Sorotan

Pekan 13 Liga 1

Hari di Mana Djanur Akhirnya Pergi…

Djajang Nurjaman selesai sampai di sini. Situs resmi Persebaya melansir pernyataan: manajemen mengakhiri kontrak dengan pelatih asal Bandung itu, Sabtu (10/8/2019) malam. Hasil akhir 2-2 melawan Madura United di Gelora Bung Tomo memantapkan vonis untuk Djajang. Sebagaimana musim lalu saat menggantikan Vera, Bejo Sugiantoro kembali ditunjuk menjadi pelatih sementara jelang pertandingan tandang melawan Arema Malang.

“Evaluasi ini sudah disampaikan beberapa laga sebelumnya. Tapi, kami memberikan kesempatan kepada pelatih untuk memperbaiki performa tim. Dan ternyata kami tak kunjung meraih hasil memuaskan,” kata Manajer Persebaya Candra Wahyudi, dalam situs tersebut.

Hasil selama 13 pekan Liga 1 2019 menjadi acuan. Persebaya saat ini menduduki peringkat 7 dengan raihan nilai 18. Dalam tujuh pertandingan terakhir, Persebaya sekali menang, empat kali seri, dan dua kali kalah. Sementara itu di Gelora Bung Tomo, tim berjuluk Bajul Ijo ini membuang banyak angka dengan hanya mencatatkan tiga kemenangan dan lima hasil imbang.

Vonis yang dijatuhkan manajemen menjawab pertanyaan kenapa Djanur, sapaan akrabnya, tampak tak antusias di bangku cadangan, Sabtu sore itu. Wajahnya lesu. Apalagi saat Madura United dua kali memimpin. Mendominasi 55 persen pertandingan tak berhasil dikonversi menjadi kemenangan. Sepanjang pertandingan, Persebaya hanya empat kali menembakkan bola ke gawang dengan akurat. Sementara Madura United hanya dua kali.

Empat gol tercipta bukan karena skema serangan yang rapi, melainkan karena keteledoran pemain kedua tim dalam bertahan. Sama-sama ditinggalkan sejumlah pemain inti karena cedera, pemain Persebaya dan Madura United lebih banyak berduel di lapangan tengah dan sama-sama kesulitan memasuki kotak penalti lawan untuk menciptakan peluang.

Disaksikan 18.727 penonton, pemain Persebaya dan Madura United sama-sama melakukan ‘pressing’ yang banyak berujung pelanggaran. Setidaknya 25 kali Persebaya melakukan pelanggaran dan Madura 16 kali. Pertandingan itu memang layak disebut derbi. Sore itu mereka bertemu untuk kali kelima, setelah sebelumnya dalam Piala Presiden dan Piala Indonesia. Persebaya berhasil menaklukkan Madura United dua kali, imbang sekali, dan kalah sekali.

Sebenarnya, Persebaya cukup percaya diri membangun serangan dari kaki ke kaki. Namun seperti biasa pula, pada sepertiga akhir lapangan, mereka gagal mengeksekusi bola dengan bersih dan akurat. Pemain Persebaya justru dikejutan oleh gol Beto Goncalves pada menit 11 yang berawal dari tendangan penjuru dari sisi kiri pertahanan. Bukannya langsung melambungkan bola ke depan kotak penalti dari sudut, pemain Madura United malah mengawali dengan operan pendek, sebelum akhirnya David Laly mengirimkan bola lambung ke depan gawang Miswar Saputra.

Novan Setia dan Syaifuddin mengapit Beto. Namun tak ada satu pun yang melompat dan Beto dengan bebas menanduk bola untuk mengubah kedudukan.

Persebaya lebih banyak menyerang dari lapangan tengah ketimbang sayap. Ini membuat pertarungan berjalan ketat di sana. Rachmat Irianto menjadi generator Persebaya yang berhadapan dengan seniornya sesama binaan kompetisi internal Karanggayam Slamet Nurcahyono. Ini pertempuran dua gaya: keras dan lugas melawan flamboyan. Rachmat tak hanya bertugas merusak serangan lawan dan merebut bola, namun juga mengambil inisiatif serangan. Rachmat membuat Slamet kerepotan hingga membuat sang senior harus melakukan pelanggaran yang berbuah kartu kuning pada menit 31.

Padat dan ketatnya pertempuran di lini tengah membuat bola sulit memasuki kotak penalti. Hingga menit 34, masing-masing tim hanya mencetak satu tembakan akurat ke gawang lawan. Bahkan hingga babak pertama berakhir, Persebaya hanya memiliki dua tembakan akurat dan Madura United hanya satu. Sementara pelangggaran terakumulasi 21 kali.

Peluang untuk mencetak gol sebenarnya terbuka lebar bagi Persebaya melalui skema bola mati di dekat kotak penalti. Namun Damian Lizio tak pernah sukses memberikan operan matang kepada Amido Balde yang menanti bola-bola udara untuk ditanduk. Jarangnya Balde memperoleh peluang dari bola atas menunjukkan kegagalan Persebaya memanfaatkan kelebihan postur tubuh pemain Afrika bertinggi hampir dua meter itu.

Damian Lizio juga kurang bisa membaca tempo kapan mengoper maupun menunda serangan. Kelincahannya memang merepotkan pertahanan lawan. Namun beberapa kali terjadi kesalahan mengoper yang berujung pada gagalnya skema serangan. Dia masih belum memiliki kemampuan telepatik dengan sesama kawannya di barisan depan.

Madura United justru bermain cerdik dengan memanfaatkan sayap dan kecepatan David Laly, saat dua sayap Persebaya cenderung pasif. Ruben Sanadi memilih disiplin menjaga area pertahanan berhadapan dengan Engelberd Sani. Begitu pula Novan Setia di sisi kanan. Lini tengah dan belakang Madura United cenderung rapat dan tidak memberikan ruang kosong untuk diterobos serangan mendadak ‘coming from behind’ dari lawan, sebagaimana yang biasa dilakukan pemain berkecepatan tinggi seperti Osvaldo Haay maupun Irfan Jaya.

Gol balasan Persebaya terjadi justru dari kesalahan pemain Madura United. Pemain Madura United sudah melancarkan serangan balik cepat setelah berhasil merebut bola dari Lizio yang berada di sisi kanan pertahanan mereka. Namun serangan dipatahkan di lapangan tengah dan bola kembali mengalir ke zona pertahanan Madura.

Misbakus Solikin yang mendekati kotak penalti mendapat bola dari Haay. Bola langsung diberikan kepada Irfan Jaya yang merangsek masuk ke sisi kanan kotak penalti pertahanan Madura. Dia melepaskan operan yang sebenarnya meleset dan nyaris keluar lapangan, jika saja Osvaldo tidak segera mengantisipasi dan mengoperkan bola kepada Balde sebelum melintasi garis tepi lapangan. Balde menghajarkan bola ke dalam gawang M. Ridho. Skor berubah 1-1 pada menit 42.

Idiom ‘hasil akhir ditentukan kesalahan-kesalahan kecil’ benar-benar terjadi pada babak kedua. Gol Beto Goncalves untuk Madura United pada menit 67 dan Irfan Jaya pada menit 80 sama-sama berasal dari titik putih penalti. Wasit Oki Dwi Putra Sanjaya memberikan hadiah tendangan 12 pas kepada Madura United setelah bola tendangan David Laly mengenai tangan Oktafianus Fernando di dalam kotak penalti. Sementara penalti untuk Persebaya terjadi karena bola mengenai tangan Andik Rendika Rama. Kali ini bola berasal dari tendangan Oktafianus Fernando.

Sepuluh menit terakhir, Persebaya benar-benar menggempur habis pertahanan Madura. Gol Irfan Jaya seperti menjadi bahan bakar mesin serangan tim. Peluang terbaik terjadi pada menit 90+1. Bola umpan silang Irfan Jaya dari sayap kiri dilahap dengan tandukan oleh Manu Jalilov. Namun bola tepat meluncur ke arah kiper Ridho.

Salah seorang kawan saya, Erik Wicaksono, pernah menyatakan bahwa Gelora Bung Tomo angker. “Yang mengharukan itu saat lihat suporter kesurupan di tribun. Ternyata GBT akeh setane. Opo maneh nek Persebaya kalah, setane mudal metu kabeh, ngamuk-ngamuk,” katanya, dilansir Jawa Pos edisi 7 Agustus 2019.

Ada ironi di sini: keharuan melihat Persebaya menang di kandang sendiri tergantikan dengan keharuan melihat penonton kesurupan. Saya sendiri tidak tahu, bagaimana menyaksikan seseorang yang kemasukan makhluk halus bisa bikin terharu. Banyaknya makhluk halus di GBT jelas tak berkorelasi dengan keangkeran Persebaya di hadapan lawan.

Namun lupakan dulu urusan makhluk halus di GBT. Pertanyaan terpenting saat ini tentu saja: setelah Djajang Nurjaman dipecat, mampukah GBT menjadi kandang yang benar-benar angker bagi lawan-lawan Persebaya dan tak hanya bagi penonton yang kesurupan. Catatan statistik kompetisi Liga 1 menunjukkan, selama melatih Persebaya, Djajang sudah melakoni 16 laga kandang pada musim 2018 dan 2019. Dia berhasil membukukan sembilan kemenangan, lima hasil imbang, dan dua kekalahan.

Dengan catatan kemenangan di kandang mencapai 56,25 persen, ia lebih baik daripada Alfredo Vera yang mencatatkan persentase kemenangan kandang 50 persen dalam kompetisi Liga 1 2018.

Di bawah asuhan Djajang, Persebaya bahkan tak pernah tertaklukkan di kandang sejak medio Oktober 2018. Kekalahan terakhir mereka dalam kompetisi Liga 1 terjadi pada 13 Oktober 2018 dengan skor 0-1 dari Borneo.

Setelah itu dalam 13 pertandingan Liga 1, Persebaya mencatatkan delapan kemenangan dan lima hasil seri di GBT. Mereka mencetak 27 gol dan hanya kebobolan sembilan gol. Dengan persentase kemenangan 61,53 persen, Persebaya meraup rata-rata poin 2,23.

Arema Malang masih mencatatkan diri sebagai tim yang tak pernah kalah di kandang terlama di Liga 1. Setelah kalah 0-2 dari Persipura di Kanjuruhan pada 16 Juli 2017, mereka tak terkalahkan dalam 27 pertandingan (16 menang, 11 imbang), dan baru kembali kalah pada 29 Juni 2019 dengan skor 1-2 dari PS Tira. Namun catatan persentase kemenangan Singo Edan selama masa ‘invincible’ itu masih kalah dari Persebaya: 59,26 persen. Begitu juga rata-rata poin yang diraih 2,18, masih kalah dari tim Bajul Ijo.

Djajang mewariskan catatan ‘invincible’ di GBT bagi Persebaya. Tidak sempurna memang, karena apalah arti ‘tak terkalahkan’ jika tak pernah meraih kemenangan. Sepakbola lebih menghargai sebuah kemenangan daripada sederet catatan pertandingan tanpa kekalahan. Sebuah kemenangan mengharuskan ikhtiar untuk merebut dan berani mengambil risiko ketimbang ‘sekadar tidak kalah’.

Pertanyaannya: siapa lagi yang bisa menyempurnakan warisan itu? Tak hanya membuat Persebaya sulit dikalahkan di kandang, tapi juga menjadikan GBT sebagai saksi kemenangan demi kemenangan? [wir]

Apa Reaksi Anda?

Komentar