Sorotan

Gelar Pertama dari Karanggayam

Gelar resmi pertama yang diperoleh Persebaya sejak bangkit dari masa pengasingan PSSI justru berasal dari yunior. Persebaya U17 yang dilatih Seger Sutrisno berhasil mengangkat trofi Piala Suratin 2018, setelah mengalahkan Persipan Pandeglang 2-0, di Stadion Soeprijadi, Kota Blitar, Sabtu (9/2/2019). Dua gol dicetak Dicky Kurniawan Arifin pada menit 17 dan Akbar Firmansyah pada menit 32.

Dicky akhirnya dinobatkan menjadi pemain terbaik. Sementara Taufik Hidayat yang mencetak delapan gol memimpin daftar pencetak gol terbanyak. Ini trofi Piala Suratin pertama setelah terakhir kali dimenangkan pada 2001. Ribuan Bonek menyambut kepulangan tim di Surabaya dengan konvoi sejak Jalan Ahmad Yani hingga Wisma Eri Irianto di Karanggayam.

Penantian gelar juara ini sebenarnya terhitung ganjil untuk sebuah kota yang memiliki kompetisi sepak bola internal yang rapi dan teratur. Alumnus kompetisi internal Surabaya selalu menyumbangkan pemain-pemain, bukan saja untuk Persebaya, tapi juga tim nasional dan klub-klub lain di Indonesia. Selama puluhan tahun, Persebaya menjadi contoh bagus bagaimana sebuah kompetisi internal diputar di Lapangan Karanggayam, yang terletak di sebelah Stadion Gelora 10 Nopember. Namun gelar juara tingkat yunior jarang diboyong ke lemari trofi. Jumlah kombinasi gelar juara perserikatan dan Liga Indonesia melebihi jumlah trofi Piala Suratin: enam berbanding tiga.

Kompetisi internal selalu menjadi sumber utama skuat Persebaya senior. Sebanyak 12 pemain dalam skuat Persebaya untuk kompetisi Liga 1 Tahun 2018 berasal dari klub internal. Tak banyak klub di Indonesia, bahkan eks Perserikatan, yang disuplai secara rutin oleh produk kompetisi internal seperti Persebaya. Bahkan saat Persebaya diasingkan oleh PSSI, kompetisi internal tetap berjalan kendati ada perpecahan. Sebagian klub internal memilih berpihak kepada Persebaya versi PSSI, sementara sebagian besar lainnya memilih bertahan bersama PT Persebaya Indonesia.

Kompetisi internal adalah sesuatu yang khas Indonesia. Jika mengacu sepak bola di Eropa dan Amerika Latin, sebuah klub memiliki akademi yang membina pemain secara berjenjang berdasarkan kelompok usia. Produk akademi ini yang kemudian diharapkan menjadi penyuplai tim utama. Football Association di Inggris mensyaratkan setiap klub yang berkompetisi di semua level piramida liga harus memasukkan pemain binaan akademi atau home grown player dalam tim senior.

Tak jarang klub mengincar pemain akademi klub lain saat masih belum memasuki usia profesional. Raheem Sterling diambil Liverpool dari Queens Park Ranger saat masih berusia 15 tahun. Barcelona rajin memunguti pemain-pemain usia belasan tahun dari berbagai penjuru dunia untuk dididik di La Masia. Lionel Messi adalah salah satunya.

Klub-klub eks perserikatan di Indonesia tak mengenal pembinaan dalam bentuk akademi sepak bola. Semua berawal dari sejarah terbentuknya klub-klub sepak bola pada masa kolonial. Persatuan Sepak Bola Surabaya, Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung, Persatuan Sepak Bola Indonesia Semarang, dan seterusnya pada dasarnya adalah semacam federasi bagi klub-klub amatir milik pribumi di kota masing-masing. Klub-klub itu merasa perlu berserikat untuk menghadapi diskriminasi dari pemerintah kolonial Belanda yang lebih mengutamakan pemain dan klub bentukan orang-orang Belanda.

Klub-klub federasi kota ini yang kemudian berkumpul mendirikan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 1930. PSSI memutar kompetisi antarkota, dan klub-klub perwakilan yang menjadi peserta mendapatkan suplai pemain dari klub-klub amatir di kota masing-masing. Di situlah kemudian berkembang model piramida kompetisi yang khas Indonesia. Perserikatan sebagai kompetisi antarkota memiliki piramida sendiri, namun di kota masing-masing ada kompetisi antarklub amatir yang dikelola klub-klub federasi kota.

PSSI sendiri pernah memutar kompetisi untuk klub-klub amatir ini. Nama-nama seperti Harimau Tapanuli, UNI Bandung, maupun Suryanaga Surabaya adalah deretan klub yang dihormati. Tahun 1988, Surabaya pernah meraih treble winner: Persebaya menjadi juara Perserikatan, Niac Mitra juara Galatama, dan Suryanaga menjadi juara antarklub amatir.

Sebelum PSSI menginstruksikan setiap klub profesional dalam Liga Indonesia memiliki badan hukum pada 2008, klub-klub eks perserikatan dianggap satu tubuh dengan PSSI. Mereka bersifat amatir dan memiliki ketua umum yang dipilih klub-klub amatir anggota federasi kota. Ketua umum klub eks perserikatan secara otomatis adalah ketua PSSI tingkat kota atau kabupaten.

Keharusan setiap klub peserta liga profesional memiliki badan hukum pada akhirnya memisahkan klub-klub eks perserikatan dengan PSSI tingkat kabupaten dan kota. PSSI tingkat kabupaten dan kota berubah nama menjadi Asosiasi Sepak Bola Kabupaten (Askab) atau Asosiasi Sepak Bola Kota (Askot). Kompetisi internal klub-klub amatir kota dikelola oleh askab maupun askot.

Tak semua transformasi klub-klub eks perserikatan yang amatir menjadi profesional yang berbadan hukum berlangsung mulus. Di luar dualisme yang berujung munculnya klub kloningan, Persebaya adalah salah satu klub eks perserikatan yang terhitung mulus dalam urusan transformasi ini. Ini tak lepas dari diikutsertakannya klub-klub amatir anggota kompetisi internal menjadi pemilik saham di PT Persebaya Indonesia melalui sebuah koperasi. Klub-klub ini secara finansial tidak memberikan modal uang sebagaimana layaknya sebuah kepemilikan saham. Namun mereka menjadi bagian penting sebagai penanda historis bahwa Persebaya profesional adalah kelanjutan Persebaya yang berdiri sebelum era kemerdekaan. Dalam konteks kesejarahan, tak ada diskontinuitas.

Karanggayam adalah tetenger relasi Persebaya dan klub-klub amatir yang terentang selama puluhan tahun. Setelah kepemilikan Persebaya dikuasai Azrul Ananda, praktis Karanggayam tak lagi menjadi opsi utama sebagai rumah. Tim profesional Persebaya lebih suka berlatih di Sidoarjo maupun lapangan milik Kepolisian Daerah Jawa Timur. Sebagian Bonek menginginkan agar Persebaya sesekali kembali ke Karanggayam untuk mengingatkan kepada para pemain: untuk siapa mereka bermain.

Gelar resmi pertama Persebaya setelah masa pengasingan yang justru berasal dari kelompok yunior sebenarnya pengingat bagi siapapun, bahwa kompetisi internal Surabaya masih yang terbaik. Tim U17 adalah masa depan Persebaya. Alex Ferguson membangun pondasi kejayaan Manchester United dari anak-anak muda binaan akademi yang dikenal sebagai Class of 92. Liverpool memborong gelar Piala FA, Piala Liga, Piala UEFA, Piala Champions, hingga Super Eropa pada rentang 2000-2006 dengan menjadikan anak-anak akademi yang dikenal dengan julukan Spice Boys sebagai andalan. Tentu saja Barcelona di bawah Pep Guardiola mendominasi Eropa bersama alumnus La Masia.

Dalam konteks pembinaan, maka rutin menjadi juara Piala Suratin dari tahun ke tahun adalah keniscayaan. Tentu saja, Persebaya harus menjadi juara dengan jujur, tanpa ada kecurangan klasik seperti pencurian umur. Keteraturan kompetisi internal hendaknya diikuti dengan pembentukan tim pemandu bakat (talent scout) yang kuat. Tim ini bukan hanya mengandalkan intuisi, namun juga bank statistik pemain-pemain muda setiap klub peserta. Tak ada yang terlampau mahal untuk ikhtiar ini, karena sesungguhnya sebuah kompetisi internal yang teratur dan sehat hari ini lebih berharga daripada sebuah akademi modern. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar