Sorotan

Hal-hal yang Membuat Saya Heran pada Pendukung Prabowo

Ribut Wijoto.

Widi, teman saya, secara kekuatan ekonomi, bukan tergolong orang yang sangat mapan. Minggu ini dia sempat membuat saya terkejut. Dia memosting foto keikutsertaannya dalam Kampanye Akbar pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, di GBK Jakarta.

Saya memang tidak terlalu dekat dengan Widi. Ngobrol akrab pun jarang. Ketika bertemu, dia lebih banyak bicara tentang musik. Ya, dia menyukai musik, terutama musik metal. Dan saya selalu kagum dengan orang-orang yang memiliki apresiasi terhadap musik.

Maka ketika di grup whatsapp Widi mengunggah foto berbaju koko bertutup kepala putih, di lokasi stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, saya sangat terkejut. Juga heran. Apalagi dia memberi keterangan, sedikit pamer, bahwa dia berangkat atas kemauan sendiri, biaya sendiri. Termasuk tambahan keterangan, pada coblosan 17 April 2019 nanti, dia telah terdaftar sebagai saksi Prabowo – Sandi tanpa bayaran.

Saya benar-benar tidak menyangka orang seperti Widi rela berangkat ke Jakarta dan juga menjadi saksi atas biaya sendiri. Saya menduga-duga tentang alasan-alasan yang menggerakkan hati dan spirit Widi untuk melakukan tindakan itu.

Apakah sebegitu kuat keinginan Widi untuk memperjuangkan agar Prabowo menjadi Presiden Indonesia? Jika itu memang benar, pertanyaan lain berkelebat di kepala saya, mengapa? Apa kepentingan besar dari orang seperti Widi terhadap ketokohan Prabowo?

Dalam grup WA sempat ada yang mempertanyakan kelebihan-kelebihan Prabowo. Widi tidak menjawab secara gamblang. Widi justru balik bertanya, apa kelebihan dari Joko Widodo (Jokowi)?

Pertanyaan yang segera dijawab sendiri oleh Widi. Dia paparkan beberapa janji kampanye Jokowi pada pencalonan di Pilpres 2014. Janji-janji yang menurutnya gagal ditepati Jokowi. Sampai Widi berkesimpulan, Jokowi ingkar janji.

Tetapi, benarkah kritik dia terhadap kepemimpinan Jokowi sanggup menggerakkan dia untuk berangkat ke Jakarta atas biaya sendiri? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Saya tidak terlalu yakin tentang hal itu.

Saya lebih percaya, ada dorongan lain yang bersifat irasional, spiritual, bahkan mungkin transendensi (hubungan manusia dengan penciptanya). Agama. Keinginan untuk mendiami surga Allah yang sanggup membuat orang-orang bertindak di luar nalar. Rela berkorban.

Tidak hanya Widi. Dalam beberapa tahun terakhir, di Indonesia, banyak orang seperti Widi. Lihatlah aksi bertitel ‘Bela Islam’ tanggal 2 Desember 2016 atau populer dijuluki ‘Aksi 212’. Jutaan orang (informasi penyelenggara) dari berbagai penjuru tanah air berkumpul di halaman Monumen Nasional Jakarta. Pekik Allahu Akbar bersahut-sahutan.

Lihat pula betapa heroik pembacaan puisi Neno Warisman saat Munajat 212 di Monas, Kamis (21/2/2019). Puisi yang memicu beragam tanggapan. Pro dan kontra. “Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami, dan menangkan kami. Karena jika Engkau tidak menangkan. Kami khawatir ya Allah. Kami khawatir ya Allah. Tak ada lagi yang menyembah-Mu,” begitu Neno mendeklamasikan puisinya.

Menengok kembali sejarah. Perjuangan agar kepentingan umat Islam terakomodasi dalam Dasar Negara telah ada sejak Indonesia belum merdeka. Perjuangan yang memicu perdebatan. Sebab, satu pihak merasa kepentingan umat Islam belum sepenuhnya terakomodasi. Sedangkan pihak yang lain, mereka meyakini kepentingan umat Islam telah secara mutlak terpenuhi. Perdebatan yang lantas tertutup oleh desakan waktu. Indonesia harus secepatnya merdeka.

Sejarah mencatat, pencoretan 7 kata dalam Piagam Jakarta menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI bersifat sementara. Ada klausul, bahwa, pencoretan itu bakal dibahas lagi pada tahun-tahun setelahnya.

Dan memang benar-benar dibahas. Pembahasan paling alot terjadi saat sidang Konstituante. Para wakil rakyat yang terpilih melalui Pemilu tahun 1955 berdebat keras tentang dasar negara yang cocok bagi Indonesia.

Maka, Badan Konstituante mengundang pakar filsafat, pakar hukum, pakar agama. Termasuk pula budayawan dan sastrawan. Para pakar itu diberi kesempatan untuk memaparkan pandangan sesuai kapasitas keilmuan masing-masing.

Setelah melalui derasnya adu argumen dan persilangan beragam apologi, hasilnya jalan buntu.

Keinginan mempertahankan negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan keinginan mengubah menjadi dasar negara Islam nyaris sama kuat. Titik temu tidak bisa dicari. Maka sesuai prosedur, ditempuhlah voting alias pemungutan suara.

Hasil voting juga tidak menggembirakan. Pendukung dasar negara Pancasila hanya unggul tipis dibanding pendukung dasar negara Islam. Kuorum tidak tercapai. Keputusan tidak bisa digedok.

Lobi-lobi di kalangan para politisi dilakukan. Voting kembali digelar. Dan setelah tiga kali voting dengan hasil yang nyaris tidak berubah, para anggota Badan Konstituante mulai putus asa. Sebagian besar dari mereka memilih tidak lagi mendatangi sidang.

Sementara di luar gedung Konstituante, situasi politik kian memanas. Demo meluas di mana-mana. Perekonomian rakyat anjlok. Maka, Presiden Soekarno mengambil tindakan dengan mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Presiden Soekarno mengeluarkan kebijakan untuk membubarkan Badan Konstituante. Mengembalikan dasar negara Pancasila dan UUD 1945.

Kebijakan Soekarno itu diperkuat oleh pemerintahan-pemerintahan setelahnya (Orde Baru hingga Reformasi). Dan kini muncul semboyan, ‘NKRI Harga Mati’. Seluruh partai politik dan organisasi masyarakat (ormas) wajib berazaskan Pancasila.

Dari serentetan sejarah itu, muncul pertanyaan aktual dan kontekstual. Apakah Prabowo – Sandi akan mengubah Dasar Negara Indonesia?

Di tengah lautan pendukung Prabowo dalam Kampanye Akbar, di mana Widi datang atas biaya sendiri, mantan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-Ulama), Ustaz Bachtiar Nasir, memberi kepastian jawaban. “Sepakat jaga NKRI, sepakat jaga Pancasila, sepakat jaga UU 1945, Allahuakbar,” seru Bachtiar Nasir.

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional ( BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak bahkan menilai, Prabowo merupakan mantan prajurit TNI yang sudah bersumpah untuk merawat Pancasila. Menurut Dahnil, Pancasila sudah dianggap Prabowo sebagai bagian dari nyawanya di medan perang.

Fakta-fakta itu semakin membuat saya heran. Apa sebenarnya yang menggerakkan Widi dan orang-orang itu untuk rela berkorban demi mendukung Prabowo Subianto?

Ah, mungkin, saya baru akan menemukan jawaban serta menyadari alasan-alasan itu jika saya membaur atau turut menjadi bagian dari mereka. Mungkin, passion atau gelora spiritual hanya bisa dirasakan oleh orang yang terlibat. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar