Sorotan

Hoax for Beginners

Ribut Wijoto.

Hoaks alias informasi bohong, dalam beberapa tahun terakhir, berkembang biak dengan subur di media sosial (medsos). Masyarakat kerap kali tidak menyadari, hoaks (terjemahan dari bahasa Inggris: hoax) di medsos berpengaruh besar di kehidupan nyata.

Ketika telah viral, hoaks mampu menggerakkan massa. Bisa menciptakan kerusuhan, bisa membuat seseorang dibenci lingkungan, mampu menyeret pelakunya ke bilik pengap penjara. Dan sayangnya, banyak orang kurang memahami dampak negatif itu.

Tetapi, peternak hoaks profesional telah memahaminya. Justru, mereka mencari hidup dari viralitas hoaks. Masyarakat dan negara yang dikorbankan.

Tulisan ini secara pragmatis mencoba mengenali, mengidentifikasi, mengupayakan pencegahan atas perilaku hoaks. Sebuah tulisan yang teknis dan verbal.

Apakah hoaks? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan hoaks sebagai berita bohong. Informasi yang memang sengaja disesatkan namun dibuat seakan-akan kebenaran. Wujudnya dalam bentuk cerita, foto, video, meme, berita. Praktik penyebaran melalui whatsapp, blog, youtube, instagram, portal berita, percakapan langsung.

Mengapa hoaks disukai? Penyebar hoaks berharap terkenal. Penyebar hoaks berharap ada kekacauan. Penyebar hoaks berharap pesaing bisnis hancur. Sekadar iseng. Penyebar hoaks berharap lawan politik jadi lemah. Penyebar hoaks berharap dapat duit dari online. Penyebar hoaks ingin bermanfaat bagi orang lain dengan cara berbagi informasi.

Apa risiko penyebar hoaks? Tentu ada konsekuensi atau dampak hukum, konsekuensi agama, dan konsekuensi moral.

Apa konsekuensi hukumnya? Melanggar Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU 19/2016): Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.

Satu hal perlu perlu diperhatikan, penyebar hoaks bisa langsung ditahan. Cek saja ketentuan berikut: Jika melanggar ketentuan Pasal 28 UU ITE ini dapat dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 45A ayat (1) UU 19/2016, yaitu: Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Ada pasal lain juga. Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (“UU 1/1946”), yakni: Barangsiapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.

Apa konsekuensi agama? Hoaks termasuk fitnah dan fitnah termasuk dosa besar. Semua agama mengedepankan kejujuran. Korban hoaks belum tentu mengampuni.

Apa konsekuensi moral? Penyebar hoaks bakal tidak dipercaya. Penyebar hoaks diabaikan publik dan ketika kesusahan justru diolok-olok. Penyebar hoaks memutus silaturahmi. Penyebar hoaks bakal kecanduan sifat iri hati, dengki, dan gampang menipu (sulit jujur).

Bagaimana ciri-ciri hoaks? Pertama, informasi tidak logis. Contoh, info akan ada gempa susulan di Palu pada tahun 2018 lalu. Beredarnya broadcast konten melalui aplikasi whatsapp tentang gempa susulan di Palu sangat meresahkan masyarakat Kota Palu khususnya. Berita itu berdampak langsung kepada korban gempa dan tsunami yang masih mengalami trauma.

Kedua, informasi tanpa tanggal kejadian. Contoh sebuah broadcast dengan bunyi pembukaan, “pagi tadi ditemukan bocah di terminal”. Broadcast tidak menyertakan hari dan tanggal kejadian. Hanya ada penanda waktu ‘pagi tadi’. Sehingga, disebar kapanpun informasinya seakan-akan aktual.

Ketiga, informasi dengan kejadian yang sumir. Contoh, hoaks kecelakaan dan banjir. Penyebar bermodalkan foto atau video kecelakaan. Kejadian semisal di Tulungagung tanggal 23 Februari 2016. Bisa saja peternak hoaks menyebarnya dengan memberi informasi bahwa peristiwa terjadi saat ini di daerah tertentu.

Keempat, judul provokatif atau menghasut. Contoh, hoaks tentang 110 juta e-KTP untuk salah satu capres pada bulan Oktober 2018. Sebuah akun di media sosial Youtube menjadi viral setelah menayangkan video dengan judul ‘110 JUTA e-KTP di BIKIN Warga Cina siap kalah kan Prabowo DI TANGKAP TNI kemana POLRI YA’.

Setelah diselidiki oleh pihak kepolisian, diketahui bahwa konten tersebut merupakan kompilasi beberapa video, antara lain dari operasi penangkapan yang dilakukan jajaran Polres Tidore, Maluku Utara terhadap pelaku pembuat KTP palsu pada November 2017. Akhirnya pembuat hoaks, yaitu berinisial SY (35), ditangkap pada Selasa (20/11/2018) pukul 21.20 WIB di Banjaran, Bandung, Jawa Barat.

Ciri-ciri hoaks yang lain? Judul sensasional, contoh, bulan mengelilingi kabah. Link bukan berasal dari media mainstream, contoh dari blogspot dan website gratisan lain. Foto terlihat aneh, contoh, air jatuh dari langit. Video tampak heboh, contoh, kasus video penyerangan KPU Jombang beberapa tahun lalu.

Bagaimana mencegah hoaks? Tahan, jangan disebar dulu. Buka link informasinya. Tanya ke pihak yang kompeten. Browsing ke mesin pencarian di internet, semisal Google. Takar nilai manfaatnya.

Bagaimana mengenal berita yang menghindari hoaks? Setiap berita yang bersifat standar dan tanpa tendensi hoaks senantiasa menerapkan rumus 5 W + 1 H, yaitu What, Who, When, Why, Where, dan How alias Apa, Siapa, Kapan, Mengapa, Di Mana, dan Bagaimana. Rumus tersebut memastikan informasi yang ditulis bersifat lengkap dan terpercaya. Jika tentang sengketa, berita standar selalu menerapkan prinsip keseimbangan. Dua belah pihak yang bersengketa sama-sama diberi ruang untuk menyampaikan pendapat. Informasi juga senantiasa berasal dari narasumber yang kompeten, semisal kepolisian, kepala daerah, pengadilan, maupun otoritas dari institusi terkait.

Bagaimana ciri media massa tanpa hoaks? Saat ini bejibun media massa abal-abal. Namun, media massa standar selalu menyertakan Susunan Redaksi. Tentang tokoh-tokoh yang menempati posisi direktur utama, pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, editor, nama-nama wartawan, bahkan nama-nama orang yang berada di bagian administrasi. Media menyertakan pula alamat redaksi yang jelas. Dan untuk saat ini, tanda keberadaan media tanpa hoaks adalah terverifikasi Dewan Pers.

Terakhir, mari kita kepalkan tangan dan teriak bersama-sama: Lawan Hoaks! [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar