baru saja direkrut dari Chester, bahkan hanya bermain sembilan kali tanpa mencetak gol sekalipun. Pemain veteran Jimmy Case hanya bermain sebagai pemain inti sebanyak 21 kali musim ini.

Bayern Munchen merasa sudah menang sebelum bertanding. Kapten Munchen, Paul Breitnet, menyebut Liverpool tak memperlihatkan intelejensia bermain dalam pertandingan pertama. Pernyataannya menjadi judul kepala berita utama di sejumlah media massa. Paisley tak perlu lagi memberikan kalimat pemompa semangat. Ia cukup menempelkan potongan kliping berita tersebut di dinding ruang ganti di Anfield.

Panitia pelaksana pertandingan menambahkan bensin dengan meletakkan leaflet informasi untuk fans Bayern tentang rute perjalanan tercepat dari Munchen ke Paris, tempat dilangsungkannya final Piala Eropa, di semua kursi penonton. Paisley mengambil salah satu leaflet itu dan menempelkannya di ruang ganti anak-anak asuhnya. “Pastikan kalian untuk membacanya sebelum keluar dari ruang ganti ke lapangan,” katanya singkat.

Stadion Olimpiade Munchen dipadati 75 ribu penonton, mayoritas pendukung tuan rumah yang sudah menyiapkan pesta perayaan. Pertandingan tak berjalan baik bagi Liverpool. Cedera Kenny Dalglish kambuh saat pertandingan baru berjalan tujuh menit. Cedera itu melengkapi kesialan Dalglish musim ini: sama sekali tak mencetak gol selama 16 pertandingan liga, sejak akhir November hingga akhir musim kompetisi.

Semula Paisley hendak menggantikannya dengan Ian Rush. Namun, ofisial UEFA yang tadinya mempertanyakan Gayle menyarankan kepada Paisley agar memberikan kesempatan kepada si kulit hitam.”Kalau saya saja tidak tahu apa-apa soal Gayle, tentu demikian juga para pemain Jerman. Para pemain Munchen senang bermain sesuai teks buku. Ketidaktahuan bisa membuat mereka nervous.”

Paisley sependapat. Gayle punya atribut untuk menghancurkan pertahanan Munchen: kecepatan. Maka hari bersejarah itu tiba. Gayle menjadi satu-satunya pemain kulit hitam yang bermain dalam pertandingan malam itu. Suporter Bayern meneriakkan hinaan. Suporter Liverpool gamang: pemain tak berpengalaman menggantikan King Kenny? Apa-apaan?

Gayle tak peduli. Dia masuk ke lapangan pada menit 9. Mendadak memorinya memutar ulang You’ll Never Walk Alone. Dia yakin tak sendiri.

Setiap kali Gayle menerima bola, ribuan suporter Bayern berdiri melemparkan tangan lurus ke depan: melakukan salam Sieg Heil khas pengikuri Nazi. Mereka mengibaran spanduk bergambar swastika dan menirukan bunyi monyet. Gayle lega jarak antara tribun dengan lapangan cukup jauh, dipisahkan sebuah lintasan lari.

Gayle berlari merobek pertahanan Bayern, dan memaksa mereka bermain lebih ke belakang. Barisan pertahanan dan lini tengah Bayern tak leluasa membantu serangan, karena Gayle bisa sewaktu-waktu menghajar mereka dengan kecepatannya. Sementara itu, Sammy Lee, gelandang Liverpool dengan tinggi hanya 163 centimeter, berhasil mematikan Paul Breitner, playmaker yang menjadi nyawa Munchen.Duet Colin Irwin dan Alan Hansen membuat duet lini depan Munchen, Dieter Hoeness dan Karl-Heinz Rummenigge, lenyap dari radar.

Gayle mempermudah tugas Sammy Lee dan pemain Liverpool lainnya. Mereka tahu: tinggal arahkan bola ke ruang kosong, dan Gayle akan mengejarnya ke mana pun. Ronnie Moran, asisten pelatih Liverpool, menginstruksikan kepada Gayle agar tetap bermain melebar dan menghancurkan pertahanan Munchen dari sayap.

Dalam satu kesempatan, bola umpan panjang dari Alan Hansen kepada Gayle membuat barisan pertahanan Munchen gentar: Wolfgang Dremmler menjatuhkan Gayle di kotak penalti. Wasit Garrido da Silva menggelengkan kepala. Bukan pelanggaran.

Gayle memiliki mentalitas pemenang. Ia tak pernah menyerah. Setiap kali pemain lawan menguasai bola, ia akan mengejarnya. Namun tekel pertamanya pada menit 66 membuat Da Silva mengelurkan kartu kuning. Gayle merasa diperlakukan tak adil.

Paisley melihat sudah saatnya Gayle ditarik keluar. Agresivitasnya bisa berbalik membahayakan Liverpool. Dia tak ingin bermain dengan sepuluh orang pemain dengan kemungkinan pertandingan harus diakhiri dengan adu penalti. Pertama kalinya dalam sejarah sepak bola, seorang pemain pengganti pada babak pertama digantikan pada babak kedua. Jimmy Case masuk dan diinstruksikan bermain lebih ke depan.

Namun perkara belum selesai. David Johnson mendadak mengalami cedera harmstring. Kuota dua pergantian pemain sudah terpenuhi, dan artinya Liverpool praktis bermain hanya dengan sepuluh orang. Johnson tak berdaya di tengah lapangan. Ia memberi sinyal kepada bangku cadangan.

Paisley tidak menoleransi pemain yang cengeng. Dengan emosional dia berkata: “Beri aku senjata, akan kutembak bajingan itu!”

Johnson bermain sebisanya dengan terpincang-pincang. Paisley tahu pemain bernomor punggung sembilan itu tak bisa lagi diharapkan. Maka ia menginstruksikan Ray Kennedy untuk bermain sebagai ujung tombak. Sebelum pindah ke Liverpool, dia mencetak 71 gol dalam 212 pertandingan untuk Arsenal.

Taktik jitu. Kennedy mencetak gol dari jarak 20 yar pada menit 83, setelah menerima bola umpan Johnson. Rummenigge mencetak gol balasan pada menit 87. Namun Liverpool lolos ke final Piala Champions dengan keunggulan agregat gol tandang.

Beberapa pemain Liverpool dengan wajah tersenyum mendatangi ruang ganti pemain Bayern hanya untuk menyindir. “Sampai jumpa di Paris, Sobat.”

Uli Hoeness, penyerang Bayern, menyebut Liverpool bermain seperti tim Eropa daratan: memainkan bola dari kaki ke kaki, selalu bergerak dan menguasai bola selama mungkin, dan melakukan serangan balik mengejutkan. Sementara, Paisley menyindir balik ucapan Breitner kepada pers. “Saya kira malam ini kami bermain dengan intelejensia.”

Sisanya adalah sejarah. Liverpool berhasil meraih Piala Eropa ketiga bersama Paisley di Paris. Mereka mengalahkan Real Madrid 1-0 melalui gol Kennedy lainnya: Alan Kennedy. Musim 1980-1981, Liverpool gagal mempertahankan juara liga, namun memboyong trofil Eropa dan Piala Liga. Double winners.

Pertandingan malam itu di Munchen menjadi pertandingan terpenting dalam hidup Howard Gayle. Setelah itu, ia tak mendapat kepercayaan untuk bermain sejak menit awal. Selama di Liverpool, praktis ia hanya lima kali bermain dan mencetak satu gol. Satu-satunya gol dicetak ke gawang Tottenham Hotspur di Stadion White Hart Lane, pada 25 April 1981. Sebagaimana awalnya, Gayle mengakhiri karir di Liverpool pada 19 Mei 1981 dengan bertanding melawan Manchester City di Anfield. [wir/ted]

Esai ini ditulis untuk menyambut pertandingan perdelapan final Liga Champions Bayern Munchen melawan Liverpool, Kamis (14/3/2019) dini hari. Foto: This is Anfield

Apa Reaksi Anda?

Komentar